• Kamis, 26 Februari 2026

Puluhan Siswa, Guru hingga Wali Murid Keracunan MBG

Kamis, 26 Februari 2026 - 08.13 WIB
44

Ketua Satgas MBG Provinsi Lampung, Saipul. Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Puluhan siswa, guru, hingga wali murid di Kabupaten Tulang Bawang diduga mengalami keracunan makanan setelah mengkonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (24/2/2026). Para korban mengalami gejala pusing, mual, muntah, sakit perut, hingga diare beberapa jam setelah menyantap makanan yang dibawa pulang dari sekolah.

Menu MBG yang dikonsumsi korban diketahui berupa roti, telur, dan buah. Tidak hanya siswa, kasus keracunan juga dialami guru, anak guru, hingga anggota keluarga siswa yang turut mengkonsumsi makanan tersebut di rumah.

Informasi yang dihimpun Kupas Tuntas, sebagian besar korban berasal dari wilayah Kecamatan Menggala. Setelah mengalami gejala keracunan, para korban langsung dilarikan ke Klinik Menggala Medical Centre dan RSUD Menggala untuk mendapatkan penanganan medis.

Hingga Rabu (25/2/2026), sejumlah korban masih menjalani perawatan di RSUD Menggala. Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang pun bergerak cepat menindaklanjuti kejadian tersebut.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Ferli Yuledi, meninjau langsung korban yang sempat dirawat di Klinik Menggala Medical Centre pada Selasa sore. Ia menegaskan pemerintah daerah akan mengambil langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Kemungkinan akan kita lakukan peringatan dan sidak ke masing-masing SPPG. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali. Apalagi ini di bulan Ramadan, kasihan para korban,” ujar Ferli.

Menurutnya, pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kasus sekaligus memperkuat pengawasan agar makanan yang diberikan kepada penerima MBG benar-benar sehat, higienis, dan sesuai standar keamanan pangan.

Sementara itu, Ketua Satgas MBG Provinsi Lampung, Saipul, mengatakan pihaknya langsung mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga menjadi sumber kejadian.

Ia menjelaskan, laporan awal pada Selasa malam mencatat delapan orang terdampak. Namun jumlah korban terus bertambah hingga sekitar 30 orang.

“Semalam saya dilaporkan baru delapan orang, ternyata setelah pagi bertambah jadi sekitar 30-an. Tapi semuanya sudah ditangani,” kata Saipul, Rabu (25/2/2026).

Menurut Saipul, para korban mengalami gejala mual dan langsung mendapatkan penanganan medis. Sebagian dirawat di rumah sakit, sementara lainnya ditangani di fasilitas kesehatan terdekat.

“Alhamdulillah kondisinya sudah membaik, tidak ada yang parah. Memang awalnya mual-mual dan harus dirujuk,” jelasnya.

Ia menambahkan, hingga kini Satgas MBG masih melakukan penelusuran untuk memastikan jenis makanan yang menjadi penyebab keracunan.
“Untuk menu penyebabnya masih kami dalami. Tapi jelas berasal dari makanan yang dibagikan pada hari itu,” tegasnya.

Sebagai langkah penanganan, operasional SPPG terkait dihentikan sementara guna dilakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan kesiapan operasional serta kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP).

“SPPG-nya sudah ditutup sementara. Nanti akan dimonitor, diawasi, dan dicek kembali kesiapan serta kepatuhan SOP-nya,” ujarnya.

Saipul menekankan pentingnya pengawasan internal di setiap dapur SPPG. Menurutnya, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab Satgas, tetapi juga kepala SPPG dan tenaga gizi yang bertugas di lapangan.

Selain itu, setiap SPPG diwajibkan memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sesuai petunjuk teknis. Namun, penerbitan sertifikat tetap harus melalui proses verifikasi, termasuk Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL).

“Ada yang terkendala, misalnya masalah air sehingga sertifikatnya belum bisa keluar. Tapi yang penting mereka sudah mengajukan. Jangan sampai tidak mengajukan sama sekali,” ungkapnya.

Saipul mengakui pihaknya menerima berbagai laporan dan masukan dari masyarakat terkait kualitas menu MBG yang diberikan.

Ia menjelaskan, berdasarkan petunjuk teknis  program MBG sebenarnya sudah mengatur jenis makanan yang diperbolehkan, termasuk makanan dengan kategori semi basah.

"Kalau juknisnya itu sudah jelas. Makanan boleh semi basah. Contohnya seperti tempe goreng, kering tempe, pisang, susu, atau bubur kacang hijau. Model seperti itu diperbolehkan, sepanjang dipastikan makanan tersebut aman dikonsumsi sampai waktu berbuka puasa," jelasnya.

Namun di lapangan, lanjut Saipul, masih ditemukan sejumlah kendala, salah satunya terkait distribusi makanan. Saipul menyebut, ada oknum penyedia yang tidak menjalankan ketentuan dengan baik.

"Misalnya telur, secara teori dimasak dari malam sampai sore masih aman. Tapi kadang ada yang nakal, mengirim telur dalam kondisi mentah. Memang lebih awet, tapi berisiko pecah saat sampai ke anak-anak," terangnya.

Selain itu, Saiful membeberkan persoalan lain yang dihadapi adalah ketersediaan dan harga bahan pangan kering dari pemasok. Menurutnya, meskipun anggaran program terlihat cukup, namun jika dihitung dari sisi kecukupan gizi, masih menjadi tantangan.

"Kalau dihitung, sebenarnya dari sisi anggaran itu cukup. Misalnya roti satu bungkus sekitar Rp4.000 sampai Rp5.000, ditambah susu dan telur. Totalnya berkisar Rp5.000 sampai Rp10.000. Tapi memang dari sisi nilai gizinya, itu yang banyak diprotes, dan kami akui itu," ujar Saipul.

Ia menerangkan anggaran MBG rata-rata sebesar Rp10.000 per anak per hari. Namun dalam praktiknya, terdapat variasi penggunaan anggaran oleh penyedia makanan.

"Ada hari tertentu yang biayanya bisa lebih dari Rp10.000, misalnya Rp12.000 atau Rp14.000. Maka di hari berikutnya harus ditekan di bawah Rp10.000 agar tetap sesuai rata-rata anggaran. Itu yang diatur oleh masing-masing penyedia," ujarnya.

Saipul menegaskan bahwa tidak semua kekurangan dapat dimaklumi, terutama jika menyangkut kelalaian yang berpotensi merugikan anak-anak.

"Kalau telur mentah dibungkus plastik untuk anak SD, itu jelas tidak bisa dimaklumi karena rawan pecah," tegasnya.

Saat ini, kata Saipul, Satgas MBG Provinsi Lampung terus melakukan evaluasi dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk koordinator wilayah di 15 kabupaten/kota, pihak terkait di lapangan, serta Satgas tingkat daerah.

"Kami terus berkoordinasi dengan Korwil di 15 kabupaten/kota, kemudian dengan pihak terkait lainnya, untuk memastikan pelaksanaan program ini bisa diperbaiki dan sesuai dengan tujuan awal," pungkasnya.

Data yang masuk ke redaksi Kupas Tuntas menunjukkan korban keracunan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA. Selain siswa, korban juga mencakup guru, orang tua siswa, anak guru, hingga anggota keluarga yang turut mengonsumsi menu MBG tersebut. 

Para korban keracunan, diantaranya Ilham Musdi (6) siswa SDN 1 Kibang, Intan Masseli (6) siswa SDN 1 Kibang, Naila (4,8) sepupu siswa SMPN 1 Menggala, Naura Nurzafira (6) siswa TK Islamiyah, Yusnaini (65) nenek siswa, Misha (6) siswa TK RA Bintang Zafira, Epiona (41) guru SMPN 1 Menggala, Shinta (45) guru SDN Menggala, Siska Fitria (17) siswa SMAN 3 Menggala, dan Haryati (32). 

Selanjutnya Azkaria (8) siswa MIN 1 Bawang Latak, Bara (4) anak guru SDN 1 Menggala, Yerli Meirinda (29) guru SDN 1 Menggala Kota, Gibran Al Gifari (2) adik siswa SDN Lebuh Dalem, Santori (7) siswa SDN Kibang, Herma Regita (18) kakak siswa SDN 1 Center Lingai, Rahayu (15) siswa SMPN 1 Menggala, Indah Putri (25) orang tua siswa SDN Menggala Tengah, Hendri (43) orang tua siswa SMPN 1 Menggala, dan M. Fahreza (4) anak dari Hendri. 

Kemudian Anita (36) orang tua siswa SDN 2 UGI, Widya (12) siswa SDN 2 UGI, Jefri (1) adik siswa SDN 7 Lebuh Dalem, Junaedi (50) orang tua siswa SDN 2 UGI, Adila (6,5) adik siswa SMPN 1 Menggala, Shaqila (6) siswa TK Tores, Aulia (17) siswa SMAN 3 Menggala, Diki Arnanda (15) siswa SMPN 1 Menggala, Lidia (40) orang tua siswa SDN 1 Menggala Kota, Marti (32) orang tua siswa SDN 1 Lebuh Dalam, Tamrin (54) orang tua siswa SDN 1 Lebuh Dalem dan Amelia Sari (13) siswa SDN 1 Lebuh Dalam. (*)

Berita ini telah terbit di SKH Kupas Tuntas edisi Kamis 26 Februari 2026 dengan judul "Puluhan Siswa, Guru hingga Wali Murid  Keracunan MBG"