• Jumat, 27 Februari 2026

Busuk Buah Serang Cabai Kotaagung Timur Tanggamus, Dinas Turunkan Bantuan dan Lakukan Monitoring

Jumat, 27 Februari 2026 - 16.24 WIB
24

Penyaluran bantuan fungisida dan insektisida kepada kelompok tani setempat, Jumat (27/2/2026). Foto: Sayuti/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus - Penyakit busuk buah menyerang tanaman cabai milik petani di Pekon Teba, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, dalam beberapa pekan terakhir. Serangan yang dipicu tingginya curah hujan itu menyebabkan sebagian buah membusuk sebelum dipanen.

Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Kabupaten Tanggamus menyalurkan bantuan fungisida dan insektisida kepada kelompok tani setempat,  Jumat (27/2/2026). Bantuan diserahkan langsung oleh Kepala DKPTPH Tanggamus, Alkat Alamsyah.

"Kami menerima laporan adanya serangan busuk buah pada cabai dan langsung menindaklanjuti dengan penyaluran fungisida dan insektisida,” kata Alkat di lokasi penyerahan bantuan.

Menurut Alkat, penyakit busuk buah pada cabai umumnya disebabkan infeksi jamur, di antaranya dari jenis Colletotrichum yang memicu antraknosa serta Phytophthora capsici.

Gejalanya berupa bercak cokelat kehitaman pada buah yang kemudian melebar, cekung, dan berujung pada pembusukan.

Kondisi lembap saat musim hujan mempercepat perkembangan spora jamur. Percikan air hujan maupun genangan di lahan memperluas penyebaran infeksi dari satu tanaman ke tanaman lain.

Jika tidak dikendalikan, serangan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi secara signifikan.

Alkat mengatakan dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan dan harga cabai di pasaran. “Kalau produksi turun, efeknya bisa ke harga. Karena itu harus dicegah sejak dini,” ujarnya.

Sejumlah petani mengaku serangan mulai terlihat saat intensitas hujan meningkat. Buah yang awalnya tampak normal mendadak menghitam dan membusuk di pohon. Sebagian lainnya rontok sebelum dipetik.

Suparjo, petani cabai di Pekon Teba, berharap bantuan tersebut mampu menekan penyebaran penyakit. “Semoga serangan bisa terkendali dan panen berikutnya tidak banyak yang rusak,” katanya.

Selain menyalurkan bantuan, tim DKPTPH melakukan monitoring langsung ke lahan untuk melihat kondisi tanaman dan memetakan potensi produksi dalam beberapa pekan ke depan. 

Pemantauan ini sekaligus menjadi bagian dari langkah pengendalian inflasi daerah, mengingat cabai termasuk komoditas yang kerap memicu lonjakan harga ketika pasokan terganggu.

Petugas DKPTPH, Wiwin, mengatakan monitoring dilakukan untuk memastikan ketersediaan cabai tetap aman. “Kami ingin melihat langsung kondisi panen dan menghitung potensi produksi agar pasokan tetap terjaga,” ujarnya.

Pemerintah daerah berharap pengendalian penyakit disertai pendampingan teknis kepada petani dapat menjaga stabilitas produksi. Dengan demikian, pasokan cabai di Kabupaten Tanggamus tetap mencukupi dan harga di tingkat konsumen tidak melonjak. (*)