APBN Regional Lampung Defisit Rp6 Triliun, Penerimaan Negara Baru 28,56 Persen
Kepala Kanwil DJPb Lampung, Purwadhi Adhiputranto. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar
Lampung - Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb)
Provinsi Lampung mencatat, hingga akhir April 2026, APBN Regional Lampung
mengalami defisit sebesar Rp6,080 triliun.
Kepala Kanwil DJPb
Lampung, Purwadhi Adhiputranto menyebut, defisit ini tetap dikelola secara
terukur sebagai bagian dari strategi fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan
ekonomi dan melindungi masyarakat dari dampak ketidakpastian global.
Meski demikian
menurutnya, kinerja APBN Regional Lampung hingga 30 April 2026 menunjukkan tren
yang tetap positif. Pendapatan negara terealisasi sebesar Rp3,825 triliun atau
28,56 persen dari target, tumbuh 5,19 persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut
terutama ditopang oleh pajak dalam negeri yang mencapai Rp2,518 triliun dan
tumbuh 26,04 persen (yoy).
“Kinerja penerimaan
yang baik didorong oleh sektor industri pengolahan serta perdagangan besar yang
masih tumbuh kuat,” ungkap dia dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Sementara itu, lanjut
Purwadhi, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp9,905 triliun atau 35,56
persen dari pagu, tumbuh 0,67 persen (yoy).
Pertumbuhan didorong
oleh belanja pemerintah pusat yang tumbuh 33,65 persen (yoy) senilai Rp2,850
triliun, didukung percepatan belanja pegawai, belanja barang, dan belanja
modal.
“Di sisi lain,
transfer ke daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp7,055 triliun, mengalami
kontraksi -8,45 persen (yoy) seiring penyesuaian kebijakan belanja pemerintah,”
bebernya.
Di samping itu
Purwadhi juga menyampaikan, perekonomian Lampung pada triwulan I 2026 tumbuh
5,58 persen (yoy), menjadi pertumbuhan tertinggi kedua di Sumatera.
Pertumbuhan tersebut
ditopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 64,05 persen terhadap PDRB
dan mencatatkan pertumbuhan 5,54 persen (yoy), sementara investasi yang
tercermin dari PMTB juga tumbuh 4,39 persen (yoy).
Di sisi
kesejahteraan, tingkat pengangguran terbuka Februari 2026 turun menjadi 3,95
persen (turun 0,12 persen dari Februari 2025).
“Tantangan
ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik, tingginya biaya logistik
dan fluktuasi harga komoditas masih terus harus dihadapi Provinsi Lampung.
Meskipun demikian, perekonomian Lampung tetap menunjukkan kinerja yang
terjaga,” katanya. (*)
Berita Lainnya
-
Pemprov Lampung Ambil Alih Penanganan SMA Siger, 102 Siswa Dipindahkan ke Enam Sekolah
Kamis, 04 Juni 2026 -
Soal Dugaan Jual Beli Titik SPPG, Ini Kata Ketua Satgas MBG Lampung
Kamis, 04 Juni 2026 -
20.354 Siswa Putus Sekolah, Pemprov Lampung Telusuri Penyebabnya
Kamis, 04 Juni 2026 -
Benny Karya Limantara: Korupsi BGN Pengkhianatan Terhadap Cita-cita Keadilan Sosial
Kamis, 04 Juni 2026








