• Senin, 02 Maret 2026

Masjid Jami Al-Anwar Bandar Lampung, Warisan Sejarah yang Bertahan dari Terjangan Tsunami Krakatau

Senin, 02 Maret 2026 - 10.22 WIB
22

Masjid Jami Al-Anwar di Jalan Laksamana Malahayati No. 100, Kangkung, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung, Senin (2/3/2026). Foto: Ria/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Masjid Jami Al-Anwar yang berlokasi di Jalan Laksamana Malahayati No. 100, Kangkung, Kecamatan Telukbetung Selatan, menjadi salah satu saksi bisu perjalanan panjang sejarah Islam di Kota Bandar Lampung.

Masjid ini dikenal sebagai masjid tertua dan bersejarah. Berdasarkan catatan, Masjid Jami Al-Anwar pertama kali dibangun pada tahun 1888, tidak lama setelah peristiwa dahsyat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang memicu tsunami besar di wilayah pesisir Lampung.

Dalam peristiwa tersebut, bangunan masjid sempat terdampak hebat hingga hanya menyisakan kerangka saja.

Namun, masyarakat setempat kembali membangun dan melanjutkan keberadaan masjid ini sebagai pusat ibadah dan aktivitas sosial.

Seiring waktu, masjid ini mengalami renovasi pada tahun 1962 untuk memperkuat struktur bangunan.

Kini, Masjid Jami Al-Anwar tampil dengan ciri khas warna hijau, kuning, dan putih yang memberikan nuansa sejuk dan religius.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Lampung secara resmi menetapkan Masjid Jami Al-Anwar sebagai masjid tertua dan bersejarah di Bandar Lampung. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Nomor: Wh/2/SK/147/1997.

Menurut Isman, marbot masjid, pada awalnya bangunan masjid terbuat dari papan sederhana. Letaknya yang dekat dengan kawasan pelabuhan lama yang dikenal sebagai "Gudang Agen" menjadikan masjid ini sering disinggahi para pekerja pelabuhan, khususnya masyarakat Bugis, untuk beristirahat maupun beribadah.

"Dulu orang-orang pelabuhan sering ke sini untuk sekadar ngadem," ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (2/3/2026).

Masjid ini juga masih menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti Al-Qur’an tua, sumur tua, serta bedug yang menjadi saksi perjalanan panjangnya.

Lingkungan sekitar masjid pada masa lalu masih berupa hamparan rerumputan dengan pohon kelapa gading. Pagar masjid sendiri baru dibangun sekitar tahun 1985.

Selain itu, area yang kini menjadi kantor pengelola dulunya merupakan ruang terbuka, dan posisi bedug berada di luar bangunan utama masjid.

"Benda peninggalan yang masih ada itu Al-Quran, sumur tua, dan bedug. Dulu lingkungan sekitar masjid masih berupa rerumputan terus ada pohon kelapa gading didepan," jelasnya.

Saat ini, Masjid Jami Al-Anwar mampu menampung sekitar 500 hingga 600 jamaah. Tidak hanya warga sekitar, masjid ini juga kerap dikunjungi masyarakat dari luar daerah seperti Bandung dan Bengkulu, baik untuk beribadah maupun menelusuri nilai sejarah yang dimilikinya.

"Kapasitas masjid bisa menampung sekitar 500 hingga 600 orang. Pas puasa seperti sekarang ini juga lebih ramai. Warga luar daerah juga banyak yang datang seperti dari Bandung Bengkulu," paparnya.

Sebagai salah satu ikon religi sekaligus warisan sejarah di Bandar Lampung, Masjid Jami Al-Anwar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pengingat akan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana serta menjaga warisan budaya dan spiritual lintas generasi. (*)