• Minggu, 22 Februari 2026

Diduga Dampak Proyek Revitalisasi, Destinasi Wisata Danau Asam Suoh Terancam Kering

Minggu, 22 Februari 2026 - 10.29 WIB
19

Beginilah kondisi air danau asam yang mengalami penyusutan akibat dampak dari proyek revitalisasi yang dilakukan pemerintah beberapa waktu lalu. Foto: Echa/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Penyusutan volume air Danau Asam, yang berada di Pekon (Desa) Sukamarga, Kecamatan Suoh, Lampung Barat, mulai menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak. Danau yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata unggulan itu kini mengalami perubahan kondisi yang cukup mencolok.

Pantauan Kupas Tuntas di lapangan menunjukkan, penurunan permukaan air terjadi cukup signifikan. Padahal, pada Desember 2025 lalu, air Danau Asam masih terlihat tinggi dan hampir menyentuh titian dermaga yang kerap menjadi spot favorit wisatawan.

Namun mondisi terkini memperlihatkan wajah danau yang jauh berbeda. Bebatuan yang sebelumnya terendam kini tampak jelas di permukaan, sementara pasir mulai muncul di bibir danau yang dahulu tak pernah terlihat.

Fenomena itu memunculkan dugaan kuat bahwa penyusutan air bukan semata faktor alam. Proyek revitalisasi yang digulirkan pemerintah pusat beberapa waktu lalu disinyalir menjadi pemicu utama berkurangnya volume air danau.

Danau Asam selama ini dikenal dengan pesona air berwarna hijau tosca yang memikat. Keindahan itu menjadi magnet wisata sekaligus simbol kebanggaan daerah, sehingga perubahan drastis ini memicu kekhawatiran akan hilangnya daya tarik utama danau.

Jika penyusutan terus berlanjut, dampaknya diperkirakan tidak hanya merusak estetika danau. Penurunan minat kunjungan wisatawan pun dikhawatirkan terjadi, yang pada akhirnya berimbas pada ekonomi masyarakat sekitar.

Di salah satu titik danau, terlihat jelas bekas proyek revitalisasi berupa tanggul yang dibuka. Dari celah tersebut, air danau tampak terus mengalir keluar tanpa hambatan berarti, kondisi tersebut sudah berlangsung lama.

Aliran air yang dibiarkan mengalir bebas ini memunculkan tanda tanya besar. Pasalnya, tidak terlihat adanya upaya maksimal untuk mengendalikan atau mengatur kembali debit air agar tetap bertahan di dalam danau.

Di sekitar lokasi, terpasang beberapa pasangan beronjong. Namun, keberadaan struktur tersebut dinilai tidak efektif karena tidak mampu menahan laju air yang terus meninggalkan danau asam kebanggaan warga setempat.

Alih-alih menjadi solusi, beronjong tersebut justru memperkuat dugaan bahwa proyek revitalisasi belum dirancang secara matang dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap danau.

Warga setempat mengungkapkan bahwa proyek revitalisasi itu dilakukan pada akhir tahun 2025. Sejak saat itulah, perubahan kondisi Danau Asam mulai dirasakan secara perlahan namun pasti oleh masyarakat.

 

“Sejak proyek itu dibuka, air danau mulai surut sedikit demi sedikit. Sekarang kelihatan sekali bedanya, jauh lebih rendah dari sebelumnya,” ujar seorang warga Suoh saat ditemui Kupas Tuntas di sekitar lokasi, Minggu (22/2/2026).

Menurut warga, dalam hitungan bulan saja, penyusutan air sudah tergolong parah. Mereka khawatir jika kondisi ini dibiarkan, Danau Asam yang selama ini menjadi ikon Bumi Sekala Bekhak hanya tinggal nama di masa mendatang.

“Kalau tidak segera ditangani, lama-lama bisa kering. Ini danau kebanggaan kami, sayang kalau rusak gara-gara proyek yang manfaatnya pun belum diketahui masyarakat secara pasti seperti apa," tegasnya.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Danau Asam bukan hanya objek wisata, tetapi juga bagian dari keseimbangan lingkungan dan identitas alam Kecamatan Suoh. Terlebih selama ini Danau Asam menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal ataupun luar daerah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kupas Tuntas, proyek revitalisasi tersebut bertujuan membuka lahan rawa di sekitar danau. Untuk itu, air danau sengaja dialirkan keluar guna mengeringkan area rawa tersebut.

Namun, kebijakan tersebut dinilai menyisakan persoalan serius. Pengeringan rawa dengan cara mengurangi volume air danau berpotensi mengorbankan kelestarian ekosistem yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Minimnya informasi terbuka mengenai kajian lingkungan proyek revitalisasi ini juga menjadi sorotan. Masyarakat mempertanyakan sejauh mana dampak lingkungan telah diperhitungkan sebelum proyek dijalankan.

Warga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi Danau Asam saat ini. Evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan, termasuk meninjau kembali pembukaan tanggul yang menyebabkan air terus terbuang.

Langkah cepat dan konkret sangat dibutuhkan agar penyusutan air tidak semakin parah. Tanpa penanganan serius, Danau Asam terancam kehilangan pesona, fungsi, dan statusnya sebagai destinasi wisata unggulan Lampung Barat.

Kasus penyusutan volume air pada Danau Asam menjadi pengingat bahwa pembangunan dan revitalisasi seharusnya berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian, agar tidak justru meninggalkan persoalan baru di kemudian hari. (*)