• Rabu, 25 Februari 2026

Temuan HIV Meningkat, Dinkes Bandar Lampung Sebut Bukti Keberhasilan Deteksi Dini

Rabu, 25 Februari 2026 - 14.52 WIB
23

Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung. Foto: Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Lonjakan temuan kasus HIV di Kota Bandar Lampung belakangan ini bukan sinyal wabah baru. Sebaliknya, tingginya angka tersebut justru menjadi bukti keberhasilan strategi jemput bola yang diterapkan Dinas Kesehatan (Dinkes) dalam membongkar fenomena “gunung es” HIV yang selama ini tersembunyi.

Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menegaskan bahwa capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk penapisan HIV telah melampaui 119 persen dari target. Artinya, upaya pelacakan dan mitigasi risiko penularan berjalan agresif dan efektif.

“Jika capaian sudah di atas 100 persen, artinya mitigasi risiko keberlanjutan penyebaran sudah kita tangani. Ini bukan darurat, melainkan bukti keseriusan kita memutus mata rantai penularan menuju target Eliminasi HIV 2030,” tegas Muhtadi, Rabu (25/2/2026).

Diskes kini tidak lagi menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Petugas turun langsung ke berbagai lokus dan kelompok berisiko sebagai bagian dari implementasi SPM.

Delapan kelompok indikator menjadi prioritas screening, yakni: Ibu hamil, Penderita TBC, Penderita Infeksi Menular Seksual (IMS), kemudian Wanita Pekerja Seksual (WPS), Lelaki Seks Lelaki (LSL), Waria, Pengguna Narkoba Suntik (Penasun) dan Warga Binaan Pemasyarakatan.

Dari hasil pelacakan aktif tersebut, termasuk ditemukan 227 kasus reaktif pada kelompok LSL. Namun menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diskes Bandar Lampung, dr. Liskha, angka itu mencerminkan kerja lapangan yang masif, bukan lonjakan penularan baru.

“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan. Itu kunci untuk menekan potensi penularan,” ujarnya.

Khusus ibu hamil, Dinkes menerapkan program Triple Eliminasi secara gratis, yakni screening HIV, sifilis, dan hepatitis. Program ini bertujuan mencegah penularan dari ibu ke bayi sejak masa kehamilan.

"Langkah ini menjadi bagian penting dalam target eliminasi HIV 2030, terutama dalam mencegah kasus baru dari transmisi vertikal (ibu ke anak), " katanya.

Tak hanya fokus pada penemuan kasus, Pemkot juga memperkuat layanan pengobatan. Sebanyak 31 puskesmas di Bandar Lampung kini telah memberikan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).

Diskes juga menjalankan strategi global Fast Track 95-95-95: yaitu 95 persen ODHIV terdiagnosis, lalu 95 persen mendapatkan terapi ARV, dan 95 persen mencapai supresi virus

“Pasien yang rutin minum obat sesuai dosis dapat menekan jumlah virus dalam tubuhnya. Jika virus tersupresi, tidak mudah menular dan harapan hidup tetap panjang serta produktif,” jelas Muhtadi.

Untuk menjangkau lokus khusus seperti tempat hiburan malam, Diskes menggandeng berbagai pihak, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, Babinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga komunitas Indonesia AIDS Coalition (IAC).

Pemkot juga menjamin penuh kerahasiaan identitas pasien secara by name by address guna mencegah stigma dan diskriminasi.

Diskes pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh hoaks. HIV tidak menular melalui pelukan, sentuhan, berbagi alat makan, percakapan, maupun penggunaan toilet umum.

“Penularan hanya terjadi melalui kontak darah, hubungan seksual tidak aman, serta dari ibu positif ke anak yang dikandungnya,” tandasnya. (*)