• Senin, 23 Februari 2026

WALHI Desak Evaluasi Revitalisasi Danau Asam, Penyusutan Air Dinilai Mengkhawatirkan

Senin, 23 Februari 2026 - 15.08 WIB
10

Direktur Eksekutif WALHI Lampung, Irfan Tri Musri. Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat – Penyusutan volume air Danau Asam di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem dan destinasi wisata unggulan daerah.

Direktur Eksekutif WALHI Lampung, Irfan Tri Musri, menegaskan bahwa Danau Asam memiliki karakteristik berbeda dibandingkan danau pada umumnya. Air danau tersebut bersifat asam sehingga tidak dapat diperlakukan sama seperti danau air tawar biasa.

Menurutnya, pemanfaatan air Danau Asam secara langsung, khususnya untuk kepentingan pertanian, berisiko menimbulkan dampak lingkungan. Kandungan air yang asam berpotensi memengaruhi kualitas tanah serta produktivitas lahan di kawasan sekitar.

Selain memiliki fungsi ekologis, Danau Asam juga menjadi salah satu ikon wisata alam di Lampung Barat. Penyusutan air yang terus terjadi dinilai sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya.

Ia mengingatkan, apabila penurunan volume air berlangsung tanpa penanganan yang jelas, keberadaan Danau Asam terancam hilang. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menghapus salah satu kebanggaan masyarakat Suoh sekaligus merugikan sektor pariwisata daerah.

Irfan menjelaskan, secara global fenomena penyusutan debit air danau memang banyak terjadi akibat perubahan iklim yang meningkatkan tingkat penguapan air. Namun, ia menilai kondisi saat ini tidak sepenuhnya dipengaruhi faktor alam.

“Situasi sekarang bukan pada puncak musim kemarau. Seharusnya curah hujan masih cukup, sehingga perlu dicermati faktor lain yang berpotensi memengaruhi penurunan debit air,” kata Irfan, Senin (23/2/2026).

Salah satu faktor yang perlu dikaji, lanjutnya, adalah aktivitas pembangunan proyek di sekitar kawasan danau. Pengaliran air menuju wilayah hilir secara terus-menerus diduga turut berkontribusi terhadap berkurangnya volume air Danau Asam.

Ia mempertanyakan kondisi sumber-sumber air yang sebelumnya menjadi pemasok utama danau. Menurutnya, perlu dipastikan apakah sistem aliran air masih berfungsi normal setelah adanya proyek revitalisasi.

WALHI juga mendorong pemerintah membuka dokumen studi kelayakan dan analisis dampak lingkungan kepada publik. Transparansi dinilai penting untuk memastikan potensi risiko lingkungan telah diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

Irfan menilai berkurangnya volume air dapat mengubah bentang alam sekaligus keseimbangan ekosistem yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Dampaknya tidak hanya terhadap lanskap kawasan, tetapi juga mengancam keberlangsungan flora dan fauna yang bergantung pada ekosistem danau.

Meski tidak dimanfaatkan sebagai sumber air konsumsi, Danau Asam tetap memiliki fungsi penting sebagai kawasan resapan dan cadangan air alami. Jika kerusakan terus terjadi, dampaknya berpotensi meluas hingga memicu kekeringan di wilayah sekitar.

“Dampaknya tidak hanya pada pariwisata, tetapi juga pertanian dan kehidupan masyarakat. Kehilangan satu ekosistem danau adalah risiko lingkungan yang sangat besar,” ujarnya.

WALHI menegaskan pembangunan seharusnya tidak hanya berorientasi pada proyek fisik, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Evaluasi menyeluruh terhadap proyek revitalisasi dinilai menjadi langkah penting agar upaya pembangunan tidak justru merusak ekosistem Danau Asam sebagai warisan alam Lampung Barat. (*)