• Jumat, 15 Mei 2026

Dokter Tumbuh Kembang RS Urip Sumoharjo Jelaskan Penyebab Anak Tidak Menoleh Saat Dipanggil

Selasa, 07 April 2026 - 09.22 WIB
1

Konsultan tumbuh kembang anak RS Urip Sumoharjo Bandar Lampung, dr. Huminsa Ranto Morison Panjaitan. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Konsultan tumbuh kembang anak RS Urip Sumoharjo Bandar Lampung, dr. Huminsa Ranto Morison Panjaitan, mengingatkan para orang tua untuk lebih peka terhadap respons anak saat dipanggil.

Menurutnya, anak yang tidak menoleh ketika dipanggil bisa menjadi tanda adanya gangguan tertentu yang perlu diperhatikan sejak dini.

Dalam edukasi kesehatan yang disampaikan, dr. Huminsa menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Ia menyebut ada tiga kemungkinan utama yang perlu dipahami oleh orang tua.

"Pertama, harus dilihat dulu aktivitas anak saat dipanggil. Kalau anak memang sedang fokus bermain, responsnya bisa saja berbeda,” ujarnya.

Namun, apabila anak sama sekali tidak merespons dalam berbagai situasi, kondisi itu dapat mengarah pada gangguan pendengaran atau sensory neural hearing loss.

Menurutnya, anak dengan gangguan pendengaran umumnya tidak akan menoleh meskipun dipanggil berulang kali.

Selain itu, dr. Huminsa juga menjelaskan kemungkinan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau ADHD.

Anak dengan kondisi ini biasanya masih merespons saat dipanggil, tetapi hanya sesaat sebelum kembali fokus pada aktivitasnya sendiri.

"Kalau dipanggil sekali dia menoleh, lalu kembali bermain dan sulit mempertahankan perhatian, itu bisa mengarah ke ADHD,” jelasnya.

Sementara itu, apabila anak terlihat sangat asyik dengan dunianya sendiri dan tidak menunjukkan ketertarikan terhadap orang di sekitarnya, kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD).

"Anak seperti merasa orang lain asing di dunianya. Ini perlu evaluasi lebih lanjut,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa risiko gangguan pendengaran lebih tinggi pada anak yang lahir prematur, terutama di bawah usia kehamilan 31 minggu.

Hal tersebut berkaitan dengan belum sempurnanya pembentukan saraf dan reseptor pendengaran pada bayi.

Selain membahas gangguan tumbuh kembang, dr. Huminsa turut menyoroti pentingnya pola makan anak. Ia menyebut sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makanan tinggi gula sebaiknya dikurangi karena dapat meningkatkan perilaku hiperaktif pada anak.

Meski demikian, ia mengingatkan orang tua agar tidak sembarangan menerapkan pantangan makanan secara berlebihan tanpa pengawasan tenaga medis.

"Kita tetap harus memperhatikan aspek pertumbuhan anak. Jangan sampai karena terlalu banyak pantangan, justru kebutuhan gizinya tidak terpenuhi,” tutupnya. (*)