• Senin, 30 Maret 2026

Praeses HKBP Lampung: Pengurus Bukan Pemilik, Harus Melayani dengan Karunia dan Kasih

Senin, 30 Maret 2026 - 15.21 WIB
27

Sesi ceramah pada kegiatan Pembinaan Parhalado dan Fungsionaris HKBP se-Distrik XXXII Lampung, di Gereja HKBP Kedaton, Senin (30/03/2026). Foto: Olla/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Praeses HKBP Distrik XXXII Lampung, Pdt. Mauli H. Aritonang, S.Th, menegaskan bahwa seorang pengurus gereja bukanlah pemilik kekuasaan, melainkan pelayan yang dipanggil untuk bekerja dengan karunia dan kasih Tuhan.

Hal itu disampaikannya dalam sesi ceramah pada kegiatan Pembinaan Parhalado dan Fungsionaris HKBP se-Distrik XXXII Lampung, di Gereja HKBP Kedaton, Senin (30/03/2026).

Mengangkat tema “Pengurus yang Baik: Melayani dengan Karunia, Membangun Bersama”, ia mengingatkan bahwa dasar pelayanan gereja harus berakar pada Firman Tuhan, khususnya 1 Petrus 4:10–11.

"Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah,” kutipnya.

Praeses mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi mendalam.

"Coba kita jujur sejenak. Ketika Petrus berbicara kepada kita, kita diingatkan bahwa bahkan Petrus sendiri pernah gagal,” ujarnya.

Ia menegaskan, salah satu persoalan yang sering muncul dalam pelayanan adalah pola pikir yang keliru, yakni merasa sebagai “pemilik” dalam organisasi gereja.

"Pengurus, bukan pemilik. Ini yang harus diluruskan,” tegasnya.

Baca juga : Donald Haris Sihotang Ajak 300 Parhalado HKBP Lampung Bertransformasi, Tegaskan Iman Harus Hidup dari Keluarga

Karena itu, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi pengurus, tetapi harus menjadi pengurus yang baik, yang melayani dengan hati dan tanggung jawab.

Praeses juga menekankan pentingnya kesatuan dalam keberagaman peran di dalam gereja. Mengutip 1 Korintus 12:17–20, ia menjelaskan bahwa perbedaan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan.

"Tim yang kompak bukan tim di mana semua orang berpikir sama, tetapi tim yang saling menghargai perbedaan dan bekerja menuju tujuan yang sama,” katanya.

Ia mengilustrasikan dengan Buku Ende dan Buku Nyanyian HKBP yang berisi ratusan lagu dengan nada dan suasana berbeda, namun memiliki satu tujuan: memuliakan Tuhan. "Beraneka ragam, tetapi satu sumber,” ujarnya.

Dalam materinya, Praeses juga membandingkan dua sikap dalam pelayanan: mental “menjabat” dan mental “melayani”.

Mental “menjabat”, kata dia, cenderung bertanya: apa yang saya dapatkan dari posisi ini, dan mudah kecewa ketika tidak mendapat pengakuan.

Sebaliknya, mental “melayani” berangkat dari kesadaran: apa yang bisa saya berikan karena Tuhan sudah memberikan begitu banyak, serta tetap bekerja meski tidak terlihat.

"Inilah yang harus kita bangun dalam pelayanan,” tegasnya.

Praeses menekankan bahwa kemuliaan Tuhan justru terpancar dari hal-hal sederhana dalam pelayanan.

Mulai dari bendahara yang mengelola keuangan secara jujur dan transparan, sekretaris yang tertib administrasi, hingga pimpinan jemaat yang memimpin dengan keteladanan, bukan kekuasaan.

"Pelayanan bukan soal posisi, tetapi soal tanggung jawab dan kesetiaan,” katanya.

Di akhir penyampaiannya, Praeses mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga motivasi pelayanan. Ia mengingatkan :

  • Saat pelayanan terasa lelah, ingat bahwa Tuhan melihat segala sesuatu
  • Saat terjadi ketegangan, ingat bahwa sesama pengurus bukanlah saingan
  • Saat motivasi menurun, kembalilah pada kasih karunia Tuhan

"Pelayanan kita harus digerakkan oleh kasih, bukan ambisi,” pesannya.

Praeses menutup materinya dengan penegasan kuat bahwa pelayanan gereja harus dibangun di atas semangat saling melayani, bukan saling menguasai.

"Pengurus yang baik bukan pemilik yang berkuasa, tetapi pelayan yang setia. Karunia kita beraneka ragam, tetapi semuanya diperlukan untuk satu tujuan,” pungkasnya. (*)