• Rabu, 22 April 2026

Skema Baru Haji 2026, Kartu Nusuk Dibagikan di Embarkasi hingga Aturan Ketat Bawa Rokok

Rabu, 22 April 2026 - 10.00 WIB
34

Kepala Kanwil Kemenhaj Lampung, Ansori F. Citra. Foto: Sandika/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Lampung memaparkan sejumlah perubahan penting dalam persiapan keberangkatan jemaah haji tahun 1447 H/2026 M, yang kini tidak lagi berada di bawah naungan Kementerian Agama.

Kepala Kanwil Kemenhaj Lampung, Ansori F. Citra, menjelaskan bahwa perubahan tersebut mencakup berbagai aspek teknis, mulai dari kelengkapan dokumen hingga aturan barang bawaan jemaah.

Salah satu perubahan paling signifikan adalah skema distribusi Kartu Nusuk, yang menjadi identitas wajib bagi jemaah selama berada di Arab Saudi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kartu ini dibagikan setibanya di Tanah Suci, kini jemaah akan menerimanya langsung di embarkasi.

“Kartu Nusuk sekarang diberikan di embarkasi. Ini menjadi syarat mutlak untuk mengakses Raudhah dan tempat suci lainnya. Tanpa kartu ini, jemaah tidak dapat bergerak karena aturan di Arab Saudi sangat ketat,” ujar Ansori, Rabu (22/4/2026).

Meski demikian, pihaknya mengakui masih terdapat kendala logistik, yakni sekitar 130 koper milik jemaah yang belum terkirim oleh maskapai. Namun, Kemenhaj memastikan seluruh perlengkapan tersebut akan tiba sebelum keberangkatan kloter terakhir pada 17–18 Mei 2026.

Terkait barang bawaan, jemaah—khususnya pria—diingatkan untuk mematuhi aturan ketat terkait rokok. Batas maksimal yang diperbolehkan adalah 200 batang dan wajib dilengkapi pita cukai resmi.

“Ini sering menjadi pertanyaan. Perlu dipahami, batasnya hanya 200 batang dan wajib berpita cukai,” tegasnya.

Ansori juga memaparkan alur keberangkatan jemaah. Kloter pertama dijadwalkan masuk Asrama Haji Rajabasa pada 25 April 2026. Setibanya di lokasi, bus akan masuk melalui pintu Islamic Center, kemudian jemaah diarahkan menuju Gedung Madinatul Hujjaj untuk konsumsi serta pemeriksaan kesehatan akhir.

Selama berada di asrama, jemaah akan menerima uang living cost sebesar 750 riyal atau sekitar Rp3,3 hingga Rp3,4 juta. Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga memberikan bantuan tali asih sebesar Rp1 juta.

Selanjutnya, jemaah akan menempati Gedung Multazam dan Grand Multazam yang memiliki 100 kamar dengan kapasitas empat orang per kamar. Sebagian jemaah lainnya akan ditempatkan di Gedung Jabal Qubis.

Pada hari berikutnya, jemaah menjalani pemeriksaan X-ray sebelum diberangkatkan menuju Bandara Radin Inten II. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan transit di Bandara Soekarno-Hatta sebelum terbang ke Arab Saudi.

Sebelum keberangkatan, seluruh jemaah dipastikan telah membawa dokumen penting seperti paspor, tiket, serta perlengkapan kesehatan.

“Kami juga telah melakukan simulasi bersama Angkasa Pura dan Dinas Perhubungan untuk memastikan waktu tempuh feeder Damri dari Rajabasa ke Branti berjalan lancar, sehingga tidak terjadi keterlambatan penerbangan internasional,” pungkas Ansori. (*)