• Jumat, 24 April 2026

Kemenkes Ingatkan Ancaman Gangguan Mental pada Jemaah Haji Lansia

Jumat, 24 April 2026 - 10.32 WIB
32

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kementerian Kesehatan RI menegaskan pentingnya kesiapan mental bagi jemaah haji agar dapat menjalankan ibadah dengan tenang di tengah berbagai tantangan selama di Tanah Suci.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan pelaksanaan haji 2026 menjadi salah satu perhelatan spiritual terbesar di dunia dengan lebih dari 1,8 juta jemaah, termasuk sekitar 221 ribu jemaah asal Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 11 ribu merupakan jemaah lanjut usia yang dinilai menghadapi tantangan lebih berat, baik secara fisik maupun mental.

"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa," ujarnya, dikutip dari Antara, Jumat (24/6/2026).

"Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jamaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental," sambungnya.

Data Kemenkes menunjukkan sekitar 10 hingga 15 persen jemaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa. Sementara itu, 30 hingga 40 persen jemaah mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme sirkadian serta padatnya aktivitas ibadah.

Berdasarkan laporan Balai Pengobatan Haji Indonesia, kelompok lansia menjadi yang paling rentan. Sebanyak 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat diketahui menunjukkan gejala demensia.

Imran juga menyoroti kondisi cuaca di Makkah yang saat ini berkisar antara 35 hingga 38 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah. Situasi ini berpotensi memicu dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan tidur pada jemaah.

Selain faktor cuaca, kebijakan baru Pemerintah Arab Saudi yang lebih ketat terkait visa, akses ke Makkah, hingga penggunaan aplikasi digital Nusuk turut menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini dinilai dapat menambah tekanan psikologis, terutama bagi jemaah yang belum terbiasa dengan teknologi atau khawatir terhadap sanksi jika melanggar aturan.

Aktivitas ibadah seperti tawaf dan sa’i yang dilakukan secara intens juga berpotensi menimbulkan kelelahan emosional. Di sisi lain, fase kepulangan mengharuskan jemaah beradaptasi kembali setelah menjalani pengalaman spiritual yang mendalam.

Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, serta interaksi dalam kerumunan besar juga dapat memicu rasa frustrasi hingga isolasi sosial.

"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspetasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jamaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani harapan yang terlalu tinggi," jelas Imran.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kemenkes mendorong pendekatan holistik melalui konseling pra-keberangkatan yang mencakup pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah yang seimbang dengan waktu istirahat, serta pemenuhan kebutuhan hidrasi dan nutrisi.

"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," tutupnya. (*)