• Sabtu, 09 Mei 2026

Jajaki Investasi Strategis, Lampung Tawarkan Kota Baru hingga Kawasan Wisata kepada Real Estat Indonesia

Kamis, 07 Mei 2026 - 13.20 WIB
35

Forum bisnis Pemprov Lampung dan DPP REI di ruang rapat utama kantor Gubernur Lampung, Kamis (7/5/2026). Foto: Ria/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) menggelar forum bisnis dalam rangka mendorong pembangunan daerah dan peningkatan investasi berkelanjutan di Provinsi Lampung, Kamis (7/5/2026).

Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha, khususnya di sektor properti, kawasan industri, perdagangan, hingga pengembangan wilayah strategis.

Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto, mengatakan jika kunjungan pihaknya ke Lampung merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-54 REI. Ia menegaskan bahwa setiap daerah yang dikunjungi selalu menjadi momentum untuk membangun relasi dan menggali potensi investasi.

"Kami datang ke Lampung dalam rangkaian HUT ke-54. Di mana pun kami berada, pasti kita membangun relasi. Dari relasi itulah akan terbuka komunikasi, bahkan juga menggali potensi," ujar Joko.

Menurutnya, forum bisnis tersebut menjadi langkah awal untuk mendengarkan langsung potensi yang dimiliki Lampung dari perspektif pemerintah daerah. Ia menilai Pemerintah Provinsi Lampung sangat terbuka terhadap kehadiran investor dan pelaku usaha.

"Pertemuan pertama ini, gubernurnya sangat welcome terhadap keberadaan kami di sini. Sebelum kami turun ke daerah juga sudah ada pembicaraan khusus. Nanti akan didetailkan lagi dan data-datanya disiapkan lebih rinci," katanya.

Joko juga mengungkapkan, REI meminta adanya kejelasan timeline perizinan serta daftar aset atau kawasan yang dapat dikerjasamakan dengan investor.

Salah satu potensi yang dinilai menarik ialah kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) yang dianggap memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

"Sementara yang bisa kami lihat, Taman Hutan Raya-nya memang terbuka bagus dan itu bisa menjadi salah satu opsi pengembangan," tambahnya.

Sementara itu, Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Sulpakar menyampaikan apresiasi kepada DPP REI dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya forum bisnis tersebut.

Ia mengatakan kehadiran para investor dan pelaku usaha menjadi semangat baru bagi Pemprov Lampung untuk terus mendorong pertumbuhan investasi dan pembangunan daerah.

"Forum bisnis ini bukan sekadar ajang pertemuan, tetapi momentum penting untuk mempertemukan potensi daerah dengan peluang investasi yang nyata dan berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Sulpakar, Lampung memiliki posisi strategis sebagai gerbang Pulau Sumatera karena menjadi jalur utama penghubung Pulau Jawa dan Sumatera.

Posisi tersebut didukung berbagai infrastruktur penting seperti Jalan Tol Trans Sumatera, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Bakauheni, hingga pengembangan Bandara Raden Inten II.

Dengan dukungan infrastruktur tersebut, Lampung dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi baru di wilayah Sumatera bagian selatan.

"Pertumbuhan ekonomi Lampung menunjukkan tren positif. Infrastruktur terus berkembang, kawasan industri mulai tumbuh, sektor pariwisata meningkat, dan aktivitas investasi semakin bergerak maju," katanya.

Namun demikian, Pemprov Lampung menyadari pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada sektor primer.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong transformasi ekonomi melalui pengembangan kawasan industri, revitalisasi pariwisata, logistik, hingga pembangunan kawasan hunian dan pusat pertumbuhan baru.

Dalam forum tersebut, Pemprov Lampung juga menawarkan sejumlah peluang kerja sama strategis kepada investor dan DPP REI. Salah satunya ialah pengembangan Kota Baru Bandar Negara seluas sekitar 538 hektare yang dirancang dengan konsep eco city dan kawasan bebas banjir.

"Kawasan ini kami siapkan sebagai pusat pertumbuhan baru yang modern, hijau, terintegrasi, dan berkelanjutan," jelasnya.

Selain itu, Pemprov Lampung juga menawarkan berbagai aset dan lahan potensial milik pemerintah daerah yang berada di lokasi strategis, mulai dari kawasan Bakauheni, Katibung, Natar, hingga sekitar Bandara Raden Inten II.

Lahan tersebut dinilai sangat potensial untuk pengembangan kawasan komersial, hunian, hospitality, logistik, perdagangan, hingga kawasan wisata dan waterfront city.

Tak hanya itu, Pemprov Lampung juga tengah mendorong pengembangan Pasar Induk Regional di Rejosari sebagai pusat distribusi komoditas pertanian regional yang terintegrasi dengan kawasan industri dan konektivitas logistik nasional.

Sulpakar menegaskan Pemprov Lampung berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif, adaptif, dan kompetitif melalui penguatan pelayanan perizinan serta perbaikan tata kelola pemerintahan.

"Kami percaya pembangunan akan berjalan lebih cepat ketika pemerintah dan sektor swasta dapat bergerak bersama dalam semangat kolaborasi dan saling percaya," pungkasnya. (*)