Lagu Berjudul 'Pak Bambang' Viral di Metro, Jadi Soundtrack Kritik Jalan Rusak
Potret postingan jalan Pattimura yang kondisinya semakin parah dengan soundtrack lagu berjudul Pak Bambang. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Metro - Lagu berjudul Pak Bambang yang dirilis pada 2025 kini bukan lagi sekadar karya musik. Lagu yang dinyanyikan oleh Derix Mail dan diciptakan oleh Mokhamad Chaidhir Ismail itu mendadak viral di Kota Metro.
Namun viralitasnya bukan karena panggung hiburan, melainkan karena dijadikan latar suara alias backsound dalam setiap unggahan warga yang menyoroti kondisi jalan dan infrastruktur rusak di Kota setempat.
Nama dalam judul lagu tersebut identik dengan Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso. Di tangan masyarakat, lagu ini berubah menjadi medium kritik sosial yang kreatif sekaligus menyentil.
Dalam beberapa hari terakhir, media sosial warga Metro dipenuhi video jalan berlubang, aspal mengelupas, drainase tersumbat, hingga genangan air yang tak kunjung surut. Hampir semuanya menggunakan backsound lagu berjudul Pak Bambang sebagai latar.
Di Metro Selatan, seorang pengendara memperlihatkan lubang besar di tengah jalan lingkungan. “Kalau malam bisa celaka,” tulisnya. Lagu itu diputar dengan volume penuh.
Di Metro Utara, seorang warga merekam genangan air yang menutupi lubang di jalan depan rumahnya. “Setiap hujan begini terus,” katanya. Lagi-lagi, lagu yang sama mengiringi.
Fenomena ini berlangsung organik. Tanpa komando, tanpa seruan aksi, warga seperti memiliki kesepahaman simbolik, jika ingin menyampaikan kritik soal infrastruktur, gunakan lagu tersebut.
Di kolom komentar, nada warga beragam, dari humor getir hingga kekecewaan serius. “Motor saya dua kali servis gara-gara jalan ini,” tulis akun AR.
“Pak Wali, kami cuma minta jalan layak, bukan mulus seperti tol,” komentar lainnya.
Ada yang berseloroh, “Ini jalan atau jebakan Batman?”
Namun di balik candaan, terselip kegelisahan. Seorang orang tua menulis, “Anak saya naik sepeda ke sekolah lewat sini. Takut jatuh kalau hujan.”
Warga lain menyoroti aspek ekonomi. “Pembeli malas masuk kalau becek. UMKM kecil seperti kami yang kena dampaknya,” ujar seorang pedagang.
Keluhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan jalan bukan sekadar estetika, melainkan menyentuh keselamatan dan aktivitas ekonomi warga.
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik dari Universitas Dharma Wacana Metro, Sudarman Mersa, menilai fenomena ini sebagai bentuk partisipasi politik generasi digital.
“Ini bukan sekadar tren lagu. Ini ekspresi kolektif masyarakat yang merasa ada persoalan mendasar yang belum tertangani,” ujarnya saat dimintai tanggapan, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, penggunaan lagu sebagai media kritik menunjukkan kecerdasan sosial warga. Kritik tidak lagi disampaikan dengan cara konfrontatif, tetapi melalui simbol budaya populer yang mudah menyebar.
“Di era digital, viralitas adalah indikator persepsi publik. Pemerintah tidak bisa menganggapnya sebagai lelucon semata. Jika dibiarkan, ini bisa membentuk opini publik jangka panjang,” tegasnya.
Sudarman menambahkan, persoalan infrastruktur dasar seperti jalan dan drainase adalah wajah paling nyata dari pelayanan publik.
“Masyarakat mungkin tidak membaca laporan kinerja atau angka APBD, tetapi mereka merasakan langsung kualitas jalan yang dilewati setiap hari. Itu ukuran paling konkret dari kinerja pemerintah,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa respons pemerintah harus konkret, bukan sekadar klarifikasi. “Yang dibutuhkan warga adalah tindakan nyata. Perbaikan bertahap dengan komunikasi yang transparan akan jauh lebih efektif meredam persepsi negatif dibanding penjelasan normatif,” ujarnya.
Fenomena viralnya lagu Pak Bambang menjadi cermin bahwa ekspektasi publik terhadap infrastruktur cukup tinggi. Di kota dengan skala relatif kecil seperti Metro, persoalan jalan rusak cepat menjadi pembicaraan luas.
Bagi Bambang Iman Santoso, situasi ini dapat menjadi alarm sekaligus peluang. Respons cepat terhadap titik-titik yang viral bisa mengubah nada kritik menjadi apresiasi. Di era media sosial, satu lagu bisa menjadi simbol. Dan ketika simbol itu terus diputar bersamaan dengan gambar jalan berlubang, pesan yang tersampaikan menjadi semakin kuat.
Kini, lagu berjudul Pak Bambang tidak hanya terdengar sebagai melodi. Tetapi telah menjadi cermin realitas kota dan pengingat bahwa di balik setiap nada, ada harapan warga yang ingin didengar dan ditindaklanjuti. (*)
Berita Lainnya
-
Rilis BPS Ungkap 10 PR Besar Kota Metro, Infrastruktur hingga Kemiskinan Jadi Sorotan
Sabtu, 28 Februari 2026 -
Curi HP Mahasiswi di Tempat Fotokopi, Buruh Harian Ditangkap Polres Metro
Jumat, 27 Februari 2026 -
Ambulans Mogok Saat Bawa Jenazah, Pengelolaan Anggaran RSUDAY Metro Dipertanyakan
Jumat, 27 Februari 2026 -
Safari Ramadan, Pemkot Metro Janji Koordinasi Perbaikan Jalan Budi Utomo
Kamis, 26 Februari 2026









