Literasi Keuangan Lampung Masih 66,46 Persen, Wagub Minta TPAKD Perluas Jangkauan
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela menyampaikan sambutan pada Rapat Pleno Pelaksanaan Program Kerja TPAKD Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung Semester I Tahun 2026 di Gedung Pusiban, Kantor Gubernur Lampung, Kamis (11/6/2026). Foto: Ist.
Kupastuntas.co, Bandar
Lampung - Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Jihan Nurlela, meminta Tim Percepatan
Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di seluruh kabupaten/kota agar menjalankan
program yang benar-benar berdampak bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi
target kegiatan atau bersifat seremonial.
Hal itu disampaikan Jihan
saat menghadiri Rapat Pleno Pelaksanaan Program Kerja TPAKD Kabupaten/Kota
se-Provinsi Lampung Semester I Tahun 2026 di Gedung Pusiban, Kantor Gubernur
Lampung, Kamis (11/6/2026).
Menurut Jihan, keberhasilan
TPAKD tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari hasil
yang dirasakan masyarakat, seperti penurunan angka kemiskinan, berkurangnya
pengangguran, serta meningkatnya kapasitas UMKM.
"Fokus utama TPAKD
adalah outcome. Jangan hanya melaksanakan program sebagai seremonial atau
sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi benar-benar berpatokan pada hasil yang
ingin dicapai untuk masyarakat," tegasnya.
Jihan mengatakan,
percepatan peningkatan literasi dan inklusi keuangan masih menjadi pekerjaan
rumah yang harus diselesaikan bersama. Berdasarkan data tahun 2025, tingkat
inklusi keuangan di Lampung telah mencapai 80,51 persen, sementara tingkat
literasi keuangan masih berada di angka 66,46 persen.
Menurutnya, TPAKD perlu
melakukan berbagai inovasi agar akses layanan dan edukasi keuangan dapat
menjangkau masyarakat hingga ke pelosok daerah.
"Akses pelayanan
keuangan merupakan faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang
inklusif dan berkelanjutan. TPAKD menjadi wadah sinergi antara pemerintah
daerah, OJK, industri jasa keuangan, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku
kepentingan lainnya," kata Jihan.
Ia juga mendorong
penguatan sejumlah program strategis, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR),
program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), pengembangan ekosistem pondok
pesantren inklusif keuangan syariah, program Desa Perkasa, serta perluasan
akses pembiayaan bagi sektor unggulan daerah, perhutanan sosial, dan
peternakan.
Sementara itu, Kepala
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, melaporkan bahwa
sepanjang 2025 hingga Maret 2026, TPAKD telah melaksanakan 42 kegiatan literasi
dan inklusi keuangan yang menjangkau hampir 12.500 peserta di 14
kabupaten/kota.
Selain itu, TPAKD juga
menyelenggarakan 25 kegiatan business matching, dengan sekitar 60 persen
kegiatan difokuskan untuk mendukung pelaku UMKM, perempuan, pelajar, dan
masyarakat umum.
Otto menjelaskan, program
TPAKD turut diselaraskan dengan program unggulan Pemerintah Provinsi Lampung,
yakni Desaku Maju yang dipadukan dengan Desa Perkasa untuk membangun ekosistem
ekonomi desa yang terintegrasi, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, desa
wisata hingga industri kreatif.
Pada 2026, TPAKD
menetapkan tiga program prioritas, yaitu Agrifuture Lampung untuk meningkatkan
minat generasi muda di sektor pertanian, program hilirisasi kakao di Kabupaten
Pesawaran guna meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah, serta Siger
Preneur Lampung yang difokuskan pada pengembangan wirausaha muda.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah,
OJK, industri jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan, Pemerintah
Provinsi Lampung berharap program TPAKD dapat semakin efektif dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat perekonomian daerah, serta
mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Lampung. (*)
Berita Lainnya
-
12.206 Siswa Lulus Seleksi Masuk SMA Unggul di Lampung
Kamis, 11 Juni 2026 -
Nahkodai Hipmi 2026-2029, Ade Jona Serukan Persatuan Bangun Ekonomi Nasional
Kamis, 11 Juni 2026 -
Menko Pangan Ungkap Dugaan Jual Beli Titik 13 Ribu Dapur MBG
Kamis, 11 Juni 2026 -
815 Pegawai Imigrasi dan Pemasyarakatan Lakukan Pelanggaran, 90 Dipecat
Kamis, 11 Juni 2026








