• Jumat, 20 Maret 2026

Pesan Taqwa Menggema di Salat Id Muhammadiyah Lampung Barat

Jumat, 20 Maret 2026 - 13.43 WIB
79

Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Muhammadiyah Sebarus, Lampung Barat, Rabu pagi, 20 Maret 2026. Foto: Echa/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Ratusan jemaah mengikuti pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Muhammadiyah Sebarus, Lampung Barat, Rabu pagi, 20 Maret 2026.

Kegiatan yang digelar oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lampung Barat bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid An-Nur Sebarus ini berlangsung khidmat sejak pagi.

Jemaah datang dari berbagai wilayah sekitar untuk menunaikan ibadah secara berjemaah di ruang terbuka. Suasana tertib dan penuh kekhusyukan terlihat sepanjang pelaksanaan salat hari besar keagamaan umat Muslim itu.

Salat Idul Fitri dipimpin oleh imam M. Faiz Ribbani, sementara khutbah disampaikan oleh Yulian Sepri, S.Pd.I., yang juga menjabat sebagai Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah Lampung Barat. Jemaah tampak mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan tertib. Pelaksanaan berlangsung lancar tanpa kendala berarti.

Dalam khutbahnya, Yulian Sepri menekankan bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan, tetapi juga momentum untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Ia mengajak jemaah untuk tetap menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari. “Idul Fitri harus menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan,” ujarnya di hadapan jemaah.

Ia menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai ibadah setelah Ramadan. Ia juga menyampaikan bahwa Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk mensyukuri nikmat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Selain itu, hari raya ini diharapkan dapat memperkuat keimanan umat Islam.

"Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperbaiki diri dan memperkuat keimanan kita,” katanya.

Jemaah diimbau untuk menjadikan Idul Fitri sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam salah satu bagian khutbahnya, ia mengingatkan bahwa sekitar 30 hari sebelumnya umat Islam memulai ibadah Ramadan tanpa kepastian dapat bertemu kembali di tahun berikutnya.

Hal ini, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi diri. “Kita tidak pernah tahu apakah masih diberi kesempatan bertemu Ramadan berikutnya, maka jangan sampai kita lalai,” ujarnya. Ia mengajak jemaah untuk lebih serius dalam menjalankan ibadah.

Selain itu, ia juga menyinggung suasana takbir yang kerap menghadirkan rasa haru. Takbir tidak hanya menjadi bentuk pengagungan kepada Allah SWT, tetapi juga mengingatkan pada orang-orang terdekat yang telah meninggal dunia.

"Takbir yang kita kumandangkan sering kali mengingatkan kita pada mereka yang telah lebih dulu pergi,” katanya.

Momen tersebut menjadi bagian dari refleksi diri di hari raya. Yulian Sepri juga menekankan pentingnya memanfaatkan waktu, terutama saat berkumpul bersama keluarga.

Ia mengimbau agar kesempatan hidup yang masih diberikan dapat digunakan untuk memperbanyak ibadah. “Selagi waktu masih ada, mari kita manfaatkan untuk memperbaiki diri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam kehidupan, sebagaimana tujuan utama dari ibadah puasa Ramadan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Sebaik-baik bekal adalah takwa, itulah tujuan utama dari puasa yang kita jalankan,” katanya. Ia berharap jemaah mampu menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan.

Dalam penutup khutbahnya, ia mengajak jemaah untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Ia juga mencontohkan semangat anak-anak yang telah mampu berpuasa dan membaca Al-Qur’an sejak dini sebagai teladan. “Mari kita teladani semangat anak-anak dalam beribadah dan kita tingkatkan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah yang telah lebih dahulu melaksanakan Salat Id. Ia menegaskan bahwa perbedaan waktu pelaksanaan hari raya merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dipertajam di tengah masyarakat.

“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, saya mengucapkan selamat kepada keluarga kita Muhammadiyah yang telah melaksanakan Salat Id lebih awal. Karena tentu keluarga kita yang melaksanakan lebih awal juga memulai Ramadan lebih awal. Jangan kita mempertajam perbedaan, tetapi mari kita menghargai perbedaan itu,” ujarnya.

Parosil berharap perbedaan yang terjadi justru membawa keberkahan dan memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. “Mudah-mudahan perbedaan ini menunjukkan sebuah keberkahan. Jangan terlalu dipertajam perbedaannya, yang jelas selamat,” katanya.

Ia juga mengajak umat Islam menjadikan hari raya sebagai momentum memperkuat keimanan dan mempererat kebersamaan. Menurutnya, Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Ia berharap nilai-nilai kebaikan selama Ramadan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Parosil juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. Ia mengingatkan bahwa perbedaan, termasuk dalam penentuan waktu pelaksanaan Idul Fitri, merupakan hal yang wajar.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap saling menghormati dan menjaga toleransi.

"Perbedaan jangan dijadikan alasan untuk terpecah, tetapi harus menjadi kekuatan untuk saling menghargai,” ujarnya saat dimintai keterangan via sambungan WhatsApp.

Menurutnya, sikap saling menghormati dalam menyikapi perbedaan hari raya menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan. Ia menilai masyarakat Lampung Barat selama ini telah menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan tersebut. Hal ini harus terus dipertahankan agar kehidupan sosial tetap harmonis.

"Kita patut bersyukur karena masyarakat kita mampu menjaga kebersamaan meski ada perbedaan,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan Idul Fitri sebagai ajang mempererat tali silaturahmi. Momentum ini dinilai tepat untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Dengan terjalinnya komunikasi yang baik, diharapkan tercipta suasana yang damai di tengah masyarakat. Parosil menegaskan bahwa kebersamaan menjadi kunci dalam membangun daerah.

Selain itu, Parosil mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kondusivitas wilayah Lampung Barat. Ia berharap suasana aman dan nyaman yang telah terjaga selama ini dapat terus dipertahankan. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. “Mari kita bersama-sama menjaga Lampung Barat agar tetap damai dan sejuk,” ujarnya.

Parosil mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai Idul Fitri dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ia berharap semangat kebersamaan, toleransi, dan kepedulian sosial dapat terus ditingkatkan. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat akan semakin kuat dan harmonis. “Semoga Idul Fitri ini membawa keberkahan dan mempererat persaudaraan kita semua,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa bagi masyarakat yang belum melaksanakan salat Id hari ini, sesuai dengan ketetapan pemerintah, perayaan Idul Fitri akan dilaksanakan keesokan harinya. Hal tersebut merupakan bagian dari dinamika yang perlu disikapi dengan bijak oleh seluruh masyarakat.

“Bagi yang belum melaksanakan salat Id hari ini, sesuai dengan anjuran pemerintah, kita akan melaksanakan Salat Id atau Hari Raya Idul Fitri esok hari pada 21 Maret 2026,” ujarnya. Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan, persatuan, dan kondusivitas di Kabupaten Lampung Barat.

Salat Idul Fitri – Pelaksanaan salat Idul Fitri yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lampung Barat bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid An-Nur Sebarus. (*)