• Rabu, 08 April 2026

Lewat Kemah Sastra 2026: Ari Pahala Tegaskan Puisi sebagai Cara Memahami dan Memaknai Dunia

Rabu, 08 April 2026 - 17.59 WIB
13

Budayawan dan penyair Lampung Ari Pahala Hutabarat dalam sesi pelatihan menulis pada Kemah Sastra 2026. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, ‎Bandar Lampung - Puisi tidak sekadar rangkaian kata, melainkan upaya “menjumpai dan dijumpai” melalui bahasa. Gagasan ini disampaikan oleh budayawan dan penyair Lampung Ari Pahala Hutabarat dalam sesi pelatihan menulis pada Kemah Sastra 2026 di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Rabu (8/4/2026).

‎Dalam pemaparannya, Ari menegaskan bahwa puisi memiliki peran unik dibandingkan ilmu pengetahuan. Jika dalam ilmu bahasa hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, maka dalam puisi bahasa memiliki peran ganda: sebagai alat sekaligus tujuan.

"Puisi, melalui bahasa, memperbarui cara kita memandang, mengalami, menghayati, merayakan, hingga mempertanyakan dunia dan manusia,” ujarnya di hadapan peserta.

‎Kegiatan Kemah Sastra 2026 diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Lampung, seperti Tulang Bawang, Pesisir Barat, Lampung Utara, Kota Metro, Lampung Selatan, Pringsewu, Pesawaran, dan Bandar Lampung.

‎Ari juga menyoroti bahwa persoalan utama dalam penulisan puisi sering kali terletak pada penentuan tema atau gagasan. Pertanyaan seperti “puisi ini tentang apa” hingga “apa yang ingin disampaikan” menjadi tantangan klasik bagi penulis.

‎Menurutnya, meski puisi dan ilmu tampak berbeda dalam cara penyampaian (how to tell), keduanya memiliki kesamaan dalam semangat menggali realitas, baik dari sisi isi (what is) maupun cara penyampaian.

‎Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak membaca dan menafsirkan karya sastra, termasuk puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono, untuk memahami ruang makna dan ambiguitas dalam puisi.

‎Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Fitri Angraini, menjelaskan bahwa Kemah Sastra 2026 telah memasuki hari ketiga. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari tahap seleksi karya dan menjadi bagian dari proses penilaian untuk menentukan pemenang lomba cipta puisi dan cerpen tingkat SMP, SMA, dan mahasiswa.

‎Program ini difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui dana Indonesiana, dengan menghadirkan sejumlah pemateri lain seperti Arman AZ, serta akademisi Yinda Dwi Gustira dan Devin Cumbuan Putri yang membahas alih wahana ke bahasa Lampung.

‎Kemah Sastra ini diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus eksplorasi bagi generasi muda dalam memahami dan mengembangkan karya sastra, khususnya puisi. (*)