• Jumat, 20 Maret 2026

Menyalakan Warisan Leluhur, Malaman Buka Dibi Kembali Semarak di Lambar

Jumat, 20 Maret 2026 - 21.12 WIB
11

Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus ikut merayakan malaman buka dibi, sebuah warisan budaya khas Lampung Barat yang selalu hadir menjelang hari kemenangan umat Muslim. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Cahaya api mulai berpendar di sepanjang halaman rumah warga Pekon Sinar Jaya, Kecamatan Kebun Tebu, pada Jumat malam, 20 Maret 2026. Satu per satu batok kelapa disusun menjulang, lalu dinyalakan, menghadirkan suasana hangat yang khas di malam menjelang Hari Raya Idulfitri.

Di tengah suasana yang sarat makna itu, Parosil Mabsus turut hadir dan membaur bersama masyarakat. Ia memastikan perayaan Idulfitri tahun ini akan berlangsung meriah, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Malam itu bukan sekadar perayaan biasa. Warga tengah menghidupkan kembali tradisi Malaman Buka Dibi, sebuah warisan budaya khas Lampung Barat yang selalu hadir menjelang hari kemenangan umat Muslim.

Tradisi ini umumnya dilakukan pada malam ke-27 Ramadan hingga malam 1 Syawal. Hampir di setiap pekon di wilayah Lampung Barat, pemandangan serupa dapat dijumpai, menciptakan panorama cahaya yang indah di tengah gelapnya malam.

Warga dengan penuh semangat mengumpulkan batok kelapa, sisa dari aktivitas memasak rendang atau gulai. Batok-batok tersebut kemudian disusun rapi di depan rumah masing-masing, membentuk tumpukan yang menjulang tinggi sebelum akhirnya dibakar.

Api yang menyala bukan hanya sekadar penerang. Di masa lalu, bara dari batok kelapa itu dimanfaatkan untuk menyetrika pakaian lebaran, menjadikannya simbol kesiapan menyambut hari raya dengan penuh kebersihan dan kerapian.

Seiring berjalannya waktu, fungsi praktis tersebut mulai bergeser. Namun nilai budaya dan kebersamaan yang terkandung dalam tradisi Malaman Buka Dibi tetap terjaga hingga kini.

Menurut Parosil Mabsus, tradisi ini merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Lampung Barat. Ia menyebutkan bahwa kebiasaan tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang dan menjadi ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain.

“Tradisi ini dilakukan dengan cara menyusun batok kelapa meninggi di depan rumah warga lalu dibakar hingga menghasilkan api yang menerangi setiap rumah,” ujarnya di hadapan masyarakat.

Ia menilai, pelaksanaan kembali tradisi ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya lokal yang harus terus dijaga.

Bagi masyarakat setempat, Malaman Buka Dibi juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan. Warga berkumpul, saling berbincang, dan merasakan kehangatan yang lahir dari cahaya api serta kebersamaan di malam penuh berkah.

Lebih dari itu, tradisi ini menjadi pengingat akan akar budaya yang kuat di Lampung Barat, yang dikenal sebagai salah satu wilayah asal muasal suku Lampung.

Parosil Mabsus pun berharap agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman. Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tetap menjaga dan melestarikannya.

“Harapan saya dijaga tradisi ini, karena Lampung Barat ini asal muasal suku Lampung. Jadi budaya itu banyak di Lampung Barat,” tuturnya.

Di akhir kegiatan, ia juga menegaskan pentingnya peran kaum milenial dalam menjaga warisan budaya. Baginya, keberlanjutan tradisi Malaman Buka Dibi berada di tangan generasi penerus yang diharapkan mampu merawat dan menghidupkannya di masa mendatang. (*).