• Jumat, 27 Maret 2026

Antisipasi Kemarau Panjang, PT SIP Siagakan Tim dan Peralatan Hadapi Ancaman Karhutla

Jumat, 27 Maret 2026 - 13.32 WIB
144

Simulasi penanganan karhutla di area operasional PT SIP. Foto: Rio/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Mesuji – Potensi kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino mulai diantisipasi sejumlah pihak di wilayah Mesuji dan Tulang Bawang. Salah satunya dilakukan PT Sumber Indah Perkasa (SIP) dengan menggelar simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi cuaca di dua wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tanda-tanda memasuki musim kering. Minimnya curah hujan, terik matahari di siang hari, serta suhu panas yang masih terasa hingga malam menjadi indikator awal perubahan iklim yang perlu diwaspadai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan status El Nino Watch pada akhir Maret 2026. BMKG memprediksi peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat mencapai 50–60 persen pada semester kedua tahun ini, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan berpotensi berlangsung lebih lama dari biasanya.

Merespons kondisi tersebut, PT SIP menggelar apel siaga, sosialisasi, sekaligus simulasi penanganan karhutla di area operasional perusahaan sebagai langkah mitigasi dini.

RC Lampung PT SIP, Humala Sinaga, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di musim kemarau.

"PT Sumber Indah Perkasa bekerja sama dengan UPIKA dan masyarakat peduli api, Kecamatan Penawartama dan Mesuji Timur. Ini adalah langkah antisipasi kami," katanya, Jumat (27/03/2026).

Dalam upaya tersebut, perusahaan telah menyiapkan sumber daya manusia dan sarana pendukung untuk mempercepat penanganan jika terjadi kebakaran.

"Kami mensiagakan tim terlatih sebanyak 30 orang, ditambah 30 orang masyarakat siaga api," ujar Humala.

Ia menambahkan, dukungan peralatan juga telah disiapkan, mulai dari delapan unit mobil pemadam kebakaran hingga berbagai perlengkapan teknis di lapangan.

"Kemudian kita juga punya 8 unit mobil damkar, alat pompa air jinjing, pompa air punggung, alat pemukul, dan masih banyak alat lainnya," terangnya.

Humala menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri oleh perusahaan. Karena itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, melibatkan pemerintah daerah, aparat kepolisian, TNI, hingga pemerintah desa.

"Kami ada tim Karhutla, jadi kami terus koordinasi, di dalam tim ada Pemda, polisi, TNI, dan desa. Kami terus lakukan sosialisasi agar karhutla tidak terjadi. Kini, perkebunan sawit kami beserta plasma sekitar kurang lebih hampir 25 ribu hektare," tutupnya.

Langkah antisipatif ini diharapkan mampu menekan potensi kebakaran hutan dan lahan yang kerap meningkat saat musim kemarau, sekaligus menjaga stabilitas lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. (**)