• Kamis, 12 Februari 2026

Baru Selesai Dikerjakan, Proyek Irigasi 37,7 Miliar Milik BBWSMS Sudah Retak

Kamis, 12 Februari 2026 - 08.24 WIB
30

Tampak beberapa kerusakan di Proyek Irigasi milik BBWS di Pekon (Desa) Srimulyo, Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS), Lampung Barat. Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Proyek pembangunan jaringan irigasi senilai Rp37.770.101.008 milik Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS) di Pekon (Desa) Srimulyo, Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS), Lampung Barat, menuai sorotan masyarakat. Pasalnya, proyek yang baru rampung dikerjakan tersebut dilaporkan sudah mengalami keretakan di sejumlah titik.

Proyek irigasi itu merupakan bagian dari Rehabilitasi Jaringan Utama Daerah Irigasi (DI) kewenangan Provinsi Lampung Paket II dalam Program Irigasi dan Rawa III. Pekerjaan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 dengan masa pelaksanaan selama 101 hari kalender, terhitung sejak 22 September hingga 31 Desember 2025.

Pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero), sementara pengawasan proyek berada di bawah tanggung jawab PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) sebagai konsultan supervisi, dengan koordinasi BBWS Mesuji Sekampung di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR.

Masyarakat Pekon Srimulyo mempertanyakan kualitas pembangunan proyek irigasi yang seharusnya menjadi penopang utama sektor pertanian tersebut. Kondisi fisik bangunan dinilai tidak sebanding dengan besaran anggaran yang digelontorkan negara.

Padahal, proyek irigasi tersebut baru selesai dikerjakan dan belum difungsikan secara maksimal. Namun, di sejumlah titik bangunan sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap daya tahan dan kualitas jangka panjang infrastruktur tersebut.

Berdasarkan pantauan Kupas Tuntas di lapangan, kondisi fisik bangunan irigasi tampak jauh dari harapan. Kerusakan paling mencolok terlihat pada bagian struktur drainase yang seharusnya berfungsi menjaga kelancaran aliran dan ketahanan saluran irigasi.

Di beberapa titik, dinding dan lantai saluran irigasi terlihat mengalami keretakan yang cukup jelas. Retakan tersebut tidak hanya ditemukan di satu lokasi, tetapi tersebar di sejumlah bagian, yang mengindikasikan adanya persoalan pada mutu pekerjaan konstruksi.

Selain itu, pasangan batu pada bagian drainase terlihat tidak rapi dan tidak tersusun dengan baik. Bahkan, di beberapa bagian pasangan batu tersebut tampak mulai terkelupas dan mengalami kerusakan, meskipun usia bangunan masih tergolong sangat baru.

Kondisi tersebut dinilai janggal oleh warga, mengingat proyek irigasi itu belum lama rampung dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kerusakan dini ini dianggap sebagai indikasi lemahnya kualitas pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Warga juga menemukan kondisi lain yang dinilai lebih memprihatinkan. Di beberapa titik saluran irigasi, tidak ditemukan konstruksi pasangan batu dan semen sebagaimana mestinya, melainkan hanya menggunakan material terpal sebagai pelapis dasar saluran.

Penggunaan material terpal tanpa konstruksi permanen tersebut menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Warga mempertanyakan apakah metode tersebut memang sesuai dengan spesifikasi teknis proyek atau justru menjadi bentuk penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan.

“Kalau memang dari awal desainnya seperti ini, tentu harus dijelaskan ke masyarakat. Tapi kalau ini akibat pekerjaan yang asal-asalan, kami jelas kecewa,” ujar seorang warga Pekon Srimulyo yang meminta identitasnya tidak dituliskan kepada Kupas Tuntas, Selasa (10/2/2026).

Menurut warga tersebut, saluran irigasi bukan sekadar proyek fisik, melainkan infrastruktur vital yang sangat menentukan keberlangsungan sektor pertanian dan mata pencaharian masyarakat setempat.

Ia menilai, kerusakan yang muncul dalam waktu singkat mencerminkan rendahnya mutu pekerjaan, sekaligus memunculkan dugaan lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.

“Baru dibangun saja sudah rusak. Kami khawatir nanti kalau sudah berfungsi dan dipakai, kerusakannya akan lebih parah dan justru merugikan petani,” ujarnya.

Warga lainnya juga mempertanyakan peran pengawasan proyek yang seharusnya memastikan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi teknis dan kontrak kerja yang telah ditetapkan.

Hingga kini, panjang pasti jaringan irigasi tersebut belum diketahui secara jelas oleh masyarakat. Namun, informasi yang beredar menyebutkan jaringan irigasi tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 7 hingga 9 kilometer dan melintasi beberapa pekon di wilayah Kecamatan Suoh.

Dengan cakupan wilayah yang cukup luas, masyarakat berharap pembangunan irigasi tersebut benar-benar memberikan manfaat jangka panjang, bukan justru menimbulkan persoalan baru akibat kualitas pekerjaan yang dinilai asal-asalan.

Warga mendesak pihak pelaksana proyek untuk turun langsung ke lapangan guna melihat kondisi riil bangunan irigasi yang kini menjadi sorotan publik. Selain itu, masyarakat juga meminta adanya penjelasan secara terbuka dan transparan terkait spesifikasi teknis pembangunan, termasuk jenis material dan metode konstruksi yang digunakan.

Masyarakat berharap pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak mengabaikan keluhan ini, serta memastikan proyek irigasi bernilai puluhan miliar rupiah tersebut dibangun sesuai standar kualitas, spesifikasi teknis, dan tanggung jawab penggunaan anggaran negara agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Sementara itu, Humas BBWS Mesuji Sekampung, Yanti, saat dihubungi Kupas Tuntas melalui pesan WhatsApp, belum memberikan tanggapan. (*)

Berita ini telah terbit di SKH Kupas Tuntas edisi Kamis 12 Februari 2026 dengan judul “Baru Selesai Dikerjakan, Proyek Irigasi 37,7 Miliar Milik BBWSMS Sudah Retak”