• Rabu, 25 Februari 2026

Tahu Goreng dan Telur Puyuh Jadi Menu MBG di Metro Barat, Wali Murid Nilai Jauh dari Standar Gizi

Rabu, 25 Februari 2026 - 14.20 WIB
63

Potret menu MBG yang dibagikan ke siswa penerima manfaat berisi Tahu goreng dan telur. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Metro - Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Metro belum juga mereda. Setelah sebelumnya menu MBG di Metro Timur menuai sorotan karena dinilai menciut, kini keluhan serupa muncul dari Metro Barat. Program yang digadang-gadang sebagai unggulan pemerintah pusat itu kembali bikin gaduh, kali ini di SD Alquran Metro Barat.

Seorang wali murid berinisial AA (32), meluapkan kekecewaannya terhadap menu MBG yang diterima anaknya selama bulan Ramadan. Ia menilai makanan yang dibagikan jauh dari kata layak, apalagi mencerminkan standar gizi sebagaimana yang selama ini disosialisasikan.

“Aneh-aneh sekarang. Apa anggaran MBG dari pusat dipangkas atau jangan-jangan pemilik dapur MBG sudah nggak sabar mau jadi miliarder,” ujarnya dengan nada kesal, Rabu (25/2/2026).

AA mengaku sebelum Ramadan, ia tidak pernah mempermasalahkan menu MBG. Menurutnya, makanan yang diterima anaknya masih tergolong wajar dan cukup memenuhi kebutuhan dasar. Namun sejak memasuki bulan puasa, kualitas menu disebutnya menurun drastis.

“Bulan Ramadan seharusnya lebih baik, ini malah lebih parah. Hari Selasa kemarin menunya cuma tiga butir kurma dan roti harga seribu rupiah. Hari ini dapat dua tahu goreng dan lima butir telur puyuh. Parah,” keluhnya.

Ia pun mencoba menghitung secara sederhana nilai makanan tersebut. Menurutnya, harga keseluruhan menu bahkan tidak mencapai Rp5.000. Padahal, publik selama ini memahami anggaran MBG berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi.

“Jangan nemen amatlah. Yayasan SPPG itu kan sudah dapat insentif Rp3.000 per porsi. Dari anggaran itu jangan lagi memangkas dari menu. Saya tagih di akhirat nanti itu,” ucapnya geram.

Kekecewaan itu bukan sekadar persoalan rasa atau variasi menu. salah seorang wali murid lainnya berinisial AB (34) menilai ada persoalan transparansi yang harus dijawab secara terbuka.

“MBG ini bukan gratis. Ini pakai uang pajak kami. Jadi kami berhak protes. Kalau begini terus, lebih baik hentikan saja program ini,” tegasnya.

AB mendesak Satuan Tugas (Satgas) MBG Kota Metro segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut. Menurutnya, pengawasan tidak boleh tebang pilih dan harus menyeluruh, terutama setelah kejadian serupa sebelumnya terjadi di Metro Timur.

Secara regulasi, menu MBG selama Ramadan memang berbeda dengan hari biasa. Makanan dirancang dalam bentuk kering atau kemasan agar dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka. Menu yang dianjurkan umumnya berupa telur rebus, kacang-kacangan, susu kemasan, dan roti dengan kandungan protein dan kalori yang memadai.

Pedoman tersebut mengacu pada arahan dari Badan Gizi Nasional agar distribusi tetap aman, higienis, dan memenuhi standar gizi selama puasa. Namun, keluhan di Metro Barat menunjukkan adanya jarak antara pedoman dan implementasi. Jika benar nilai menu yang diterima jauh di bawah standar anggaran, maka persoalan ini bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut tata kelola dan pengawasan.

Fakta bahwa polemik serupa muncul berturut-turut dari Metro Timur kini ke Metro Barat, menjadi alarm keras bagi pelaksana program di daerah. Publik mulai mempertanyakan konsistensi pengawasan dan keseriusan evaluasi.

Jika tidak segera ditangani secara terbuka dan tegas, kepercayaan masyarakat bisa semakin terkikis. Program yang semestinya menjadi solusi peningkatan gizi justru berpotensi menjadi sumber kegaduhan.

Kini masyarakat menunggu langkah konkret apakah Satgas MBG dan pemangku kebijakan di Kota Metro akan turun langsung melakukan sidak dan audit menu ataukah polemik ini kembali dianggap sebagai keluhan sporadis semata.

Di bulan Ramadan yang identik dengan kejujuran dan pengendalian diri, masyarakat berharap pengelolaan anggaran publik juga dijalankan dengan integritas, bukan sekadar formalitas distribusi. (*)