• Jumat, 24 April 2026

Ratusan Siswa SMAN 6 Diduga Keracunan MBG, Dapur Way Lunik Disetop Sementara

Jumat, 24 April 2026 - 21.36 WIB
31

SMAN 6 Bandar Lampung. Foto: Ist.

Sri

‎Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bandar Lampung kembali menuai sorotan. Sebanyak 172 warga sekolah di SMAN 6 Bandar Lampung, terdiri dari 147 siswa dan 25 guru, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan massal usai menyantap makan siang gratis pada Rabu (22/4/2026).

‎Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMAN 6 Bandar Lampung, Herman, menegaskan bahwa jumlah korban yang sebenarnya sebanyak 147 siswa, bukan 189 seperti yang sempat beredar.

‎“Selain itu, 25 guru juga mengalami keluhan serupa. Mayoritas mengeluhkan sakit perut dan diare,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

‎Meski jumlah terdampak cukup besar, pihak sekolah memastikan kondisi korban masih dalam kategori ringan hingga sedang.

‎“Tidak ada laporan muntah hebat atau sampai pingsan. Semua masih bisa ditangani,” tambahnya.

‎Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menyebutkan kasus dugaan keracunan ini hanya terjadi di satu sekolah, yakni SMAN 6. Dari total 812 penerima MBG di sekolah tersebut sekitar 26 persen dilaporkan mengalami gejala serupa.

‎“Tim langsung turun pada Kamis ke dapur SPPG di Way Lunik, Panjang, untuk melakukan inspeksi kesehatan lingkungan,” jelas Muhtadi.

‎Hasil inspeksi menemukan sejumlah catatan penting yang harus segera diperbaiki, mulai dari fasilitas sanitasi hingga pengelolaan limbah. Di antaranya, belum tersedianya alat pengering tangan, sabun, tempat sampah memadai, serta belum adanya pemisahan toilet pria dan wanita dengan penanda yang jelas.

‎Selain itu, pengelolaan limbah makanan dinilai belum sesuai standar karena masih dilakukan di area dapur, sehingga berpotensi menimbulkan bau dan mengundang lalat.

Penggunaan penangkap lemak, pengeringan peralatan, hingga standar operasional prosedur (SOP) sanitasi dan penyimpanan makanan juga belum optimal.

‎“Untuk SOP pengolahan pangan dan keselamatan kerja, saat kami ke lokasi belum terlihat penerapannya secara jelas. Ini sudah kami surati untuk segera diperbaiki,” tegasnya.

‎Meski demikian, hasil uji sampel air dan usap peralatan dari dapur tersebut dinyatakan memenuhi syarat kesehatan.

‎Sebagai langkah antisipasi, tim kesehatan juga telah melakukan pemantauan terhadap siswa dan guru yang terdampak, meski tidak ada yang sampai menjalani rawat inap.

‎Sementara itu, berdasarkan rekomendasi tim lapangan, Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Way Lunik Panjang.

‎Camat Panjang, Hendry, membenarkan keputusan tersebut. “Operasional dihentikan untuk evaluasi menyeluruh. Ini demi memastikan kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

‎Kasus ini kembali menjadi peringatan penting dalam pelaksanaan program MBG, bahwa selain pemenuhan gizi, aspek higienitas dan standar pengolahan makanan harus menjadi prioritas utama. (*)