Ketahanan Infrastruktur Transportasi Kota Sebagai Dampak Banjir di Bandar Lampung, Oleh: Ir. Sari Anton
Ir. Sari Anton, S.T., M.T., I.P.M. – Dosen Prodi S1 Teknik Sipil – Universitas Teknokrat Indonesia. Foto: Ist.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Banjir yang kembali melanda Kota Bandar Lampung seharusnya tidak lagi dianggap sebagai peristiwa musiman semata. Kejadian ini merupakan peringatan nyata bahwa ketahanan infrastruktur perkotaan kita masih lemah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menunjukkan banjir terjadi di puluhan titik, mulai dari Sukarame, Way Halim, Rajabasa, hingga Tanjungkarang dan Kedamaian. Luasnya sebaran genangan ini menegaskan bahwa banjir telah menjadi persoalan sistemik, bukan insidental.
Dalam konteks infrastruktur, kondisi ini menjadi semakin penting untuk dicermati. Berdasarkan Keputusan Wali Kota Bandar Lampung Nomor 344/III.03/HK/2025, Kota Bandar Lampung memiliki 509 ruas jalan dengan total panjang 478,024 km.
Dengan cakupan genangan yang diperkirakan mencapai sekitar ±2–5% dari total jaringan jalan, dapat diperkirakan bahwa sejumlah ruas mengalami dampak langsung. Dampak tersebut tidak hanya bersifat lokal, tetapi berpotensi memengaruhi kinerja sistem transportasi kota secara keseluruhan.
Di balik genangan air yang terlihat di permukaan, terdapat masalah yang lebih serius terganggunya fungsi infrastruktur transportasi.
Jalan sebagai urat nadi kota tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi, distribusi logistik, dan mobilitas masyarakat. Ketika jalan tergenang secara berulang, dampaknya meluas dari kemacetan hingga kerugian ekonomi.
Namun, persoalan yang kerap luput dari perhatian adalah kerusakan struktural jalan akibat banjir. Air yang menggenang tidak sekadar menghambat lalu lintas, tetapi juga meresap ke dalam lapisan perkerasan.
Akibatnya, daya dukung tanah menurun, lapisan pondasi melemah, dan kerusakan seperti retak, gelombang, hingga deformasi permukaan terjadi lebih cepat.
Berbagai studi menunjukkan bahwa jalan yang sering terendam mengalami percepatan penurunan kualitas dibandingkan kondisi normal, bahkan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama setelah banjir surut.
Kondisi ini semakin kompleks di kota berkembang seperti Bandar Lampung. Pertumbuhan kendaraan yang pesat tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai.
Banyak ruas jalan masih dirancang dengan pendekatan lama yang belum memperhitungkan risiko banjir sebagai faktor utama. Akibatnya, hujan deras hampir selalu berujung pada genangan yang mempercepat kerusakan infrastruktur.
Sudah saatnya pendekatan pembangunan jalan diubah. Infrastruktur transportasi tidak bisa lagi dirancang hanya untuk kondisi normal, tetapi harus adaptif terhadap risiko lingkungan, termasuk banjir.
Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan material stabilisasi pada lapisan pondasi jalan, seperti campuran semen, yang terbukti lebih tahan terhadap perubahan kadar air.
Dengan pendekatan ini, umur layanan jalan dapat diperpanjang dan biaya perbaikan jangka panjang dapat ditekan.
Selain itu, persoalan banjir tidak hanya berdampak pada fisik jalan, tetapi juga pada lingkungan. Air limpasan dari permukaan jalan membawa berbagai polutan mulai dari sedimen hingga residu kendaraan yang berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat. Artinya, pengelolaan air hujan tidak bisa dipisahkan dari perencanaan transportasi.
Karena itu, penanganan banjir di Bandar Lampung harus dilakukan secara terintegrasi. Perbaikan drainase menjadi langkah mendesak, namun tidak cukup jika tidak diiringi dengan pembaruan standar pembangunan jalan.
Pemerintah daerah perlu menetapkan desain perkerasan yang lebih tahan terhadap air serta memperkuat program pemeliharaan preventif, terutama pada ruas-ruas jalan yang rawan tergenang.
Pengelolaan banjir yang dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan kapasitas drainase, penggunaan material tahan air, serta pemeliharaan preventif memiliki potensi besar dalam memperbaiki kondisi jalan.
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerusakan jalan pada drainase yang buruk dapat mencapai sekitar 36%, sedangkan pada kondisi drainase yang baik hanya sekitar 2,6%.
Perbedaan ini menegaskan bahwa kualitas drainase menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan jalan. Dengan memperbaiki sistem drainase, tingkat kerusakan jalan dapat ditekan secara signifikan, yaitu turun sekitar 33,4% atau lebih dari 90% jika dilihat secara perbandingan.
Perubahan iklim yang meningkatkan intensitas curah hujan membuat tantangan ini semakin mendesak. Kota yang tangguh bukanlah kota yang bebas dari banjir, melainkan kota yang mampu memastikan infrastrukturnya tetap berfungsi dalam kondisi ekstrem. Bandar Lampung memiliki peluang untuk berbenah ke arah tersebut.
Momentum banjir yang terjadi saat ini seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar peristiwa yang berlalu, tetapi dorongan untuk memperbaiki cara kita merencanakan dan membangun kota.
Ketahanan transportasi tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kontribusi bersama dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat.
Tanpa sinergi yang kuat dan berbasis ilmu pengetahuan, persoalan yang sama akan terus berulang dengan dampak yang semakin besar di masa mendatang.
Daftar di spmb.teknokrat.ac.id (*)
Berita Lainnya
-
Pusat Turun Tangan, Lampung Jadi Prioritas: 125 Ribu Kematian TBC per Tahun Jadi Alarm Nasional
Selasa, 14 April 2026 -
Gubernur Lampung Tekankan Kolaborasi dan Deteksi Dini dalam Percepatan Eliminasi TBC
Selasa, 14 April 2026 -
Isu Merger Mengemuka, NasDem Lampung Tegaskan Loyalitas ke Surya Paloh
Selasa, 14 April 2026 -
Kasus TBC Lampung Tembus 30.745, Bandar Lampung Sumbang 5.800 Kasus
Selasa, 14 April 2026








