Heboh Paket MBG Minim di Metro, Satgas Sebut Terjadi Human Error
Ketua Satgas MBG Kota Metro, Wahyuningsih saat memberikan keterangan. Foto: Ist
Berdikari.co, Metro - Viral paket Makan Bergizi Gratis (MBG)
yang hanya berisi satu buah apel dan tiga butir telur puyuh di SD Negeri 2
Metro Timur akhirnya memantik klarifikasi resmi. Setelah menu yang dinilai
menciut itu ramai diperbincangkan di media sosial, Satgas MBG Kota Metro dan
perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah buka suara.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 24 Februari 2026, tampak
paket MBG diduga dari dapur SPPG Iringmulyo I hanya berisi apel dan tiga telur
puyuh tanpa menu tambahan lain. Padahal, berdasarkan petunjuk teknis (juknis),
menu hari tersebut seharusnya lebih lengkap. Publik pun mempertanyakan
kesesuaian distribusi dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
Ketua Satgas MBG Kota Metro, Wahyuningsih, membenarkan bahwa
pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG
Kota Metro setelah sejumlah pemberitaan terkait hal tersebut viral.
“Kebetulan korwil MBG melakukan koordinasi langsung ke SPPI.
Kasus terjadi di SD Negeri 2 Metro Timur, SPPG-nya Iringmulyo I. Terjadi human
error, yang seharusnya dimsum kering ternyata gagal,” kata Wahyuningsih kepada
awak media, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, dapur MBG Iringmulyo I telah membuat berita acara
kronologis kejadian dan menyatakan permohonan maaf secara resmi.
Wahyuningsih menekankan bahwa program MBG merupakan bagian dari
agenda strategis nasional menuju Indonesia Emas 2045, sehingga seluruh
pelaksana di lapangan wajib mematuhi petunjuk teknis dan SOP yang berlaku.
“Kami selalu koordinasi, kita minta kepala SPPG dan SPPI patuh
pada regulasi. Ini jadi pelajaran agar tidak terulang. Ikuti juknis, tidak
perlu lari dari juknis, tidak perlu neko-neko,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan ketat diperlukan untuk
mencegah risiko yang lebih besar, terutama terkait keamanan pangan.
“Yang selalu kita takutkan adalah keracunan makanan. Target Wali
Kota Metro zero accident atau nol kasus keracunan. Jadi kehati-hatian itu
mutlak,” ungkapnya.
Dirinya mengaku bahwa Satgas MBG rutin memonitor dapur SPPG
bersama korwil SPPI yang merupakan perpanjangan tangan Badan Gizi Nasional di
daerah.
“Tanggung jawab layak atau tidaknya makanan itu ada pada SPPI
dan dapur yang dibantu ahli gizi. Kolaborasi ini harus bagus. Setiap hari kami
cek menu apa yang dibagikan,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Satgas MBG Kota Metro akan turun langsung ke
SPPG Iringmulyo I untuk melakukan evaluasi.
Sementara itu, Kepala Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak
Pembangunan Indonesia (SPPI) Kota Metro, Alvi, juga menyampaikan permohonan
maaf kepada masyarakat.
“Saya mohon maaf kepada masyarakat. Di SPPG Iringmulyo I Metro
Timur terdapat kendala sehingga distribusi tidak sesuai rencana. Seharusnya
menu hari itu ada dimsum kering, apel, dan tiga butir telur puyuh. Namun dimsum
gagal dan roti pengganti juga terkendala,” ujarnya.
Menurutnya, menu yang belum terkirim akan dibagikan pada hari
berikutnya. Ia menegaskan bahwa evaluasi akan dilakukan, baik dari sisi
prasarana maupun perencanaan menu. Ia juga menjelaskan bahwa menu MBG selama
bulan Ramadhan berbeda dengan menu hari normal. Menu dikemas agar tahan lama
hingga waktu berbuka.
“Di lapangan memang banyak kendala. Tapi kami terus memperbaiki
kesalahan yang terjadi. Menu bulan puasa tidak sama dengan menu siap santap
biasa. Karena dikonsumsi saat berbuka, harus makanan yang bisa bertahan
seharian. Misalnya rawon, dendeng kering, telur asin, atau roti,” jelasnya,
merujuk pada juknis dari Badan Gizi Nasional.
Dalam berita acara yang dibuat oleh SPPG Iringmulyo Metro Timur,
di bawah naungan Yayasan Misran Edukasi Kreatif disebutkan bahwa distribusi
pada 24 Februari 2026 memang hanya berupa apel dan telur puyuh.
Pihak SPPG mengakui terjadi kegagalan produksi pada salah satu
menu yang telah disiapkan sebelumnya, sehingga harus diganti dan memerlukan pemesanan
bahan baku baru.
“Kekurangan menu akan kami distribusikan pada hari Rabu berupa
roti tawar dan keju untuk porsi besar, serta roti manis untuk porsi kecil,”
tulis pernyataan yang ditandatangani Kepala SPPG Iringmulyo, Renisia Liviana
Sari.
SPPG juga mengklaim telah menyertakan catatan permohonan maaf
dalam setiap box MBG yang dibagikan hari itu.
Meski disebut sebagai human error, kasus ini menjadi alarm
serius bagi tata kelola program MBG di daerah. Program yang menjadi bagian dari
kebijakan nasional Presiden Prabowo Subianto itu menuntut konsistensi antara
perencanaan, anggaran, dan realisasi di lapangan.
Kejadian ini memperlihatkan bahwa rantai distribusi MBG dari
perencanaan menu, produksi dapur, pengawasan ahli gizi, hingga distribusi ke
sekolah harus berjalan tanpa celah. Sebab di balik satu apel dan tiga telur
puyuh yang viral, ada kepercayaan publik yang dipertaruhkan.
Satgas dan BGN kini dihadapkan pada tantangan memastikan bahwa
insiden serupa tidak lagi terulang agar program yang dirancang untuk
meningkatkan gizi anak bangsa tidak kehilangan legitimasinya di mata masyarakat.
(*)
Berita Lainnya
-
Pengamat Soroti Perombakan Kabinet Metro Bahagia: Enam Bulan Tidak Ada Progres, Evaluasi
Rabu, 25 Februari 2026 -
Pengacara Korban Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Penggelapan Mobil Oleh Ari Ubenz, Diduga Libatkan Oknum Aparat
Rabu, 25 Februari 2026 -
Menu MBG Dikeluhkan, SPPG Iringmulyo Minta Maaf Lewat Selebaran
Selasa, 24 Februari 2026 -
Usai Viral, Gubernur Lampung Janji Gelontorkan Rp 10 Miliar Perbaiki Jalan Pattimura Metro Habis Lebaran
Senin, 23 Februari 2026









