• Kamis, 19 Maret 2026

H-1 Lebaran Harga Sembako Melonjak, Pasar Metro Tetap Dipadati Pembeli

Kamis, 19 Maret 2026 - 11.19 WIB
23

Potret pasar hamparan Kopindo yang dipadati pembeli sejak pagi. Foto: Arby/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - H-1 Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, geliat ekonomi di Kota Metro justru menunjukkan ironi yang berulang setiap tahun, harga kebutuhan pokok melonjak tajam, namun daya beli masyarakat seolah tak tergoyahkan.

Sejumlah pasar tradisional hingga modern, mulai dari tingkat grosir hingga pengecer, tetap dipadati pembeli yang berburu kebutuhan lebaran.

Pantauan Kupastuntas.co pada Kamis (19/3/2026) menunjukkan lonjakan harga yang cukup signifikan dibandingkan awal pekan, Senin (16/3/2026) lalu. Kenaikan ini terjadi pada sejumlah komoditas utama yang menjadi kebutuhan wajib masyarakat menjelang hari raya.

Harga daging sapi misalnya, yang sebelumnya berada di angka Rp140.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp150.000 per kilogram. Daging ayam pun ikut merangkak naik dari Rp38.500 menjadi berkisar Rp40.000 hingga Rp43.000 per kilogram.

Namun, lonjakan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit. Dalam hitungan hari, harga cabai rawit melonjak hampir dua kali lipat, dari Rp51.000 menjadi Rp100.000 per kilogram.

Sementara cabai merah keriting naik dari Rp41.000 menjadi Rp45.000 per kilogram, dan cabai hijau dari Rp25.000 menjadi Rp28.000 per kilogram.

Di tengah lonjakan tersebut, beberapa komoditas masih relatif stabil. Bawang merah bertahan di kisaran Rp36.000 per kilogram, sementara bawang putih cutting masih berada di angka Rp35.000 per kilogram.

Meski harga melambung, realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda. Pasar-pasar di Kota Metro justru semakin ramai diserbu warga.

Lonjakan harga tidak menyurutkan langkah masyarakat untuk tetap memenuhi kebutuhan lebaran, mulai dari bahan makanan hingga kebutuhan pelengkap lainnya.

Salah seorang warga Metro, Siti Aisyah (48), mengaku tidak punya pilihan selain tetap berbelanja meski harga melonjak tinggi.

“Namanya mau lebaran, kebutuhan tetap harus dipenuhi. Walaupun mahal, ya tetap dibeli, paling dikurangi jumlahnya. Tadi beli bawang, cabai sama bumbu-bumbu. Yang naiknya tinggi cabai rawit, sekarang Rp 100 ribu sekilo,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rahmat (45), warga lainnya, yang menyebut kenaikan harga sudah menjadi ritual tahunan menjelang Idul Fitri.

“Setiap tahun pasti begini. Harga naik, tapi masyarakat tetap beli. Karena ini momen penting, mau tidak mau harus dipaksakan. Kalau kata orang, hari ini prepekan,” katanya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kebutuhan konsumsi menjelang hari besar keagamaan masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar, meski di sisi lain menekan kondisi ekonomi rumah tangga.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat juga dihadapkan pada perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat perbedaan penentuan awal Syawal antara organisasi keagamaan dan pemerintah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang didasarkan pada metode hisab dengan Parameter Kalender Global (PKG).

Sementara itu, perhitungan BMKG menunjukkan bahwa posisi hilal di Indonesia saat matahari terbenam masih berada di bawah kriteria visibilitas, dengan ketinggian antara 0,91 hingga 3,13 derajat dan elongasi antara 4,54 hingga 6,1 derajat.

Hasil serupa juga disampaikan oleh BRIN. Peneliti BRIN menyebut bahwa secara astronomi, hilal belum memenuhi kriteria MABIMS pada 19 Maret 2026, sehingga Idul Fitri diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama masih menunggu hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama pada 19 Maret 2026 untuk menetapkan secara resmi awal Syawal. Sidang tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pakar astronomi, lembaga riset, hingga organisasi kemasyarakatan Islam.

Di tengah perbedaan penetapan tersebut, denyut ekonomi masyarakat Metro tetap bergerak cepat. Pasar yang sesak, harga yang melambung, dan kebutuhan yang tak bisa ditunda menjadi potret nyata bahwa lebaran bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang perjuangan ekonomi rakyat.

Kondisi ini sekaligus menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok. Sebab, di balik ramainya pasar menjelang lebaran, tersimpan beban ekonomi masyarakat yang kian berat, namun tetap dipikul demi menjaga tradisi dan kebahagiaan hari raya. (*)