• Kamis, 23 April 2026

Dari Sisa Gaji ke Tanah Suci, Kisah Polisi Bandar Lampung Menjemput Panggilan Ilahi

Kamis, 23 April 2026 - 18.35 WIB
54

Bhabinkamtibmas Kelurahan Sukamenanti, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, AIPDA Irawan Hadi Wijaya bersama keluarga. Foto: Yudi/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Menunaikan ibadah haji sering kali dianggap sebagai impian yang sulit digapai bagi sebagian orang, terutama dengan masa tunggu yang mencapai belasan hingga puluhan tahun.

Namun, bagi AIPDA Irawan Hadi Wijaya, rahasianya bukan pada besarnya penghasilan, melainkan pada keteguhan niat dan disiplin dalam mengelola sisa gaji.

Sosok Bhabinkamtibmas Kelurahan Sukamenanti, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, ini menjadi bukti nyata bahwa kesabaran seorang abdi negara bisa berbuah manis.

Setelah menanti belasan tahun, ia akhirnya dipastikan berangkat ke Tanah Suci Makkah dalam rombongan Kloter 7 gelombang pertama.

Perjalanan Irawan menuju Baitullah adalah narasi tentang kesahajaan. Pria yang telah berdinas di kepolisian sejak tahun 2004 ini mengaku tidak memiliki strategi khusus selain konsistensi.

Sebagai polisi yang lama berkecimpung di bidang Reskrim sebelum pindah tugas menjadi Bhabinkamtibmas pada 2023, ia sangat memahami arti perjuangan.

"Kami menabung dari sisa gaji. Setelah disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk makan dan minum keluarga, sisanya kami tabung sedikit demi sedikit. Niatnya memang untuk ibadah haji," ungkap Irawan saat ditemui di rumahnya, Kamis (23/4/2026).

Baginya, setiap rupiah yang disisihkan adalah langkah kaki yang semakin dekat menuju Ka’bah. Prinsipnya sederhana, tidak perlu menunggu kaya untuk berniat suci, cukup dengan rasa syukur atas apa yang ada di tangan.

Ada garis tangan yang indah dalam keberangkatan Irawan tahun ini. Secara pribadi, ia sebenarnya memiliki masa tunggu hingga 18 tahun (baru berjalan 6 tahun) sejak mendaftar. Namun, takdir berkata lain. Istri dan ibu mertuanya yang sudah mendaftar sejak 13 tahun lalu mendapat jadwal keberangkatan tahun ini.

Berkat skema mahram, Irawan pun bisa ikut berangkat untuk mendampingi kedua wanita tercintanya tersebut.

"Alhamdulillah, saya tidak sampai menunggu 18 tahun sudah bisa berangkat karena menjadi mahram istri. Ini nikmat yang luar biasa, tidak bisa diukur dengan kata-kata," ucapnya penuh syukur.

Kisah AIPDA Irawan ini memberikan perspektif segar di tengah hiruk-pikuk tugas kepolisian. Di saat banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif, Irawan justru memilih jalan sederhana dengan menabung sisa gaji untuk tujuan akhirat.

Langkahnya mencerminkan integritas seorang personel Polri yang bersih dan berdedikasi. Ia menunjukkan bahwa menjadi polisi bukan sekadar soal penegakan hukum di jalanan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga amanah keuangan keluarga hingga mampu memenuhi rukun Islam kelima tanpa harus mencari jalan pintas.

Terbiasa dengan tugas lapangan yang berat, Irawan tetap menekankan pentingnya persiapan fisik. Baginya, rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) adalah tantangan fisik yang nyata.

"Selain iman yang utama, fisik harus prima. Ibadah di sana menguras tenaga," tegasnya.

Irawan dijadwalkan masuk Asrama Haji Rajabasa pada 25 April pukul 19.00 WIB. Keesokan harinya, 26 April, ia bersama rombongan akan terbang menuju Madinah.

Ia merupakan satu dari sekitar lima anggota Polri di wilayah Lampung yang tahun ini mendapat kesempatan istimewa menjadi tamu Allah.

Kisah Irawan adalah pesan bagi kita semua bahwa pintu langit selalu terbuka bagi mereka yang mengetuknya dengan kesabaran, keringat yang halal, dan doa yang tidak pernah putus. (*)