• Senin, 18 Mei 2026

BPS Sebut Harga Beras di 111 Kabupaten/Kota Naik

Senin, 18 Mei 2026 - 14.31 WIB
18

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, kenaikan harga beras terjadi pada 111 kabupaten/kota dipicu oleh menipisnya stok hingga naiknya harga dari distributor.

Harga beras mengalami kenaikan cukup tinggi pada April hingga minggu kedua Mei 2026.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan rata-rata harga beras nasional saat ini mencapai Rp15.325 per kilogram (kg). BPS juga mencatat sudah ada 111 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras.

"Beras rata-rata nasional Rp15.325 per kg. Ada 111 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga beras," ungkap Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (18/5/2026).

Sejumlah daerah yang mengalami kenaikan harga beras, antara lain Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Teluk Bintuni, hingga Kabupaten Paser.

BPS juga memetakan sejumlah faktor pemicu kenaikan harga beras di daerah. Menurutnya, kenaikan harga tak hanya dipicu stok yang menipis, tetapi juga kenaikan harga di tingkat distributor hingga terbatasnya pasokan beras lokal di pasar.

Salah satu contohnya terjadi di Kota Denpasar, Bali. Inflasi beras secara bulanan atau month-to-month pada April 2026 tercatat mencapai 2,76% dengan andil inflasi sebesar 0,11%.

Amalia menjelaskan, kenaikan harga di Denpasar dipicu kenaikan harga di tingkat distributor yang mengikuti naiknya harga gabah dan beras di sejumlah daerah sentra produksi di Bali seperti Jembrana, Badung, Gianyar, hingga Bangli.

"Karena fenomenanya yang kami tangkap dari BPS daerah adalah kenaikan harga dari distributor, di mana ini kenaikan di tingkat petani Jembrana, Badung, Gianyar, Bangli, dan juga harga dari distributornya mengalami kenaikan," jelasnya.

Sementara di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kenaikan harga beras disebut terjadi akibat stok yang mulai menipis di tengah belum masuknya masa panen. BPS mencatat inflasi beras di wilayah tersebut secara month-to-month mencapai 6,54% dengan andil inflasi sebesar 0,37%.

Data BPS menunjukkan, pasokan beras di pasar masih terbatas karena sebagian wilayah belum memasuki masa panen. Kondisi itu membuat barang yang tersedia di pasar relatif sedikit dan mendorong kenaikan harga.

"Ini fenomenanya karena stok menipis, kemudian ada di situ belum panen. Karena memang beras masih belum panen, sehingga barang yang tersedia di pasar masih relatif sedikit," kata Amalia.

Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain seperti Kota Palangkaraya, Kabupaten Tanah Laut, hingga Hulu Sungai Tengah.

Ia menyebut, kenaikan harga di wilayah-wilayah tersebut dipicu terbatasnya suplai beras lokal karena panen belum berlangsung optimal, sementara sebagian gabah justru keluar daerah sehingga pasokan di pasar menurun.

Di beberapa wilayah, kenaikan harga juga dipengaruhi meningkatnya harga beras dari Pulau Jawa yang masuk ke daerah, di tengah terbatasnya stok beras lokal.

Meski begitu, BPS memperkirakan kondisi stok beras akan mulai membaik pada Mei hingga Juni 2026 seiring masuknya musim panen berdasarkan hasil survei produksi padi. (*)