Baru Selesai Dikerjakan, Proyek Irigasi 37,7 Miliar Milik BBWSMS Sudah Retak
Tampak beberapa kerusakan di Proyek Irigasi milik BBWS di Pekon (Desa) Srimulyo, Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS), Lampung Barat. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co,
Lampung Barat - Proyek pembangunan jaringan irigasi senilai Rp37.770.101.008
milik Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS) di Pekon (Desa)
Srimulyo, Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS), Lampung Barat, menuai sorotan
masyarakat. Pasalnya, proyek yang baru rampung dikerjakan tersebut dilaporkan
sudah mengalami keretakan di sejumlah titik.
Proyek
irigasi itu merupakan bagian dari Rehabilitasi Jaringan Utama Daerah Irigasi
(DI) kewenangan Provinsi Lampung Paket II dalam Program Irigasi dan Rawa III.
Pekerjaan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun
Anggaran 2025 dengan masa pelaksanaan selama 101 hari kalender, terhitung sejak
22 September hingga 31 Desember 2025.
Pekerjaan
konstruksi dilaksanakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero), sementara
pengawasan proyek berada di bawah tanggung jawab PT Agrinas Pangan Nusantara
(Persero) sebagai konsultan supervisi, dengan koordinasi BBWS Mesuji Sekampung
di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR.
Masyarakat
Pekon Srimulyo mempertanyakan kualitas pembangunan proyek irigasi yang
seharusnya menjadi penopang utama sektor pertanian tersebut. Kondisi fisik
bangunan dinilai tidak sebanding dengan besaran anggaran yang digelontorkan
negara.
Padahal,
proyek irigasi tersebut baru selesai dikerjakan dan belum difungsikan secara
maksimal. Namun, di sejumlah titik bangunan sudah menunjukkan tanda-tanda
kerusakan yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap daya tahan dan kualitas
jangka panjang infrastruktur tersebut.
Berdasarkan
pantauan Kupas Tuntas di lapangan, kondisi fisik bangunan irigasi tampak jauh
dari harapan. Kerusakan paling mencolok terlihat pada bagian struktur drainase
yang seharusnya berfungsi menjaga kelancaran aliran dan ketahanan saluran
irigasi.
Di
beberapa titik, dinding dan lantai saluran irigasi terlihat mengalami keretakan
yang cukup jelas. Retakan tersebut tidak hanya ditemukan di satu lokasi, tetapi
tersebar di sejumlah bagian, yang mengindikasikan adanya persoalan pada mutu
pekerjaan konstruksi.
Selain
itu, pasangan batu pada bagian drainase terlihat tidak rapi dan tidak tersusun
dengan baik. Bahkan, di beberapa bagian pasangan batu tersebut tampak mulai
terkelupas dan mengalami kerusakan, meskipun usia bangunan masih tergolong
sangat baru.
Kondisi
tersebut dinilai janggal oleh warga, mengingat proyek irigasi itu belum lama
rampung dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kerusakan dini ini dianggap
sebagai indikasi lemahnya kualitas pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Warga
juga menemukan kondisi lain yang dinilai lebih memprihatinkan. Di beberapa
titik saluran irigasi, tidak ditemukan konstruksi pasangan batu dan semen
sebagaimana mestinya, melainkan hanya menggunakan material terpal sebagai
pelapis dasar saluran.
Penggunaan
material terpal tanpa konstruksi permanen tersebut menimbulkan tanda tanya di
tengah masyarakat. Warga mempertanyakan apakah metode tersebut memang sesuai
dengan spesifikasi teknis proyek atau justru menjadi bentuk penyimpangan dalam
pelaksanaan pekerjaan.
“Kalau
memang dari awal desainnya seperti ini, tentu harus dijelaskan ke masyarakat.
Tapi kalau ini akibat pekerjaan yang asal-asalan, kami jelas kecewa,” ujar
seorang warga Pekon Srimulyo yang meminta identitasnya tidak dituliskan kepada
Kupas Tuntas, Selasa (10/2/2026).
Menurut
warga tersebut, saluran irigasi bukan sekadar proyek fisik, melainkan
infrastruktur vital yang sangat menentukan keberlangsungan sektor pertanian dan
mata pencaharian masyarakat setempat.
Ia
menilai, kerusakan yang muncul dalam waktu singkat mencerminkan rendahnya mutu
pekerjaan, sekaligus memunculkan dugaan lemahnya pengawasan terhadap
pelaksanaan proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.
“Baru
dibangun saja sudah rusak. Kami khawatir nanti kalau sudah berfungsi dan
dipakai, kerusakannya akan lebih parah dan justru merugikan petani,” ujarnya.
Warga
lainnya juga mempertanyakan peran pengawasan proyek yang seharusnya memastikan
seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi teknis dan kontrak kerja
yang telah ditetapkan.
Hingga
kini, panjang pasti jaringan irigasi tersebut belum diketahui secara jelas oleh
masyarakat. Namun, informasi yang beredar menyebutkan jaringan irigasi tersebut
diperkirakan memiliki panjang sekitar 7 hingga 9 kilometer dan melintasi
beberapa pekon di wilayah Kecamatan Suoh.
Dengan
cakupan wilayah yang cukup luas, masyarakat berharap pembangunan irigasi
tersebut benar-benar memberikan manfaat jangka panjang, bukan justru
menimbulkan persoalan baru akibat kualitas pekerjaan yang dinilai asal-asalan.
Warga
mendesak pihak pelaksana proyek untuk turun langsung ke lapangan guna melihat
kondisi riil bangunan irigasi yang kini menjadi sorotan publik. Selain itu,
masyarakat juga meminta adanya penjelasan secara terbuka dan transparan terkait
spesifikasi teknis pembangunan, termasuk jenis material dan metode konstruksi
yang digunakan.
Masyarakat
berharap pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak mengabaikan keluhan ini,
serta memastikan proyek irigasi bernilai puluhan miliar rupiah tersebut
dibangun sesuai standar kualitas, spesifikasi teknis, dan tanggung jawab
penggunaan anggaran negara agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh
masyarakat.
Sementara
itu, Humas BBWS Mesuji Sekampung, Yanti, saat dihubungi Kupas Tuntas melalui
pesan WhatsApp, belum memberikan tanggapan. (*)
Berita
ini telah terbit di SKH Kupas Tuntas edisi Kamis 12 Februari 2026 dengan judul “Baru Selesai Dikerjakan,
Proyek Irigasi 37,7 Miliar Milik BBWSMS Sudah Retak”
Berita Lainnya
-
Kemenag Usulkan 630.000 Formasi PPPK untuk Guru Madrasah Swasta
Kamis, 12 Februari 2026 -
Toyota Lampung Gelar Media Gathering dan Customer Invitation, Resmi Perkenalkan New Veloz Hybrid
Kamis, 12 Februari 2026 -
Wamentan Sudaryono Lepas Bantuan HKTI Rp1 Miliar untuk Pemalang dan Bandung Barat
Kamis, 12 Februari 2026 -
55 Tahun Toyota Ada untuk Indonesia: Toyota Luncurkan Berbagai Lini Hybrid EV Terbaru yang Semakin Terjangkau di IIMS 2026
Rabu, 11 Februari 2026









