Krisis Kanal, Bupati Tulang Bawang Harap Investor Bantu Dongkrak Produksi Udang Dipasena
Bupati Tulang Bawang, Qodratul Ikhwan. Foto: Dok.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Bupati Tulang Bawang, Qodratul Ikhwan, mengungkapkan bahwa kawasan tambak udang di Dipasena saat ini menghadapi persoalan serius akibat sedimentasi parah pada kanal utama yang menjadi jalur distribusi air.
Menurutnya, kanal utama yang dulunya memiliki kedalaman hingga 15 meter kini mengalami pendangkalan ekstrem, bahkan di beberapa titik hanya tersisa sekitar setengah meter.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada sirkulasi air laut yang menjadi jantung bagi operasional tambak-tambak udang di kawasan tersebut.
"Kalau kanal ini terganggu, distribusi air ke tambak juga ikut terganggu. Padahal ini faktor utama keberhasilan budidaya udang," ujarnya saat dimintai keterangan di lingkungan kantor Gubernur Lampung, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, upaya normalisasi kanal membutuhkan anggaran yang sangat besar, diperkirakan mencapai Rp7 hingga Rp9 triliun.
Dengan keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah daerah, penanganan menyeluruh dalam waktu dekat dinilai sulit dilakukan.
Sebagai langkah strategis, pemerintah daerah saat ini tengah menginventarisasi tambak-tambak yang berada dekat dengan laut.
Tambak di wilayah tersebut dinilai masih memiliki sirkulasi air yang relatif baik karena tidak sepenuhnya bergantung pada kanal utama.
"Tambak yang dekat laut kita prioritaskan, karena sirkulasi airnya masih alami dan lancar. Ini penting untuk menjaga produksi tetap berjalan," jelasnya.
Sementara itu, tambak yang berada jauh dari laut sangat bergantung pada kanal, sehingga terdampak paling besar akibat sedimentasi.
Dari sisi produktivitas, kondisi ini turut berdampak pada hasil panen udang. Qodratul menyebutkan bahwa tingkat produksi saat ini belum optimal.
Secara ideal, tambak bisa mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP) jika produktivitas berada di atas 50 persen. Namun, di lapangan seringkali hanya mencapai sekitar 40 persen.
"Yang bisa mencapai di atas 50 persen itu hanya sekitar 10 persen dari total luas tambak. Kalau totalnya 8.000 hektare, berarti hanya sekitar 800 hektare yang optimal," ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah membuka peluang keterlibatan pihak swasta melalui skema kemitraan.
Hal ini diharapkan dapat membantu percepatan penanganan sekaligus meningkatkan kembali produktivitas tambak udang Dipasena.
"Sehingga kita harapkan swasta atau kemitraan. Karena pemerintah juga hari ini tidak sanggup. Untuk yang dekat dengan laut ini kita sedang inventarisir," tuturnya.
Sementara itu data Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung menunjukkan bahwa produksi udang Dipasena sempat mengalami tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2018 produksi tercatat sebesar 8.622 ton, meningkat menjadi 9.965 ton pada 2019, kemudian naik menjadi 12.514 ton pada 2020, dan mencapai puncaknya pada 2021 sebesar 16.209 ton.
Namun setelah itu, produksi mengalami penurunan signifikan. Pada 2022 tercatat sebesar 9.923 ton, turun menjadi 5.160 ton pada 2023, kembali menurun menjadi 4.164 ton pada 2024, dan hingga Agustus 2025 baru mencapai 2.144 ton.
Saat ini investor PT Sakti Biru Indonesia (SBI), perusahaan yang bergerak di bidang budidaya udang vaname, melirik potensi besar Dipasena untuk terlibat dalam proses revitalisasi.
PT SBI menerapkan standar operasional prosedur (SOP) budidaya modern, mulai dari persiapan tambak, penebaran benih, manajemen pakan, hingga proses panen. (*)
Berita Lainnya
-
Puluhan Siswa, Guru hingga Wali Murid Keracunan MBG
Kamis, 26 Februari 2026 -
Dampak Cuaca Ekstrem Hidrometeorologi, Petani Semangka di Lampung Terancam Gagal Panen
Selasa, 17 Februari 2026 -
Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Indah Jaya Tulang Bawang ‘Panen Ikan’ sebagai Protes
Jumat, 06 Februari 2026 -
Ancam Sebar Foto Asusila, Wartawan Gadungan di Tulang Bawang Peras Korban Rp30 Juta
Kamis, 05 Februari 2026









