• Rabu, 06 Mei 2026

Dewan Pendidikan Lampung Kritik Masih Ada SDN Berdinding Papan: Infrastruktur Pendidikan Harus Jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 - 16.08 WIB
20

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung, Prof. Syafrimen. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung, Prof. Syafrimen, mengkritik masih adanya bangunan sekolah berdinding papan yakni SDN 1 Atap Pedukuhan Batu Nyangka Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus.

Syafrimen mengingatkan bahwa sektor pendidikan adalah investasi jangka panjang atau investasi buat  generasi masa depan.

"Sepertinya akan jadi akan semboyan saja  Generasi Emas 2045, jika infrastruktur pendidikan tidak jadi prioritas,” tegas Syafrimen menanggapi kondisi SDN 1 Atap Pedukuhan Batu Nyangka Desa Tanjung Raja yang masih berdinding papan, Rabu (6/5/2026).

Ia mengatakan, pemegang kebijakan di negeri ini harus menjadikan investasi pendidikan menjadi salah satu fokus utama. Karena investasi pendidikan ini hasilnya jangka panjang.

"Generasi Emas 2045 yang akan ditargetkan tersebut, hari ini yang sedang melaksanakan proses pendidikan itu. Gambaran Generasi Emas yang akan dituai tahun 2045 mendatang, itu hasil dari proses pendidikan hari ini,” ungkapnya. 

Sehingga, lanjut dia, infrastruktur pendidikan seharusnya menjadi perhatian. Jika tidak maka Generasi Emas 2045 akan jadi imposible.

“Sekolah itu tempat melahirkan generasi terbaik, dan tempat membimbing pemikir-pemikir masa depan. Jika infrastruktur pendidikan tidak diperhatikan, maka Generasi Emas 2024 hanya akan jadi ilusi,” tegasnya. 

Di tengah keterbatasan fasilitas dan bangunan yang jauh dari kata layak, semangat belajar belasan siswa SDN 1 Atap di Pedukuhan Batu Nyangka, Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, tak pernah padam.

Setiap pagi, anak-anak itu tetap melangkah menuju sekolah mereka, sebuah bangunan sederhana berdinding papan lapuk dengan atap seng berkarat dan berlubang di banyak bagian. Bangunan itu menjadi saksi perjuangan pendidikan yang bertahan puluhan tahun.

Di ruang kelas sederhana itulah proses belajar mengajar berlangsung. Saat hujan turun, air kerap menetes dari atap dan membasahi ruangan. Namun kondisi tersebut seolah telah menjadi bagian dari keseharian para siswa dan guru.

Sekolah di wilayah terpencil itu telah berdiri selama puluhan tahun dan melahirkan banyak generasi. Ironisnya, hingga kini sekolah tersebut belum pernah tersentuh pembangunan permanen.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Viktor Libradi, mengaku kondisi sekolah tersebut menjadi perhatian dan akan segera dievaluasi.

“Ini akan kami jadikan bahan evaluasi dan segera dikoordinasikan. Pemerintah belum bisa melakukan renovasi karena status tanah sekolah belum berstatus hibah,” ujarnya. (*)