• Kamis, 12 Februari 2026

Rawan Bencana, Lampung Barat Perkuat Kewaspadaan Dini Lewat Kekuhan

Kamis, 12 Februari 2026 - 11.34 WIB
28

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus saat foto bersama para pelajar dan tamu undangan saat meluncurkan kekuhan sebagai sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal, Kamis (12/2/2026). Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Pemerintah Kabupaten Lampung Barat resmi meluncurkan Kekuhan (kentongan bambu) sebagai sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal, Kamis (12/2/2026).Program ini diharapkan menjadi solusi komunikasi darurat di tengah kerawanan bencana yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

Peluncuran Kekuhan berlangsung di SMP Negeri 1 Liwa, Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit. Peresmian ditandai dengan pemukulan kentongan bambu oleh Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, yang diikuti seluruh tamu undangan.

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, mengatakan bahwa Lampung Barat merupakan daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Ancaman itu tidak hanya terbatas pada bencana alam, tetapi juga mencakup potensi gangguan keamanan dan kriminalitas.

Menurut Parosil, peluncuran Kekuhan merupakan upaya menghadirkan sistem kewaspadaan dini yang sederhana, mudah dipahami, serta dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa bergantung pada teknologi modern.

Ia menilai, kentongan sebagai alat komunikasi tradisional masih relevan dan efektif, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan jaringan telekomunikasi maupun akses internet.

Parosil berharap, Kekuhan tidak hanya dimanfaatkan sebagai alat peringatan bencana, tetapi juga sebagai sarana penyampaian informasi positif kepada masyarakat, seperti ajakan gotong royong, kerja bakti, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

"Setelah peluncuran ini, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat menargetkan implementasi program Kekuhan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),"  kata Parosil saat diwawancara usai kegiatan.

Parosil menegaskan kedua instansi tersebut akan berperan memberikan edukasi kepada peserta didik terkait mitigasi bencana dan pemahaman sistem peringatan dini berbasis kentongan bambu.

Parosil menekankan bahwa pendidikan dipilih sebagai titik awal karena anak-anak perlu dibekali pengetahuan sejak dini tentang kondisi geografis Lampung Barat yang rawan bencana alam.

Ia menyebutkan, program ini merupakan bagian dari komitmen Lampung Barat sebagai kabupaten tangguh bencana yang pelaksanaannya akan menyentuh hingga tingkat pekon atau desa.

Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak, mulai dari orang tua, aparatur pekon, hingga masyarakat luas.

Parosil juga menyoroti keterbatasan sistem komunikasi modern yang kerap terkendala jaringan, kuota internet, hingga kerusakan perangkat, sehingga keberadaan kentongan dinilai dapat menjadi solusi alternatif yang andal.

Selain itu, Kekuhan juga diharapkan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk untuk menyampaikan informasi sosial dan keagamaan, terutama menjelang bulan Ramadan.

Sementara itu, Kepala BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, menjelaskan bahwa Kekuhan memiliki tujuh pola ketukan yang berfungsi sebagai media komunikasi sekaligus peringatan dini bagi masyarakat.

Pola pertama berupa tiga ketukan pendek yang menandakan adanya warga meninggal dunia di suatu wilayah.

Pola kedua terdiri dari dua ketukan pendek yang diulang sebanyak tiga kali sebagai tanda terjadinya kemalingan atau gangguan keamanan.

Pola ketiga adalah tiga ketukan pendek yang dilakukan tiga kali berturut-turut untuk memberi informasi terjadinya kebakaran rumah. Pola keempat berupa empat ketukan pendek yang diulang tiga kali sebagai tanda bahaya bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan kejadian serupa.

"Selain itu, terdapat lima ketukan pendek sebagai tanda kebalikan ternak, pola gotong royong dan kondisi aman dengan satu ketukan pendek, dilanjutkan sepuluh ketukan panjang, lalu ditutup satu ketukan pendek," kata dia.

Adapun pola terakhir berupa ketukan panjang yang dilakukan berulang kali sebagai peringatan bahwa telah terjadi kondisi darurat atau bahaya yang membutuhkan kewaspadaan seluruh masyarakat. (*)