• Senin, 23 Februari 2026

Jalan Batu Brak–Suoh Rusak Parah, Aktivitas Ekonomi Warga Lampung Barat Ikut Tersendat

Senin, 23 Februari 2026 - 13.08 WIB
30

Beginilah kondisi jalan Provinsi Ruas Batu Brak-Suoh yang mengalami kerusakan cukup parah dan menghambat aktivitas masyarakat. Foto: Echa/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Kondisi jalan Provinsi Lintas Batu Brak–Suoh di Kabupaten Lampung Barat hingga kini masih memprihatinkan. Di sejumlah titik, ruas jalan utama tersebut mengalami kerusakan cukup parah dan belum tersentuh perbaikan menyeluruh.

Kerusakan jalan terlihat jelas di beberapa lokasi yang menghubungkan Kecamatan Batu Brak, Suoh, dan Bandar Negeri Suoh. Lubang-lubang besar menganga di badan jalan, sebagian bahkan menutup hampir seluruh jalur kendaraan.

Kondisi ini menyebabkan akses mobilitas warga menjadi terhambat, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada jalur tersebut. Jalan itu merupakan urat nadi utama bagi distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok warga.

Pantauan di lapangan menunjukkan, pengendara harus ekstra hati-hati saat melintasi ruas jalan tersebut. Kendaraan roda dua maupun roda empat terpaksa melaju pelan untuk menghindari lubang yang berpotensi membahayakan.

Tak jarang, pengendara yang belum hafal kontur jalan di sepanjang lintas Batu Brak–Suoh hampir mengalami kecelakaan. Lubang jalan yang tertutup genangan air kerap mengecoh pengendara, terutama saat malam hari atau hujan turun.

Salah seorang pengendara, Rudi (34), mengaku sering kali merasa waswas saat melintas di jalur tersebut. Menurutnya, kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan menjadi lebih lama dan berisiko terlebih saat malam hari.

“Kalau sudah malam atau hujan, lubangnya tidak kelihatan. Sudah sering hampir jatuh, apalagi yang baru pertama lewat sini,” ujar Rudi kepada Kupas Tuntas saat ditemui di lokasi, Senin (23/2/2026).

Hal senada disampaikan Asep warga Batu Brak, yang sehari-hari melintasi jalan tersebut untuk berdagang sayuran. Ia menyebut kerusakan jalan berdampak langsung pada pendapatannya. “Jalan rusak bikin ongkos naik, waktu tempuh lama," kata dia.

Selain kerusakan jalan, kondisi jembatan Sebatuan Balak di ruas lintas tersebut juga dinilai sangat mengkhawatirkan. Pada salah satu sisi jembatan terlihat longsoran tanah yang hampir memakan badan jalan.

Longsoran tersebut membuat lebar jalan semakin menyempit dan berpotensi membahayakan pengendara yang melintas. Terlebih, jembatan itu merupakan satu-satunya akses penghubung antarwilayah di kawasan tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, pihak terkait telah memasang garis polisi di sekitar lokasi longsoran. Pemasangan itu bertujuan agar pengendara lebih waspada saat melintas di area rawan tersebut.

Namun demikian, warga menilai pemasangan garis polisi hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan persoalan utama. Mereka khawatir longsoran akan semakin meluas jika tidak segera ditangani. “Kalau hujan deras, tanahnya makin turun. Kami takut suatu hari jalan ini benar-benar putus,” ungkap Andi (45), pengendara lain.

Warga menyebut, kerusakan jalan dan jembatan tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan signifikan. Kondisi itu dinilai mencerminkan kurangnya perhatian terhadap infrastruktur di wilayah tersebut.

Padahal, ruas jalan Provinsi Lintas Batu Brak–Suoh merupakan jalur utama masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, seperti kopi, sayuran, dan komoditas lainnya menuju pusat pasar.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, warga menilai dampaknya tidak hanya pada keselamatan, tetapi juga pada roda perekonomian masyarakat yang semakin terhambat.

Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi segera turun tangan untuk memperbaiki kerusakan jalan dan jembatan tersebut secara menyeluruh.

Warga juga membandingkan dengan sejumlah ruas jalan provinsi lain yang lebih dulu dibangun dan kini kondisinya jauh lebih baik. Mereka berharap perlakuan serupa bisa dirasakan di wilayah Batu Brak–Suoh. “Kami cuma ingin jalan yang layak, seperti daerah lain. Ini jalan utama, bukan jalan kebun,” kata seorang warga setempat.

Menurut warga, perbaikan tidak hanya sebatas tambal sulam, melainkan harus dilakukan secara permanen agar tidak cepat rusak kembali.

Hingga kini, masyarakat dan pengendara hanya bisa berharap adanya perhatian serius dari pemerintah agar akses utama tersebut kembali aman, nyaman, dan mampu menunjang aktivitas ekonomi warga secara berkelanjutan. (*)