• Rabu, 03 Juni 2026

Minyak Bumi Meroket Imbas Perang Timur Tengah, Harga Oli Motor di Bandar Lampung Naik 25 Persen

Rabu, 03 Juni 2026 - 16.12 WIB
12

Pemilik Toko Sparepart dan Bengkel Lampung Rezeki Motor, Darwin Winata. Foto: Yudi/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat di Kota Bandar Lampung.

Kenaikan harga minyak bumi dunia yang dipicu ketegangan geopolitik tersebut berimbas pada melonjaknya harga sejumlah produk otomotif, terutama oli dan ban kendaraan bermotor.

Pemilik Toko Sparepart dan Bengkel Lampung Rezeki Motor, Darwin Winata, mengatakan kenaikan harga paling signifikan terjadi pada oli motor yang sejak Mei 2026 terus mengalami penyesuaian harga.

Menurutnya, per 1 Juli 2026 harga oli kembali naik hampir Rp15 ribu per botol. Jika dibandingkan dengan harga sebelum kenaikan, lonjakan tersebut mencapai sekitar 25 persen.

"Yang paling terasa itu oli. Per 1 Juli ini naik lagi hampir Rp15 ribu per botol. Sebelumnya juga sudah naik pada tahap pertama sejak Mei. Jadi total kenaikannya sudah hampir 25 persen," kata Darwin, saat ditemui di bengkelnya di Jalan Hayam Wuruk, Bandar Lampung, Rabu (3/6/2026).

Selain oli, komoditas lain yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah ban motor yang naik hampir Rp10 ribu per item. Sementara kenaikan harga sparepart lainnya masih relatif kecil.

Darwin menjelaskan, gejolak harga mulai terasa sejak Mei 2026 dan berlanjut pada Juni hingga Juli. Ia menilai kenaikan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya harga minyak mentah dunia akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

"Dari semenjak perang Timur Tengah itu mulai terasa. Mei naik tahap pertama, sekarang Juni dan Juli naik lagi. Yang paling tinggi tetap oli," ujarnya.

Meski harga dari distributor sudah naik, saat ini pihaknya masih menjual sebagian produk dengan harga lama karena stok yang tersedia merupakan pembelian sebelum kenaikan.

Namun kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama. Ketika stok baru dengan harga yang lebih mahal masuk, pihaknya memperkirakan akan banyak konsumen yang mengeluhkan kenaikan tersebut.

"Sekarang masih jual harga lama karena stok lama masih ada. Tapi nanti kalau stok baru masuk, saya yakin pembeli pasti banyak yang komplain," katanya.

Untuk menjaga pelanggan tetap bertahan, Darwin mengaku terpaksa mengurangi margin keuntungan usahanya agar kenaikan harga tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.

"Keuntungan saya kurangi untuk mensubsidi ke konsumen. Kalau tidak begitu, harga jualnya bisa lebih tinggi lagi," ucapnya.

Menurut Darwin, dampak kenaikan harga sudah mulai terlihat dari perubahan perilaku konsumen. Sejumlah pelanggan kini memilih beralih ke merek oli yang lebih murah meski kurang populer demi menekan biaya perawatan kendaraan.

"Ada yang sudah mulai beralih ke oli yang lebih murah atau merek yang tidak terlalu terkenal karena harga yang biasa mereka pakai sudah terlalu tinggi," ungkapnya.

Ia berharap kondisi pasar segera kembali stabil agar harga oli dapat turun dan daya beli masyarakat tidak semakin tergerus.

Selain itu, Darwin juga mengkhawatirkan efek domino dari kenaikan harga tersebut. Apalagi sebagian bahan baku pelumas masih bergantung pada impor sehingga sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar dolar Amerika Serikat.

"Kalau terus naik, khawatirnya pembeli berkurang dan omzet ikut turun. Ditambah dolar juga naik, sementara banyak bahan oli yang masih impor," katanya.

Keluhan serupa disampaikan salah satu konsumen bengkel, Ijul, yang sehari-hari menggunakan sepeda motor untuk menunjang usaha air isi ulang. Ia mengaku kenaikan harga oli cukup membebani karena kendaraan yang digunakan harus beroperasi setiap hari.

"Dulu sekitar Rp40 ribu, sekarang sudah terasa jadi Rp70 ribu. Mau tidak mau tetap harus ganti oli karena motor dipakai kerja setiap hari," ujarnya.

Meski demikian, Ijul berharap harga oli dapat kembali normal sehingga biaya operasional usahanya tidak semakin membengkak.

"Semoga bisa normal lagi, karena ini kebutuhan. Motor dipakai terus untuk antar air isi ulang," katanya.

Kenaikan harga oli dan ban menjadi gambaran bagaimana gejolak ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah mulai merembet hingga ke sektor usaha kecil dan masyarakat di daerah.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, pelaku usaha otomotif khawatir dampaknya tidak hanya menekan keuntungan, tetapi juga mengurangi daya beli konsumen dan memperlambat perputaran ekonomi di tingkat lokal. (*)