Keluhan Jalan Rusak Ramai di Medsos, Pengamat Minta Pemkab Lampung Barat Respons Sebelum Viral
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Lampung, Vincensius Soma Ferrer. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Barat - Maraknya keluhan masyarakat
Lampung Barat terkait kerusakan infrastruktur, khususnya jalan, yang
disampaikan melalui media sosial maupun forum-forum pemerintahan mendapat
tanggapan dari kalangan akademisi.
Fenomena tersebut dinilai mencerminkan perubahan sikap publik
dalam menyikapi kebijakan pemerintah daerah. Selain itu hal tersebut juga
sebagai bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah
daerah.
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Lampung,
Vincensius Soma Ferrer, menilai meningkatnya keberanian warga menyampaikan
keluhan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman publik terhadap peran dan haknya.
Menurut Vincensius, masyarakat kini tidak lagi memposisikan diri
semata sebagai objek kebijakan, melainkan telah berkembang menjadi subjek yang
sadar akan hak-hak pelayanan publik yang semestinya mereka terima.
“Warga sudah sadar bahwa mereka punya hak untuk menuntut
pelayanan dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat. Dari situ muncul
kritik publik yang semakin terbuka,” kata Vincensius, Jumat (27/2/2026).
Ia menilai media sosial kini telah bertransformasi menjadi
sarana kontrol publik yang cukup efektif dalam menyalurkan keluhan masyarakat,
termasuk soal kondisi jalan rusak yang selama ini dirasakan warga Lampung
Barat.
Namun demikian, Vincensius menyoroti adanya pergeseran orientasi
dalam pengelolaan kebijakan, di mana keluhan publik kerap baru ditindaklanjuti
setelah menjadi viral di media sosial.
“Ini menandakan adanya perubahan kebijakan teknis. Pemerintah
seharusnya menghadirkan produk kebijakan yang baik sejak awal, bukan menunggu
tekanan publik berbasis viralitas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pola kebijakan yang lahir karena tekanan
viralitas berpotensi menggerus proses perencanaan yang semestinya dilakukan
secara sistematis dan terukur.
Menurutnya, terdapat dua dampak utama dari fenomena viralitas
keluhan publik tersebut. Dampak pertama, pemerintah cenderung merespons lebih
cepat ketika keluhan sudah ramai dibicarakan di media sosial.
Namun di sisi lain, Vincensius mengingatkan bahwa kebijakan yang
lahir karena dorongan viralitas berisiko tidak berkualitas karena banyak
tahapan prosedural yang terlewati.
“Proses perencanaan, pengawasan, hingga implementasi berbasis
standar sering kali dikorbankan demi respons cepat. Ini membuat produk
kebijakannya tidak akan baik-baik saja,” tegasnya.
Ia menilai kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah
daerah, termasuk di Lampung Barat, dalam menjaga kualitas kebijakan publik di
tengah derasnya arus tuntutan masyarakat.
Secara politik, Vincensius menilai maraknya kritik publik di
media sosial memiliki implikasi yang cukup besar terhadap pemerintahan daerah.
Jika keluhan masyarakat dikelola secara transparan, disertai
komunikasi terbuka dan perbaikan sistematis, hal tersebut justru dapat menjadi
momentum untuk memperkuat dukungan publik terhadap kepala daerah.
Sebaliknya, apabila kritik publik direspons secara defensif atau
bahkan diabaikan, tekanan tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah
politik yang lebih serius.
“Kritik itu sebenarnya dibangun dengan harapan perbaikan. Kalau
diabaikan, tekanan publik bisa berdampak pada stabilitas pemerintahan dan
posisi kepala daerah secara spesifik,” kata Vincensius.
Ia menekankan pentingnya pemerintah daerah menjadikan kritik
masyarakat sebagai bahan evaluasi kebijakan, bukan sekadar reaksi sesaat
terhadap tekanan media sosial.
Menurut Vincensius, kemampuan pemerintah mengelola kritik publik
secara dewasa dan sistematis akan sangat menentukan arah kepercayaan masyarakat
terhadap kinerja pemerintahan di Lampung Barat ke depan. (*)
Berita Lainnya
-
Telur Mentah dan Pecah di Menu MBG, SPPG Belalau Lambar Akui Kendala Mesin Steamer
Jumat, 27 Februari 2026 -
Menu MBG di Belalau Lambar Dikeluhkan, Siswa Terima Telur Mentah dan Pecah
Jumat, 27 Februari 2026 -
Dikeluhkan Banyak Warga, Parosil Minta Tiga Ruas Jalan Provinsi di Lampung Barat Segera Dibangun
Kamis, 26 Februari 2026 -
Menu MBG di Lampung Barat Dikeluhkan, Orang Tua Beberkan Harga Satuan Menu
Kamis, 26 Februari 2026









