• Jumat, 08 Mei 2026

Diserang Tikus, Puluhan Hektare Sawah di Metro Barat Terancam Gagal Panen

Jumat, 08 Mei 2026 - 11.40 WIB
117

Sejumlah petani di Metro Barat saat melakukan pengendalian terhadap hama tikus dengan cara meracunnya menggunakan belerang yang dibakar atau dikenal dengan istilah obong. Foto: Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Ancaman gagal panen menghantui para petani di Kecamatan Metro Barat. Serangan hama tikus yang terjadi dalam sebulan terakhir dilaporkan semakin meluas dan mulai menghancurkan puluhan hektare tanaman padi milik warga di sejumlah kelurahan.

Para petani mengaku resah lantaran serangan hama terjadi saat tanaman padi memasuki fase penting pertumbuhan. Jika tidak segera ditangani, kerugian diperkirakan akan terus membesar dan berpotensi memukul ketahanan pangan petani di wilayah setempat.

Salah satu petani asal Kelurahan Ganjar Asri, Laswanto, mengungkapkan bahwa kondisi sawah di wilayahnya saat ini memprihatinkan. Tanaman padi yang sebelumnya tumbuh subur mulai menguning, rebah hingga mati akibat dimakan tikus.

“Sudah sejak sebulan lalu sawah-sawah kami diserang hama tikus. Padi yang kami tanam sudah mulai banyak yang mati. Kami mohon pemerintah daerah membantu petani menanggulangi ini,” kata Laswanto saat menginformasikan kondisi kerusakan lahan persawahan akibat serangan hama tikus kepada Kupastuntas.co, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, serangan tikus tidak lagi terjadi di satu titik saja, melainkan telah menyebar hampir ke seluruh hamparan sawah di wilayah Ganjar Asri.

“Sawah kami banyak yang habis total padinya. Kalau tidak segera diatasi bisa ke mana-mana. Di Ganjar Asri saja itu di RT 05 RW 02, RT 07, RT 06, RT 08 dan ini sudah hampir semuanya. Bahkan sampai ke Kelurahan Ganjar Agung,” ujarnya.

Laswanto mengaku sebagian petani kini hanya bisa pasrah melihat tanaman mereka rusak sedikit demi sedikit. Upaya pengendalian secara mandiri dinilai belum mampu menghentikan perkembangan populasi tikus yang terus bertambah.

“Kami sudah coba pasang jebakan, ada yang pakai racun, ada juga yang ronda malam. Tapi tikusnya makin banyak. Malam hari itu sawah seperti bergerak semua,” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan petani lainnya, Suyitno. Ia menyebut serangan hama kali ini menjadi salah satu yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir.

“Biasanya ada tikus, tapi tidak separah sekarang. Ini baru tanam bagus beberapa minggu, tiba-tiba batangnya putus semua dimakan tikus. Ada yang pagi dicek masih hijau, besoknya sudah rebah,” katanya.

Menurut Suyitno, kondisi tersebut membuat petani terancam merugi jutaan rupiah karena biaya tanam yang sudah dikeluarkan tidak sedikit.

“Modal pupuk mahal, obat mahal, sewa traktor juga mahal. Kalau sampai gagal panen ya petani bisa rugi besar. Belum lagi banyak petani yang pinjam modal dulu,” tuturnya.

Petani lainnya, Wagiman, berharap pemerintah tidak hanya turun melakukan pendataan, tetapi juga benar-benar menghadirkan solusi konkret di lapangan.

“Kalau cuma melihat-lihat saja ya percuma. Kami butuh tindakan cepat. Minimal ada gerakan pengendalian hama massal atau bantuan obat. Karena kalau dibiarkan, tikus ini berkembang terus,” harapnya.

Ia juga mengkhawatirkan dampak lanjutan jika serangan hama meluas ke seluruh kawasan pertanian Metro Barat.

“Sekarang baru beberapa titik yang parah, tapi ini sudah mulai menyebar. Kalau satu hamparan kena semua, bisa gagal panen massal,” tandasnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah petak sawah tampak mengalami kerusakan cukup serius. Banyak batang padi terpotong di bagian bawah dan sebagian area terlihat mengering akibat akar tanaman rusak.

Lubang-lubang sarang tikus juga terlihat di pematang sawah dan sekitar saluran irigasi. Pada malam hari, petani mengaku hama tikus keluar dalam jumlah besar dan menyerang tanaman secara bergerombol.

Di sisi lain, para petani menilai penanganan hama tikus tidak bisa dilakukan secara parsial. Mereka meminta adanya keterlibatan pemerintah daerah, kelompok tani, hingga dinas terkait untuk melakukan pengendalian serentak.

Sebab, apabila hanya dilakukan oleh sebagian petani, tikus akan berpindah ke lahan lainnya dan terus berkembang biak. Ancaman gagal panen akibat serangan tikus ini juga menjadi alarm serius bagi sektor pertanian di Kota Metro. Apalagi selama ini Metro Barat dikenal sebagai salah satu kawasan penyangga produksi padi di wilayah tersebut.

Jika kerusakan terus meluas, bukan hanya petani yang terdampak, tetapi juga produksi pangan daerah berpotensi mengalami penurunan. Hingga berita ini diturunkan, para petani berharap Pemerintah Kota Metro segera turun tangan sebelum kerusakan sawah semakin parah dan musim panen berubah menjadi musim kerugian bagi para petani. (*)