Anak Meninggal Usai Dirawat, Keluarga Laporkan RSIA Puri Betik Hati ke Dinas Kesehatan
Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Betik Hati di Jl. Pajajaran Kec. Way Halim, Kota Bandar Lampung. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Seorang anak bernama Abizar Fathan
Athallah meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Betik Hati.
Pihak keluarga menduga adanya kelalaian dalam penanganan medis.
Orang tua korban, Muslim, warga Perum Griya GMI Blok B4/35 Bandar Lampung,
mengungkapkan kronologi kejadian yang menimpa anaknya
Ia juga mengaku telah melaporkan peristiwa ini kepada Dinas Kesehatan
Provinsi Lampung dan juga Lampung-In untuk dapat segera ditindaklanjuti.
Menurut Muslim, peristiwa bermula pada 15 Februari 2026 sekitar pukul 23.00
WIB saat dirinya membawa sang anak ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit
tersebut dengan keluhan muntah-muntah dan sakit perut hebat.
"Awalnya dokter menyampaikan anak saya akan diberikan suntikan pereda
nyeri dan anti mual. Jika membaik bisa rawat jalan," ujarnya saat
memberikan keterangan, Kamis (26/2/2026).
Namun, saat proses administrasi, Muslim mengaku diminta membayar karena
layanan rawat jalan tidak dapat menggunakan BPJS.
Karena tidak memiliki biaya, pihak rumah sakit kemudian menyarankan rawat
inap agar dapat menggunakan BPJS.
"Setelah proses administrasi selesai, barulah anak saya mendapatkan
tindakan medis berupa suntikan, pemasangan infus, serta pengambilan sampel
darah," jelasnya.
Selama dirawat, kondisi korban disebut terus memburuk. Anak tersebut
mengalami muntah berulang hingga belasan kali dan terus mengeluhkan nyeri hebat
di bagian perut.
Muslim mengaku telah berulang kali melaporkan kondisi anaknya kepada
perawat jaga. Namun, penanganan yang diberikan disebut hanya berupa obat pereda
nyeri seperti paracetamol.
"Anak saya terus meringis kesakitan. Saya sudah bolak-balik lapor,
tapi hanya diberikan obat pereda nyeri," katanya.
Pada 16 Februari 2026 pagi, dokter spesialis anak yang menangani korban menyampaikan
hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit hingga sekitar
19.000 yang mengindikasikan adanya infeksi.
Anak tersebut kemudian diberikan terapi antibiotik. Namun demikian, kondisi
korban tidak menunjukkan perbaikan. Bahkan muntah berubah menjadi berwarna
kuning hingga hijau.
Memasuki 17 Februari 2026 dini hari, kondisi korban semakin memburuk. Saat
dilakukan pemeriksaan lanjutan, dokter menyatakan dugaan usus buntu dan
menyarankan tindakan operasi.
Korban kemudian diminta berpuasa sejak pagi untuk persiapan tindakan.
Namun, menurut orang tua, proses penanganan lanjutan berjalan lambat.
"Anak saya sudah puasa sejak pagi, tapi sampai siang belum juga
ditangani. Bahkan terus meminta minum karena kesakitan," ujarnya.
Pemeriksaan rontgen baru dilakukan sekitar pukul 09.30 WIB. Sementara
dokter bedah disebut baru datang pada sore hari untuk memastikan tindakan
operasi.
Menurut keterangan keluarga, keterlambatan juga terjadi karena dokter
anestesi yang akan menangani operasi sulit dihubungi.
Setelah persetujuan operasi ditandatangani oleh orang tua, kondisi korban
justru semakin kritis. Anak tersebut mulai mengalami penurunan kesadaran hingga
akhirnya dilakukan tindakan darurat.
Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil. Korban dinyatakan meninggal
dunia.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Anak kami meninggal dunia. Kami
merasa ada kelalaian dalam penanganannya. Kalau memang tidak sanggup kenapa
tidak dirujuk saja," ujar Muslim.
Atas kejadian tersebut, pihak keluarga telah melaporkan kasus ini ke Dinas
Kesehatan Provinsi Lampung.
Dinas Kesehatan menyatakan telah menerima laporan dan akan segera memanggil
pihak rumah sakit untuk klarifikasi.
Keluarga berharap adanya investigasi menyeluruh serta pertanggungjawaban
atas dugaan kelalaian yang menyebabkan meninggalnya anak mereka.
"Kami hanya ingin keadilan untuk anak kami. Dinas Kesehatan bilang
mereka akan segera memanggil pihak rumah sakit," tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, wartawan masih berupaya meminta klarifikasi
dari Rumah Sakit Betik Hati. (*)
Berita Lainnya
-
Kostiana Sayangkan MBG Serap Dana Pendidikan: Infrastruktur Sekolah dan Kesejahteraan Guru Harus Jadi Prioritas
Kamis, 26 Februari 2026 -
Dinas Pendidikan Lampung Gelar Pesantren Kilat, Bekali Siswa Penguatan Akidah hingga Kesehatan Mental
Kamis, 26 Februari 2026 -
Pengamat Ingatkan Anggaran MBG Jangan Kurangi Porsi Utama Pendidikan
Kamis, 26 Februari 2026 -
Sambut Mudik Lebaran 2026, Tol Bakter Tambah Dua SPBU Baru
Kamis, 26 Februari 2026









