Suami Bertugas di Perbatasan, Istri Prajurit Yonif 143 Hidupkan Tapis Lampung dan Dongkrak Ekonomi Keluarga
Suami Bertugas di Perbatasan, Istri Prajurit Yonif 143 Hidupkan Tapis Lampung dan Dongkrak Ekonomi Keluarga. Foto: Ist.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Di tengah penugasan para prajurit Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya menjaga wilayah perbatasan di Papua, para istri prajurit di Lampung tetap bergerak produktif dengan mengembangkan kerajinan kain tapis khas daerah.
Melalui kegiatan yang digerakkan Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143, para anggota memanfaatkan waktu di asrama dengan belajar menyulam tapis, membuat kerajinan tangan, hingga memasarkan produk UMKM.
Ketua Persit Cabang XXXIV Yonif 143, Novla, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari inisiatif para istri prajurit yang sementara ditinggal suami menjalankan tugas negara.
"Karena saat ini kami sedang ditinggal penugasan oleh para suami, kami berusaha membuat kegiatan positif bagi seluruh istri prajurit, salah satunya dengan belajar menapis,” kata Novla Sabtu(2/5/2026).
Menurutnya, kegiatan itu berkembang karena adanya salah satu anggota Persit yang memiliki keahlian menapis dan bersedia mengajarkan kepada anggota lainnya.
"Kebetulan kami memiliki satu orang istri prajurit yang punya keahlian menapis, sehingga kami meminta bantuannya untuk mengajari rekan-rekan lain belajar menapis,” ujarnya.
Selain kerajinan tapis, para anggota Persit juga membuat produk lain seperti makrame serta memanfaatkan sisa kain tapis menjadi barang serbaguna, mulai dari tempat tisu, bros, hingga aksesori bernuansa Lampung.
Novla menegaskan, pemilihan tapis sebagai kegiatan utama bukan tanpa alasan. Menurutnya, tapis merupakan warisan budaya Lampung yang harus terus dilestarikan.
"Kain tapis adalah kain khas daerah Lampung. Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa tapis merupakan wastra budaya yang harus dijaga dan dikenalkan kepada anak cucu nanti,” ucapnya.
Salah satu anggota Persit yang aktif mengembangkan usaha tapis adalah Asri, istri dari Kopda Angga Dwi Ferdian. Ia mengaku telah menekuni usaha tapis Lampung selama kurang lebih tiga tahun.
"Kurang lebih sudah tiga tahun menekuni usaha tapis Lampung ini. Di Persit juga ada kegiatan mengajarkan ibu-ibu lainnya cara menapis supaya ada kegiatan positif di asrama,” katanya.
Menurut Asri, usaha tapis dipilih karena fleksibel dan bisa dilakukan di sela kesibukan mengurus rumah tangga.
"Menyulam itu kegiatan yang sangat fleksibel, bisa dilakukan saat waktu senggang. Selain itu, tapis juga membantu perekonomian keluarga saya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, produk yang dihasilkan tidak hanya berupa kain tapis tradisional, tetapi juga dikembangkan menjadi busana modern seperti outer, rok, dan pakaian formal berbahan batik yang dipadukan tapis.
Untuk pemasaran, Asri mengandalkan media sosial dan promosi dari mulut ke mulut. Produk buatannya bahkan telah menjangkau luar Lampung seperti Jakarta dan Surakarta.
Di saat para prajurit Yonif 143 menjaga kedaulatan negara di perbatasan, para istri prajurit turut berkontribusi dari rumah. Melalui kain tapis, mereka menjaga budaya sekaligus memperkuat ekonomi keluarga sebagai wujud nyata semangat Kartini masa kini. (*)
Berita Lainnya
-
Kunjungan Kerja Anggota Komisi III DPR RI Sudin di Pesawaran dan Bandar Lampung: Ingatkan Warga Jauhi Narkoba, Pinjol dan Judol
Sabtu, 02 Mei 2026 -
Pelantikan dan Rakerwil DPW PAN Lampung, Zulhas Ajak Kader Wujudkan Swasembada Pangan
Sabtu, 02 Mei 2026 -
Bocah 4 Tahun Tewas Tenggelam di Kolam Renang Swiss-Belhotel Lampung, Polisi Amankan CCTV
Sabtu, 02 Mei 2026 -
Hardiknas 2026, Komisi IV DPRD: Pendidikan Bandar Lampung Belum Baik-baik Saja
Sabtu, 02 Mei 2026








