• Selasa, 19 Mei 2026

Investor Pasar Modal di Lampung Tembus 673 Ribu, BEI Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Beli Saham

Selasa, 19 Mei 2026 - 16.56 WIB
22

Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Lampung, Hendi Prayogi, saat dimintai keterangan di Hotel Grand Mercure Bandar Lampung, Selasa (19/5/2026). Foto: Sri/kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Minat masyarakat Lampung terhadap investasi pasar modal terus menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, jumlah investor pasar modal di Provinsi Lampung tercatat mencapai 673.737 investor.

Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Lampung, Hendi Prayogi mengatakan, pertumbuhan tersebut menjadi sinyal meningkatnya literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya dari kalangan generasi muda.

"Pertumbuhan ini menunjukkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Lampung terhadap pasar modal semakin baik, terutama dari kalangan generasi muda,” kata Hendi saat media gathering Program Nasional Pintar Reksa Dana di Grand Mercure Lampung, Selasa (19/5/2026).

BEI Lampung mencatat, jumlah investor pasar modal pada 2023 sebanyak 293.141 investor. Angka tersebut naik menjadi 313.328 investor pada 2024 atau tumbuh 6,89 persen.

Lonjakan signifikan terjadi pada 2025. Jumlah investor meningkat drastis menjadi 463.657 investor atau tumbuh 47,98 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tren positif itu terus berlanjut pada 2026. Hingga April, jumlah investor kembali melonjak menjadi 673.737 investor atau naik 45,31 persen dibanding posisi 2025.

Tak hanya jumlah investor, pertumbuhan juga terlihat pada investor saham. Hingga April 2026, jumlah investor saham di Lampung mencapai 208.423 investor.

Jumlah tersebut meningkat dibanding 2025 yang tercatat 185.728 investor. Sebelumnya, pada 2024 terdapat 123.299 investor saham dan pada 2023 sebanyak 87.990 investor.

Di sisi lain, aktivitas transaksi pasar modal masyarakat Lampung juga terus meningkat setiap tahun. Pada 2023, nilai transaksi tercatat sebesar Rp10,76 triliun. Nilai itu naik menjadi Rp12,87 triliun pada 2024.

Kemudian pada 2025, transaksi melonjak hingga Rp22,51 triliun. Sementara hingga April 2026, nilai transaksi pasar modal di Lampung telah mencapai Rp25,03 triliun.

BEI Lampung menilai dominasi investor muda menjadi faktor utama pertumbuhan pasar modal di daerah ini. Berdasarkan data, investor usia 18 hingga 25 tahun mendominasi dengan porsi 38,4 persen.

Kemudian disusul kelompok usia 26–30 tahun sebesar 26,3 persen, usia 31–40 tahun sebesar 22,2 persen, dan usia 41–100 tahun sebesar 13,1 persen.

Sementara berdasarkan pekerjaan, investor terbanyak berasal dari kalangan karyawan swasta sebesar 35 persen. Disusul pengusaha 18 persen, pelajar 17 persen, kategori lainnya 17 persen, ibu rumah tangga 5 persen, PNS 4 persen, guru 2 persen, dan TNI/Polri 1 persen.

Untuk wilayah sebaran investor, Kota Bandar Lampung masih mendominasi dengan kontribusi 28 persen. Selanjutnya Lampung Tengah 13 persen, Lampung Selatan 11 persen, Lampung Timur 9 persen, Lampung Utara 7 persen, dan Tanggamus 6 persen.

Dalam kesempatan itu, Hendi juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membeli saham tanpa memahami fundamental perusahaan dan risiko investasi.

Menurutnya, saat ini BEI juga mulai mendorong pengembangan investasi berbasis lingkungan atau green investment, termasuk perusahaan yang memiliki perhatian terhadap pengurangan emisi karbon.

"Jangan asal beli saham. Investor harus memahami perusahaan dan sektor usahanya, termasuk bagaimana perusahaan itu menjalankan bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di pasar modal terdapat indeks saham yang berisi perusahaan-perusahaan dengan perhatian terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.

BEI sendiri memiliki kelompok indeks yang berisi emiten dengan tingkat emisi lebih rendah dan berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.

Hendi mengatakan, BEI Lampung mulai membuka komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung serta sejumlah perusahaan lokal terkait pengembangan investasi hijau dan perdagangan karbon.

Bahkan dalam diskusi sebelumnya, sejumlah perusahaan dan pihak pemerintah daerah disebut mulai tertarik membahas potensi pengembangan karbon dan bisnis ramah lingkungan di Lampung.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada perusahaan asal Lampung yang benar-benar masuk kategori green company melalui skema pasar modal.

"Kalau perusahaan melakukan penurunan emisi, tentu itu menjadi hal yang baik. Tidak harus semuanya melalui bursa, karena pengurangan emisi juga bisa dilakukan di luar mekanisme pasar modal,” jelasnya.

Hendi menegaskan, pihaknya akan terus memperluas edukasi pasar modal kepada masyarakat dan mahasiswa agar pertumbuhan investor di Lampung semakin sehat dan berkualitas.

"Kami akan terus menggencarkan edukasi pasar modal agar masyarakat semakin memahami pentingnya investasi yang legal dan terukur,” tandasnya. (*)