• Senin, 30 Maret 2026

Ephorus HKBP: Dunia Sedang 'Sakit', Gereja Harus Hadir Jadi Solusi

Senin, 30 Maret 2026 - 15.29 WIB
25

Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, (berdiri tengah) dalam pembinaan Parhalado dan Fungsionaris HKBP Distrik XXXII Lampung, Senin (30/3/2026). Foto: Olla/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, menegaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi berbagai krisis serius, sehingga gereja dituntut untuk tidak tinggal diam, melainkan hadir sebagai bagian dari solusi.

Hal tersebut disampaikan dalam pembinaan Parhalado dan Fungsionaris HKBP Distrik XXXII Lampung, Senin (30/3/2026), melalui materi bertajuk 'Beriman yang Sehat di Tengah Dunia yang Sedang Sakit'.

Dalam pemaparannya, Ephorus menegaskan bahwa transformasi merupakan inti dari perjalanan iman. Ia mengangkat konsep “Hamubaon tu na umuli” yang berarti perubahan menjadi lebih baik.

Pertanyaannya, apakah manusia masih bisa berubah? Jawabannya: masih,” ujarnya.

Mengutip hasil survei YouGov (AS, 2020), ia menyebutkan bahwa 53 persen orang berusia di atas 40 tahun masih bisa berubah karena kesadaran, sementara 30 persen berubah karena tekanan keadaan, dan 17 persen tidak berubah.

Namun, berdasarkan survei internal HKBP, optimisme perubahan justru lebih tinggi, dengan lebih dari 80 persen responden meyakini bahwa manusia masih bisa berubah.

"Ini menjadi harapan bahwa transformasi itu nyata dan mungkin,” tegasnya.

Ephorus menekankan bahwa penguatan iman harus dimulai dari keluarga sebagai ecclesia domestica atau gereja kecil.

"Keluarga adalah sekolah pertama iman dan karakter,” katanya.

Baca juga : Praeses HKBP Lampung: Pengurus Bukan Pemilik, Harus Melayani dengan Karunia dan Kasih

Namun, ia mengingatkan adanya tantangan serius dalam pengajaran iman, salah satunya rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Mengacu pada data internasional, Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara dalam hal minat baca, bahkan menurut UNESCO, hanya 1 dari 1000 orang yang rajin membaca.

"Membaca itu seperti mengisi kolam inspirasi. Tanpa itu, pengajaran iman akan lemah,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan berbagai dokumen gereja seperti Konfessi, Katekismus, serta 18 modul yang telah disiapkan oleh Kantor Pusat HKBP.

Dalam bagian utama materinya, Ephorus memetakan berbagai persoalan besar yang dihadapi dunia saat ini. Mulai dari korupsi, di mana Indonesia berada di peringkat 99 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, hingga persoalan narkoba yang disebut telah masuk ke hampir seluruh wilayah, termasuk kota-kota kecil.

Kerugian ekonomi akibat narkoba pun terus meningkat, dari Rp63 triliun pada 2015 menjadi Rp84 triliun pada 2023.

Baca juga : Donald Haris Sihotang Ajak 300 Parhalado HKBP Lampung Bertransformasi, Tegaskan Iman Harus Hidup dari Keluarga

Selain itu, ia juga menyoroti maraknya judi online dengan nilai transaksi mencapai Rp327 triliun, melibatkan sekitar 2,37 juta orang, termasuk 960 ribu pelajar dan mahasiswa.

"Ini ancaman serius bagi generasi muda kita. Karena itu, literasi digital sangat penting,” tegasnya. Tak hanya itu, isu perdagangan manusia (human trafficking) dan krisis ekologis juga menjadi perhatian serius.

Krisis Ekologi Jadi Ancaman Global Utama

Ephorus menegaskan bahwa perubahan iklim kini menjadi ancaman global nomor satu. Bahkan, Indonesia mencatat 'prestasi negatif' di tingkat internasional, seperti laju penebangan hutan tercepat, penghasil sampah plastik terbesar kedua, dan penyumbang emisi besar ke atmosfer.

Sebagai respons, ia mengajak gereja untuk terlibat aktif melalui gerakan 5R :

  • Repent (bertobat)
  • Reduce (mengurangi)
  • Reuse (menggunakan kembali)
  • Recycle (mendaur ulang)
  • Replant (menanam kembali)

Di akhir penyampaiannya, Ephorus menegaskan bahwa gereja tidak boleh menjadi bagian dari masalah.

"Dengan pertolongan Tuhan, HKBP harus hadir sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan, bukan memperparah apalagi menjadi sumber masalah,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penegasan kuat bahwa transformasi iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dimulai dari keluarga, gereja, hingga kehidupan bermasyarakat. (*)