• Jumat, 08 Mei 2026

Thomas: Kita Masih Butuh Guru Non-ASN, Belum Ada Rencana Pemberhentian

Jumat, 08 Mei 2026 - 14.51 WIB
25

Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico saat dimintai keterangan, Jum'at (8/5/2026). Foto: Ria/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dunia pendidikan tengah dihebohkan dengan munculnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Nomor 7 Tahun 2026 yang membatasi masa tugas guru non-ASN di sekolah negeri hanya sampai 31 Desember 2026.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico menegaskan bahwa pihaknya hingga saat ini masih membutuhkan keberadaan guru non-ASN untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah.

"Kalau kita sebenarnya masih melihat perkembangan ke depannya seperti apa. Intinya kami masih membutuhkan guru tersebut untuk mengajar di sekolah," kata Thomas saat dimintai keterangan, Jum'at (8/5/2026).

Ia mengatakan, Disdikbud Lampung belum dapat mengambil sikap terkait kemungkinan pemberhentian guru non-ASN, lantaran kondisi kekurangan tenaga pengajar di sejumlah sekolah masih terjadi.

"Kita belum bisa mengambil sikap karena memang kita kekurangan guru. Sehingga kita sangat terbantu dengan keberadaan mereka dan belum ada niat untuk memberhentikan. Intinya kita tetap membutuhkan bantuan mereka," ujarnya.

Thomas menjelaskan, sebagian besar tenaga honorer dan guru yang telah memenuhi syarat sebelumnya sudah diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada tahun lalu.

Sementara guru non-ASN yang saat ini masih bertugas umumnya merupakan tenaga baru yang direkrut berdasarkan kebutuhan sekolah akibat banyaknya guru yang memasuki masa pensiun.

"Yang sekarang masih ada ini guru-guru dengan SK baru, yang memang betul-betul dibutuhkan sekolah karena banyak guru pensiun. Ini yang akan segera kita data," jelasnya.

Terkait jumlah guru non-ASN yang masih aktif di sekolah negeri, Thomas menyebut jumlahnya tidak banyak. Rata-rata, setiap sekolah hanya memiliki satu hingga dua guru non-ASN.

"Tidak banyak, rata-rata cuma satu sampai dua orang di masing-masing sekolah," tandasnya. (*)