• Selasa, 28 April 2026

Transformasi Ekonomi Lampung Dipercepat Lewat Hilirisasi Komoditas

Selasa, 28 April 2026 - 14.49 WIB
20

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, saat menjadi keynote speaker dalam Diseminasi LPP Semester I 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Marriott Resort Pesawaran, Selasa (28/4/2026). Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus mengakselerasi transformasi ekonomi daerah melalui hilirisasi komoditas strategis guna meningkatkan nilai tambah, daya saing, serta ketahanan ekonomi.

Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, saat menjadi keynote speaker dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Semester I 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Marriott Resort Pesawaran, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong transformasi ekonomi Lampung yang bernilai tambah, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peran Bank Indonesia sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam memberikan strategic advisory guna mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan daerah.

"Melalui forum ini, kami berharap seluruh pihak dapat berkontribusi aktif memperkuat perekonomian daerah, sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap kondisi dan prospek ekonomi Lampung ke depan," ujarnya.

Dalam paparannya, Marindo mengungkapkan bahwa kinerja ekonomi Lampung menunjukkan tren positif.

Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,28 persen, melampaui rata-rata nasional dan meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 4,57 persen.

"Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi daerah," kata dia.

Selain itu, indikator makro lainnya juga menunjukkan capaian yang menggembirakan, dengan inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen, tingkat pengangguran sebesar 4,14 persen, serta angka kemiskinan yang berhasil ditekan menjadi satu digit, yakni 9,6 persen.

Meski demikian, Marindo menegaskan bahwa capaian tersebut harus diiringi dengan langkah transformasi ekonomi yang lebih kuat. Lampung tidak bisa terus bergantung pada sektor primer, melainkan perlu mengembangkan nilai tambah melalui hilirisasi.

"Sektor pertanian harus bertransformasi dari sekadar penyedia bahan baku menjadi penggerak industri bernilai tambah. Kita dorong peralihan dari pertanian tradisional menuju pertanian modern, karena di situlah peluang pertumbuhan ekonomi baru terbuka," jelasnya.

Ia juga menyoroti tantangan utama yang masih dihadapi, yakni dominannya penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi, sehingga nilai tambah justru lebih banyak dinikmati di luar daerah.

Oleh karena itu, hilirisasi menjadi strategi kunci untuk memperkuat daya saing sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

"Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Lampung mengembangkan hilirisasi berbasis desa melalui program unggulan Desaku Maju. Program ini dirancang sebagai ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi dari hulu hingga hilir," tuturnya.

Implementasinya mencakup penyediaan pupuk hayati cair di ribuan titik, bantuan dryer pertanian di sentra produksi, penguatan vokasi dan kapasitas sumber daya manusia desa, hingga pembangunan infrastruktur jalan desa guna memperlancar distribusi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.

Pendekatan ini menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memastikan manfaat hilirisasi dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Jika Lampung ingin tumbuh kuat, maka desa harus menjadi fondasinya. Kita pastikan pertumbuhan ekonomi dimulai dari desa, sehingga nilai tambah tidak keluar, melainkan dinikmati langsung oleh petani dan masyarakat lokal," tegas Marindo.

Ia juga mencontohkan berbagai inovasi hilirisasi yang mulai berkembang, seperti pengolahan singkong menjadi tepung mocaf di Pringsewu, serta penguatan model bisnis komoditas strategis yang berpotensi direplikasi di berbagai daerah melalui kolaborasi lintas kabupaten/kota.

Di akhir paparannya, Marindo mengapresiasi peran aktif Bank Indonesia yang selama ini konsisten mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengembangan model bisnis serta integrasi ekonomi komoditas di Lampung.

"Dengan sinergi yang kuat dan langkah yang terarah, Provinsi Lampung optimistis mampu bertransformasi menjadi daerah yang tidak hanya unggul sebagai produsen komoditas, tetapi juga kuat dalam pengolahan dan distribusi, serta berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional," tutupnya. (*)