Kritik Pemkot Metro Pasif Tunggu Anggaran, Efril Hadi Desak OPD Kreatif Genjot PAD
Anggota DPRD Kota Metro, Efril Hadi. Foto: Arby/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Ketergantungan
Pemerintah Kota Metro terhadap dana transfer pusat mulai menuai sorotan tajam
dari kalangan legislatif. Di tengah kondisi fiskal daerah yang semakin
tertekan, DPRD Kota Metro menilai pemerintah daerah tidak bisa lagi hanya
bersikap pasif dan menunggu kucuran anggaran dari pusat tanpa langkah konkret
untuk memperkuat kemandirian keuangan daerah.
Anggota DPRD Kota Metro, Efril Hadi, secara
terbuka mendorong Pemerintah Kota Metro untuk lebih agresif dan kreatif dalam
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurutnya, langkah tersebut bukan
lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga keberlangsungan
pembangunan di Bumi Sai Wawai.
Pernyataan itu disampaikan Efril usai menyerap
berbagai aspirasi masyarakat di wilayah Metro Utara. Dari hasil dialog bersama
warga, mayoritas masyarakat masih menaruh harapan besar terhadap pembangunan
infrastruktur dasar yang dinilai belum merata.
“Sejalan dengan apa yang kita dengar dari
masyarakat, usulan pembangunan untuk tahun 2028 mendatang masih berfokus pada
infrastruktur jalan, irigasi, pertanian, dan fasilitas publik lainnya,” ujar
Efril kepada awak media, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap
pembangunan tidak pernah berhenti. Namun di sisi lain, kemampuan keuangan
daerah justru sedang menghadapi tekanan serius akibat berkurangnya Dana
Transfer ke Daerah (TKD) dari Pemerintah Pusat.
Efril menilai bahwa kondisi tersebut berdampak
langsung terhadap pelaksanaan pembangunan fisik di lapangan. Sejumlah program
yang sebelumnya dirancang akhirnya harus disesuaikan bahkan terancam tertunda
akibat keterbatasan anggaran.
Politisi tersebut juga menilai situasi itu
seharusnya menjadi alarm bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar
tidak lagi bekerja dengan pola lama yang hanya bergantung pada suntikan dana
pusat. Ia menegaskan, pemerintah daerah harus mulai membangun pola pikir baru
dengan menggali potensi pendapatan daerah secara lebih maksimal.
“Di tengah keterbatasan fiskal ini, Pemkot
Metro harus memiliki kreasi dan langkah konkret untuk menutupi celah anggaran
akibat kebijakan pusat. Kreativitas dalam mencari sumber pendapatan adalah
kunci,” tegasnya.
Pernyataan Efril sekaligus menjadi kritik
terhadap pola birokrasi yang dinilai masih terlalu nyaman menunggu alokasi
anggaran tanpa keberanian melakukan terobosan. Menurutnya, apabila kondisi
tersebut terus dipertahankan, maka pembangunan daerah akan berjalan lambat dan
masyarakat yang menjadi pihak paling dirugikan.
Ia menilai Metro sejatinya memiliki banyak
potensi yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan PAD. Mulai dari sektor
perdagangan, jasa, kuliner, parkir, pemanfaatan aset daerah, hingga
pengembangan sektor pertanian dan UMKM yang selama ini dinilai belum tergarap
maksimal.
Di sisi lain, Efril juga menyoroti pentingnya
efisiensi belanja daerah. Ia meminta pemerintah lebih selektif dalam
menggunakan anggaran dan berani melakukan evaluasi terhadap belanja operasional
yang dianggap tidak terlalu mendesak.
“Kita akan tinjau kembali belanja operasional
mana yang sekiranya bisa dialihkan menjadi belanja modal. Pemerintah harus jeli
memilah mana yang benar-benar prioritas, terutama dalam pembangunan
infrastruktur yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Dorongan efisiensi tersebut dinilai penting
mengingat masyarakat saat ini lebih membutuhkan pembangunan yang nyata
dibanding belanja administratif yang tidak berdampak langsung terhadap
kehidupan warga.
Sorotan DPRD terhadap lemahnya optimalisasi PAD
juga menjadi sinyal bahwa tantangan fiskal Kota Metro ke depan diprediksi tidak
ringan. Apalagi, kebutuhan pembangunan terus meningkat sementara kemampuan
keuangan daerah masih terbatas.
Di tengah situasi tersebut, publik kini menanti
langkah konkret Pemerintah Kota Metro dalam menjawab kritik DPRD. Sebab tanpa
inovasi dan keberanian melakukan pembenahan fiskal, pembangunan daerah
dikhawatirkan hanya berjalan di tempat dan bergantung penuh pada kebijakan
pemerintah pusat.
Bagi masyarakat Metro, persoalan ini bukan
sekadar soal angka dalam APBD. Namun menyangkut kualitas jalan yang mereka
lewati setiap hari, saluran irigasi untuk pertanian, fasilitas publik, hingga
pelayanan dasar yang menjadi kebutuhan utama warga. (*)
Berita Lainnya
-
GMNI Versi Konfercablub Klaim Menang Mutlak, Tegaskan Forum Sah Secara Organisasi
Senin, 18 Mei 2026 -
Kasus Rekrutmen Pegawai Honorer Kota Metro, Polda Dikabarkan Segera Tetapkan Tersangka
Senin, 18 Mei 2026 -
Bertahun-tahun Dibiarkan Rusak, Warga Margorejo Metro Selatan Perbaiki Gorong-gorong Secara Swadaya
Minggu, 17 Mei 2026 -
Panas Internal GMNI Metro, DPC Sebut Konfercablub Cacat Konstitusi
Minggu, 17 Mei 2026








