• Rabu, 25 Februari 2026

Heboh Paket MBG Minim di Metro, Satgas Sebut Terjadi Human Error

Rabu, 25 Februari 2026 - 11.38 WIB
127

Ketua Satgas MBG Kota Metro, Wahyuningsih saat memberikan keterangan. Foto: Ist

Berdikari.co, Metro - Viral paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hanya berisi satu buah apel dan tiga butir telur puyuh di SD Negeri 2 Metro Timur akhirnya memantik klarifikasi resmi. Setelah menu yang dinilai menciut itu ramai diperbincangkan di media sosial, Satgas MBG Kota Metro dan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah buka suara.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 24 Februari 2026, tampak paket MBG diduga dari dapur SPPG Iringmulyo I hanya berisi apel dan tiga telur puyuh tanpa menu tambahan lain. Padahal, berdasarkan petunjuk teknis (juknis), menu hari tersebut seharusnya lebih lengkap. Publik pun mempertanyakan kesesuaian distribusi dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.

Ketua Satgas MBG Kota Metro, Wahyuningsih, membenarkan bahwa pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kota Metro setelah sejumlah pemberitaan terkait hal tersebut viral.

“Kebetulan korwil MBG melakukan koordinasi langsung ke SPPI. Kasus terjadi di SD Negeri 2 Metro Timur, SPPG-nya Iringmulyo I. Terjadi human error, yang seharusnya dimsum kering ternyata gagal,” kata Wahyuningsih kepada awak media, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, dapur MBG Iringmulyo I telah membuat berita acara kronologis kejadian dan menyatakan permohonan maaf secara resmi.

Wahyuningsih menekankan bahwa program MBG merupakan bagian dari agenda strategis nasional menuju Indonesia Emas 2045, sehingga seluruh pelaksana di lapangan wajib mematuhi petunjuk teknis dan SOP yang berlaku.

“Kami selalu koordinasi, kita minta kepala SPPG dan SPPI patuh pada regulasi. Ini jadi pelajaran agar tidak terulang. Ikuti juknis, tidak perlu lari dari juknis, tidak perlu neko-neko,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan ketat diperlukan untuk mencegah risiko yang lebih besar, terutama terkait keamanan pangan.

“Yang selalu kita takutkan adalah keracunan makanan. Target Wali Kota Metro zero accident atau nol kasus keracunan. Jadi kehati-hatian itu mutlak,” ungkapnya.

Dirinya mengaku bahwa Satgas MBG rutin memonitor dapur SPPG bersama korwil SPPI yang merupakan perpanjangan tangan Badan Gizi Nasional di daerah.

“Tanggung jawab layak atau tidaknya makanan itu ada pada SPPI dan dapur yang dibantu ahli gizi. Kolaborasi ini harus bagus. Setiap hari kami cek menu apa yang dibagikan,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, Satgas MBG Kota Metro akan turun langsung ke SPPG Iringmulyo I untuk melakukan evaluasi.

Sementara itu, Kepala Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kota Metro, Alvi, juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

“Saya mohon maaf kepada masyarakat. Di SPPG Iringmulyo I Metro Timur terdapat kendala sehingga distribusi tidak sesuai rencana. Seharusnya menu hari itu ada dimsum kering, apel, dan tiga butir telur puyuh. Namun dimsum gagal dan roti pengganti juga terkendala,” ujarnya.

Menurutnya, menu yang belum terkirim akan dibagikan pada hari berikutnya. Ia menegaskan bahwa evaluasi akan dilakukan, baik dari sisi prasarana maupun perencanaan menu. Ia juga menjelaskan bahwa menu MBG selama bulan Ramadhan berbeda dengan menu hari normal. Menu dikemas agar tahan lama hingga waktu berbuka.

“Di lapangan memang banyak kendala. Tapi kami terus memperbaiki kesalahan yang terjadi. Menu bulan puasa tidak sama dengan menu siap santap biasa. Karena dikonsumsi saat berbuka, harus makanan yang bisa bertahan seharian. Misalnya rawon, dendeng kering, telur asin, atau roti,” jelasnya, merujuk pada juknis dari Badan Gizi Nasional.

Dalam berita acara yang dibuat oleh SPPG Iringmulyo Metro Timur, di bawah naungan Yayasan Misran Edukasi Kreatif disebutkan bahwa distribusi pada 24 Februari 2026 memang hanya berupa apel dan telur puyuh.

Pihak SPPG mengakui terjadi kegagalan produksi pada salah satu menu yang telah disiapkan sebelumnya, sehingga harus diganti dan memerlukan pemesanan bahan baku baru.

“Kekurangan menu akan kami distribusikan pada hari Rabu berupa roti tawar dan keju untuk porsi besar, serta roti manis untuk porsi kecil,” tulis pernyataan yang ditandatangani Kepala SPPG Iringmulyo, Renisia Liviana Sari.

SPPG juga mengklaim telah menyertakan catatan permohonan maaf dalam setiap box MBG yang dibagikan hari itu.

Meski disebut sebagai human error, kasus ini menjadi alarm serius bagi tata kelola program MBG di daerah. Program yang menjadi bagian dari kebijakan nasional Presiden Prabowo Subianto itu menuntut konsistensi antara perencanaan, anggaran, dan realisasi di lapangan.

Kejadian ini memperlihatkan bahwa rantai distribusi MBG dari perencanaan menu, produksi dapur, pengawasan ahli gizi, hingga distribusi ke sekolah harus berjalan tanpa celah. Sebab di balik satu apel dan tiga telur puyuh yang viral, ada kepercayaan publik yang dipertaruhkan.

Satgas dan BGN kini dihadapkan pada tantangan memastikan bahwa insiden serupa tidak lagi terulang agar program yang dirancang untuk meningkatkan gizi anak bangsa tidak kehilangan legitimasinya di mata masyarakat. (*)