• Minggu, 19 April 2026

‎Sehari Hadiri Empat Pesta Bona Taon, Donald Harris Sihotang Serukan Persatuan dan Pelestarian Budaya Batak di Lampung

Minggu, 19 April 2026 - 20.16 WIB
42

Ketua Umum Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) Lampung, Dr. Donald Harris Sihotang, saat mengunjungi Pesta Bona Taon marga yang digelar di sejumlah titik di Bandar Lampung, Minggu (19/04/2026). Foto: Ola/Kupastuntas.co

‎Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Ketua Umum Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) Lampung, Dr. Donald Harris Sihotang, menegaskan pentingnya menjaga falsafah hidup masyarakat Batak dalam kehidupan bermasyarakat di perantauan, khususnya nilai Dalihan Na Tolu, marsiadapari, serta prinsip “di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.”

‎Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian kunjungan Pesta Bona Taon marga yang digelar di sejumlah titik di Bandar Lampung, Minggu (19/04/2026). 

‎Dalam setiap kegiatan, baik yang dihadiri langsung maupun yang diwakili, Donald Sihotang secara konsisten menitipkan pesan yang sama untuk dibacakan, sebagai bentuk komitmen menjaga arah nilai dan peran organisasi.

‎Dalam kunjungan tersebut, Donald Sihotang didampingi Sekretaris Umum Kerabat Lampung, Pdt. Haposan Mesak Hutagalung, memulai kegiatan dari Punguan Marga Siboro di Asilo Hermelink, Jalan Teuku Umar, kemudian melanjutkan ke Punguan Marga Borbor Marsada di Bapelkes, Rajabasa, dan terakhir menghadiri Punguan Marga Sitanggang di Bapelkes, Rajabasa. 


‎Pada waktu yang sama, pesta bona taon Punguan Marga Munthe di Gedung Premium, Tanjung Senang dihadiri oleh Wakil Ketua Kerabat Lampung, MJD Manurung.

‎Dalam sambutannya, Donald Sihotang menjelaskan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan sistem nilai utama dalam kehidupan masyarakat Batak yang mengatur keseimbangan hubungan sosial antara hula-hula, dongan tubu, dan boru. Falsafah ini mengajarkan penghormatan, tanggung jawab, serta etika dalam setiap relasi sosial, sehingga tercipta keteraturan dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

‎Selain itu, nilai marsiadapari menjadi landasan kuat dalam praktik gotong royong, saling membantu, dan solidaritas sosial, baik dalam suasana sukacita maupun duka. Nilai ini menjadi perekat utama yang menjaga kekompakan masyarakat Batak, terutama di wilayah perantauan.

‎Lebih luas, ia juga mengingatkan bahwa falsafah hidup orang Batak tidak terlepas dari nilai-nilai seperti hamoraon (kesejahteraan), hagabeon (keturunan), dan hasangapon (kehormatan), yang harus dicapai melalui cara-cara yang bermartabat, beretika, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

‎“Nilai-nilai ini bukan sekadar simbol budaya, tetapi menjadi pedoman hidup. Kita diajarkan untuk saling menghormati, saling menopang, dan menjaga harmoni. Di perantauan, kita harus mampu beradaptasi, menghargai kearifan lokal, serta membangun sinergi dengan seluruh komponen masyarakat, termasuk pemerintah daerah maupun pusat,” ujarnya.

‎Donald Sihotang juga menegaskan bahwa masyarakat Batak di Provinsi Lampung saat ini telah menjadi bagian integral dari masyarakat daerah. Sebagian besar tidak hanya berasal dari Sumatera Utara, tetapi juga telah lahir, tumbuh, bekerja, dan berkeluarga di Lampung.

‎“Masyarakat Batak di Lampung hidup, bekerja, dan berkontribusi di berbagai sektor. Anak-anak kita bersekolah di Lampung, tumbuh di Lampung, dan masa depan kita juga di Lampung. Karena itu, kita harus mampu menghargai budaya lokal dan ikut serta membangun daerah ini,” tegasnya.

‎Kerabat Lampung, lanjutnya, hadir sebagai organisasi sosial budaya yang menjadi rumah besar bagi masyarakat Batak di provinsi ini.

Organisasi ini berperan dalam mempersatukan, mempererat hubungan kekeluargaan, serta menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman.

‎Ia juga mengungkapkan bahwa dari sekitar 65 marga yang tergabung dalam Kerabat Lampung, hingga minggu ketiga April 2026, dirinya telah menyambangi 51 marga yang melaksanakan Pesta Bona Taon sejak Januari 2026.

‎“Ini adalah bentuk komitmen kita untuk hadir, menyapa, dan memastikan bahwa semangat persaudaraan tetap hidup dan terjaga,” katanya.

‎Lebih lanjut, Donald Sihotang menekankan pentingnya regenerasi budaya kepada generasi muda Batak. Menurutnya, generasi muda harus tetap mengingat asal-usulnya, menjaga identitas budaya, serta mengamalkan nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

‎“Budaya tidak hanya bicara tentang identitas, tetapi juga karakter. Kita ingin generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jati diri, beretika, dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.

‎Rangkaian Pesta Bona Taon yang digelar oleh masing-masing marga tersebut berlangsung dalam suasana penuh sukacita, kekeluargaan, dan semangat kebersamaan.

‎Pesta Bona Taon merupakan tradisi tahunan masyarakat Batak sebagai ungkapan syukur atas perjalanan kehidupan di tahun sebelumnya, sekaligus memohon berkat dan kebaikan memasuki tahun yang baru.

‎Momentum ini biasanya dilaksanakan pada awal tahun, mulai dari bulan Januari hingga sekitar bulan Mei, dan menjadi ruang mempererat silaturahmi antar keluarga besar marga. (*)