• Rabu, 25 Februari 2026

MBG di Tanggamus Tuai Protes, Orang Tua Temukan Roti Berjamur Dibagikan ke Siswa

Rabu, 25 Februari 2026 - 09.26 WIB
145

Tampak roti berjamur yang dibagikan kepada siswa SD di Tanggamus sebagai menu berbuka puasa. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Tanggamus - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kabupaten Tanggamus, Lampung, menuai keluhan dari orang tua siswa pada awal Ramadan. Selain dinilai tidak sesuai dengan standar gizi, pada Selasa (24/2/2026) dilaporkan adanya roti berjamur dalam paket makanan yang dibagikan kepada siswa.

Keluhan tersebut muncul di beberapa sekolah, antara lain SDN 1 Tugu Papak, Kecamatan Semaka; SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin; SDN 1 Pulau Benawang, di Kecamatan Kotaagung Barat; serta sejumlah sekolah dasar di wilayah Kotaagung Timur.

Salah satu laporan menyebutkan, roti berjamur ditemukan dalam paket MBG yang didistribusikan oleh SPPG Talagening, Kecamatan Kotaagung Barat, pada Selasa, 24 Februari 2026. Temuan itu kemudian beredar luas di media sosial dan memicu reaksi warganet.

Di SDN 1 Pulau Benawang, keluhan serupa juga mencuat. Seorang wali murid menyampaikan keberatannya setelah mendapati roti dalam kondisi tidak layak konsumsi.

"MBG hari ini SDN 1 Pulau Benawang macam apa ini, sudah ada jamurnya kok masih dibagikan,” ujar Neni, salah satu orangtua siswa dengan nada kecewa.

Berdasarkan pantauan di sejumlah sekolah, variasi menu MBG yang dibagikan selama dua hari tersebut antara lain: satu roti, empat buah kelengkeng, seporsi kecil kurma, dan puding; kemudian satu roti, seporsi kecil kurma (isi lima), satu telur rebus, dan satu buah jeruk.

Lalu ada juga sebungkus roti kering, seporsi kecil kurma, satu puding dan abon; roti bungkus merek sari gandum, satu bungkus roti bolu telur, telur rebus, dan sebotol minuman ukuran sedang; kue basah jajanan pasar, satu telur rebus, dan satu kotak susu cair; roti bolu, satu buah jeruk, dan seporsi kecil kacang polong kering; serta roti kering, lima buah kurma, dan susu kotak.

Sejumlah orang tua menilai komposisi tersebut belum mencerminkan menu bergizi seimbang, baik dari sisi protein, serat, maupun kelayakan penyajian. Apalagi, sebagian makanan disebut tidak dikemas secara higienis.

Salimah, salah seorang wali murid di Kotaagung Barat mengatakan, anaknya menerima paket berisi roti abon, telur, jeruk, dan camilan kemasan kecil. Namun, kondisi roti yang sudah berjamur membuatnya khawatir terhadap keamanan pangan.

"Anak-anak yang mengonsumsi. Harusnya kualitas dan kebersihan diperhatikan, ini roti sudah jamuran masih dibagikan. Coba kalau sampai di makan bisa keracunan,' ujarnya.

Di sekolah lain, orang tua juga mempertanyakan kesesuaian antara menu yang diterima dengan informasi nilai anggaran yang beredar di masyarakat. Sejumlah warga menyebut alokasi MBG berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per siswa per hari.

'Kalau memang anggarannya sebesar itu, seharusnya menu lebih layak, baik dari sisi kualitas maupun penyajian,” kata Lastri, seorang wali murid di Kecamatan Semaka.

Program MBG merupakan kebijakan pemerintah pusat yang bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa. Selama bulan Ramadan, skema pembagian diubah menjadi makanan kering yang dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.

Sejumlah tokoh masyarakat di Tanggamus meminta pemerintah daerah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi dan pengawasan lebih ketat terhadap pelaksanaan program, khususnya oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) sebagai pelaksana teknis.

"Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan klarifikasi sekaligus memastikan program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan dan standar keamanan pangan," kata Mas Anom, tokoh masyarakat Kabupaten Tanggamus. (*)