• Rabu, 03 Juni 2026

20.534 Anak di Lampung Putus Sekolah Mulai SD, SMP hingga SMA

Rabu, 03 Juni 2026 - 09.31 WIB
16

Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico. Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menyebut sebanyak 20.534 anak di Provinsi Lampung tercatat putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan.

Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico, mengatakan angka anak putus sekolah itu merupakan hasil verifikasi resmi dari data Pusat Data dan Teknologi Informasi atau Pusdatin.

Thomas menjelaskan, jumlah anak putus sekolah di Lampung tersebar di jenjang SD, SMP, hingga SMA. Berdasarkan data Disdikbud Lampung, sebanyak 5.081 siswa putus sekolah di tingkat SD.

Jumlah paling besar terdapat di tingkat SMP, yakni 10.531 siswa. Sementara itu, sebanyak 4.742 siswa tercatat putus sekolah di tingkat SMA.

Thomas menegaskan, tingginya angka putus sekolah di Lampung bukan disebabkan oleh minimnya infrastruktur pendidikan atau kurangnya daya tampung sekolah.

Menurutnya, kapasitas sekolah negeri dan swasta di Lampung masih mencukupi untuk menampung anak-anak usia sekolah. "Daya tampung gabungan antara sekolah negeri dan swasta di Lampung sebenarnya sudah sangat mencukupi, bahkan banyak sekolah swasta yang kekurangan murid," jelas Thomas Amirico dikutip Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Thomas mengatakan, evaluasi di lapangan menunjukkan persoalan utama anak putus sekolah lebih banyak berasal dari faktor nonteknis.

Thomas menyebut, sejumlah faktor memengaruhi anak-anak di Lampung berhenti sekolah. Faktor tersebut antara lain kondisi ekonomi keluarga, persoalan budaya, kenakalan remaja, hingga pengaruh lingkungan sekitar.

Kondisi itu membuat sebagian anak tidak dapat melanjutkan pendidikan meski sekolah masih tersedia.

Menurut Thomas, persoalan putus sekolah tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyediakan bangunan sekolah. Penanganan juga perlu menyasar akar masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi keluarga serta anak-anak di daerah.

Disdikbud Lampung juga menemukan adanya ketimpangan angka kelanjutan sekolah antarwilayah. Kota Bandar Lampung, Pringsewu, dan Metro mencatat angka kelanjutan sekolah yang relatif tinggi. Sebaliknya, sejumlah wilayah seperti Mesuji, Pesawaran, Tanggamus, Lampung Utara, Way Kanan, dan Pesisir Barat terpantau memiliki angka kelanjutan sekolah yang masih rendah.

Thomas menambahkan, kondisi itu menunjukkan perlunya pendekatan berbeda di setiap wilayah. Daerah dengan angka kelanjutan sekolah rendah membutuhkan intervensi yang lebih kuat agar anak-anak kembali mendapat akses pendidikan.

Thomas mengatakan, Disdikbud Lampung telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan angka putus sekolah. Salah satunya dengan membentuk Tim Percepatan untuk membenahi administrasi data di kabupaten dan kota.

Disdikbud Lampung juga mendorong peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM untuk memperkuat program kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.

Selain itu, Disdikbud Lampung menyiapkan program SMA Terbuka yang direncanakan diluncurkan pada Juli 2026. Program tersebut dirancang fleksibel dengan sistem pembelajaran daring dan luring di balai desa.

SMA Terbuka ditujukan bagi anak usia sekolah maupun warga berusia di atas 20 tahun yang memiliki keterbatasan waktu karena harus bekerja.

Dari sisi bantuan pendidikan, pemerintah daerah memastikan Program Indonesia Pintar atau PIP dari pemerintah pusat dikawal agar tepat sasaran.

Disdikbud Lampung juga akan menguji coba program Kelas Cangkok mulai tahun ajaran baru. Program tersebut disiapkan untuk membiayai anak-anak berprestasi agar dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi secara gratis.

Thomas berharap kondisi fiskal daerah ke depan semakin membaik sehingga dukungan beasiswa bisa diperluas.

"Mudah-mudahan ke depan kalau fiskal kita bagus, insya Allah nanti kita akan siapkan beasiswa dan lain-lain untuk bagaimana mendorong anak kita bisa melanjutkan kuliah," imbuhnya. (*)