• Senin, 20 April 2026

Lampung Sabet Juara Umum Angkat Besi 2026, PABSI Kritik Minimnya Bibit Baru Menuju Asian Games

Senin, 20 April 2026 - 09.53 WIB
26

Lampung keluar sebagai juara umum usai menutup kompetisi di puncak klasemen dengan raihan enam medali emas dan tiga perak. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Keberhasilan Provinsi Lampung meraih gelar juara umum pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi 2026 tak sepenuhnya disambut tanpa catatan. Di balik capaian tersebut, Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) menyoroti minimnya kemunculan atlet baru yang dinilai siap bersaing di level internasional.

Kejurnas yang berlangsung di GOR Saparua, Kota Bandung, mempertandingkan 12 kelas dengan total tiga medali emas di setiap kelas, yakni dari nomor snatch, clean and jerk, serta total angkatan.

Pada hari terakhir pertandingan, Minggu (19/4/2026), Lampung menutup kompetisi di puncak klasemen dengan raihan enam medali emas dan tiga perak. Posisi kedua ditempati Jambi yang mengoleksi enam emas, satu perak, dan lima perunggu.

Tuan rumah Jawa Barat harus puas di peringkat ketiga dengan perolehan lima emas, 10 perak, dan tujuh perunggu. Sementara itu, Jawa Timur berada di posisi keempat dengan empat emas, tiga perak, dan tiga perunggu, disusul Aceh di posisi kelima dengan empat emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Meski jalannya kompetisi relatif lancar, Sekretaris Jenderal PB PABSI, Djoko Pramono, melontarkan kritik tajam terhadap pengurus provinsi terkait kualitas atlet yang diturunkan.

Menurutnya, Kejurnas kali ini belum mampu menjadi ajang lahirnya atlet potensial yang bisa memperkuat Pelatnas, terutama menjelang Asian Games yang semakin dekat.

"Saya sudah ingatkan daerah, yang diberangkatkan harus atlet the best. Ini Kejurnas, jangan kirim yang tidak siap. Mereka banyak siapkan untuk PON mati-matian, tapi untuk Kejurnas berbeda," ujar Joko dilansir dari detikSport, Senin (20/4/26).

Ia menegaskan bahwa Kejurnas seharusnya menjadi pintu utama seleksi atlet nasional yang diproyeksikan tampil di ajang internasional. Namun, kenyataannya justru belum terlihat regenerasi atlet yang memadai.

"Saya tidak dapat bibit baru di sini. Padahal atlet di Pelatnas tidak semuanya hebat, ada yang perlu direhabilitasi. Tapi penggantinya tidak ada. Jangan kirim atlet yang baru seminggu latihan atau yang sudah berumur," tegasnya.

Joko juga menyinggung masih adanya daerah yang belum mematuhi aturan Minimal Angkatan Pertama (MAP) serta batasan usia atlet, yang dinilai dapat menghambat pembinaan jangka panjang.

Di sisi lain, penampilan cukup menjanjikan ditunjukkan kontingen Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan hanya mengirimkan delapan atlet, NTB mampu meraih tiga emas, dua perak, dan dua perunggu.

Ketua Pengprov PABSI NTB, Karina de Vega, mengaku puas dengan hasil tersebut, meski persiapan tim terbilang singkat.

"Saya mengapresiasi usaha anak-anak yang baru beberapa bulan konsentrasi latihan. Hasilnya cukup bagus, walau ada yang seharusnya bisa lebih baik lagi. Target kami jelas, memberikan yang terbaik untuk NTB dan mengincar juara umum pada PON 2028 nanti," kata Karina.

Hasil Kejurnas kali ini menjadi pengingat bahwa selain mengejar prestasi, pembinaan atlet muda tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh daerah guna menjaga keberlanjutan prestasi angkat besi Indonesia di kancah internasional. (*)