Dari Dapur Sederhana ke Pasar Dunia, Kisah Kopi Kuda yang Menolak Tenggelam oleh Zaman
Kopi Kuda Cahaya Lampung hadir di Gebyar IKM, GSG Bumi Sai Wawai Metro Pusat, Kamis (11/6/2026). Foto: Arby/kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro – Aroma kopi yang menguar dari
sebuah pabrik di Jalan Mengkudu, Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat,
seakan menyimpan kisah panjang tentang kerja keras, ketekunan, dan kecintaan
terhadap cita rasa lokal.
Di balik setiap cangkir yang dinikmati masyarakat,
tersimpan perjalanan panjang sebuah usaha keluarga yang berhasil bertahan
melintasi zaman. Itulah kisah Kopi Kuda Cahaya Lampung, salah satu merek kopi
legendaris yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Metro.
Berawal sekitar tahun 1972, usaha ini dirintis oleh
keluarga keturunan Tionghoa sebagai industri rumahan sederhana yang mengolah
biji kopi Robusta Lampung secara tradisional. Saat itu, produksi dilakukan
dengan peralatan sederhana dan pemasaran hanya menjangkau lingkungan sekitar.
Namun siapa sangka, dari dapur kecil itulah lahir sebuah merek yang kelak
dikenal luas oleh masyarakat Lampung hingga luar negeri, bernama Kopi Kuda.
Di tengah perkembangan zaman, para pendiri usaha ini
tetap memegang teguh prinsip menjaga kualitas. Biji kopi pilihan diproses
dengan penuh ketelitian agar menghasilkan rasa khas yang berbeda dari produk
lainnya. Komitmen tersebut perlahan membangun kepercayaan pelanggan dari
generasi ke generasi.
Seiring berjalannya waktu, nama Kopi Kuda semakin
melekat di hati masyarakat. Produk ini tidak hanya menjadi minuman favorit,
tetapi juga menjelma sebagai oleh-oleh wajib bagi siapa saja yang berkunjung ke
Kota Metro. Banyak perantau yang menjadikan kopi tersebut sebagai pengobat
rindu kampung halaman.
Perjalanan usaha yang telah berlangsung lebih dari
setengah abad tentu tidak selalu berjalan mulus. Perubahan pasar, persaingan
industri, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi tantangan yang
harus dihadapi. Namun justru dari berbagai ujian itulah usaha keluarga ini terus
berbenah dan beradaptasi.
Kini tongkat estafet usaha berada di tangan generasi
ketiga. Adalah Siti Halimah, atau yang akrab disapa Cen-cen (50), yang
melanjutkan perjuangan para pendahulunya. Di bawah kepemimpinannya, produk
legendaris tersebut hadir dengan identitas baru bernama Kopi Kuda Cahaya
Lampung, yang mulai diperkenalkan sejak tahun 2017.
Meski telah mengadopsi sistem manajemen yang lebih
modern, Cen-cen tetap mempertahankan resep dan karakter rasa yang telah
diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Baginya, menjaga cita rasa adalah
bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang yang telah dibangun oleh generasi
sebelumnya.
Cen-cen menceritakan bahwa perkembangan usaha yang
dijalankannya saat ini tidak lepas dari loyalitas para pelanggan yang terus
memberikan kepercayaan. Dari waktu ke waktu, jangkauan pemasaran semakin luas dan
permintaan terus bertambah.
"Selain di Lampung, kami juga pernah menerima
pesanan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Terakhir pada
awal tahun kemarin, kami mendapatkan orderan dari negara Tiongkok," ujar
Cen-cen kepada Kupastuntas.co, Kamis (11/6/2026).
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa produk UMKM
daerah mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Di saat banyak produk lokal
berjuang mencari tempat di tengah gempuran merek besar, Kopi Kuda Cahaya
Lampung justru berhasil mempertahankan eksistensinya berkat kualitas yang
konsisten.
Saat ini, produk kopi tersebut mudah ditemukan di
berbagai pusat perbelanjaan, supermarket, hingga toko oleh-oleh di Metro dan
sejumlah daerah lainnya. Kehadirannya tidak hanya memperkuat sektor ekonomi
lokal, tetapi juga menjadi wajah Kota Metro yang dikenal oleh para wisatawan.
Bagi pecinta kopi, nama Kopi Kuda sudah identik
dengan rasa khas kopi Lampung. Varian Robusta dan Arabika yang ditawarkan
memiliki karakter kuat, namun tetap nyaman di lidah. Tidak heran jika produk
ini memiliki pelanggan setia dari berbagai kalangan.
Salah seorang pengunjung, Hilmi M. Farras, mengaku
selalu merekomendasikan produk tersebut kepada kerabat dan temannya yang datang
ke Metro. Menurutnya, menikmati Kopi Kuda adalah bagian dari pengalaman
mengenal kota yang berjuluk Kota Pendidikan itu.
"Kalau ke Metro harus coba Kopi Kuda. Enak dan
rekomendasi. Ini kopinya orang Metro, rasanya jos dan bikin melek,"' kata
Hilmi saat mencoba menikmati kopi kuda di Stand gelaran Gebyar IKM, GSG Bumi
Sai Wawai Metro Pusat.
Hal senada disampaikan pecinta kopi asal Metro, Eman
Surahman. Ia menilai cita rasa Kopi Kuda memiliki karakter yang sulit ditemukan
pada produk lain. Menurutnya, kopi tersebut tetap nikmat meskipun diminum tanpa
banyak tambahan gula.
"Enak dan pas di lidah, serta tidak bikin mual.
Yang enak justru tanpa gula atau dengan gula sedikit saja," ungkap Eman.
Kisah Kopi Kuda Cahaya Lampung adalah bukti bahwa
usaha kecil yang dibangun dengan kesungguhan dapat tumbuh menjadi kebanggaan
daerah. Dari pengolahan tradisional di rumah sederhana hingga menerima pesanan
dari luar negeri, perjalanan merek ini mengajarkan bahwa ketekunan, keberanian
menjaga kualitas, dan kemampuan beradaptasi adalah kunci bertahan di tengah
perubahan zaman.
Bagi Kota Metro, Kopi Kuda bukan sekadar produk
minuman, melainkan simbol warisan, kerja keras, dan harapan bahwa UMKM lokal
mampu bersinar hingga ke panggung dunia. (*)
Berita Lainnya
-
Produk Lokal Metro dari Tahu hingga Tapis Dipamerkan dalam Gebyar IKM 2026
Kamis, 11 Juni 2026 -
Ratusan Mahasiswa di Metro Belajar Peluang Ekonomi Lewat Lelang Amal
Rabu, 10 Juni 2026 -
Dikritik soal Jalan Rusak, Wakil Walikota Metro Hanya Minta Maaf
Selasa, 09 Juni 2026 -
HUT ke-89 Metro, Tokoh Masyarakat Kritik Jalan Rusak hingga Kondisi Ekonomi
Selasa, 09 Juni 2026








