Ngejenang, Tradisi Gotong Royong Masyarakat Jawa di Tanggamus yang Bertahan di Era Modern
Ngejenang, tradisi gotong royong masyarakat Jawa di Tanggamus yang bertahan di era modern. Foto: Sayuti/kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Tanggamus
– Kepulan asap tipis membumbung dari tungku kayu bakar di halaman rumah
warga, RT 002 RW 003, Pekon Talang Rejo, Kecamatan Kotaagung Timur,
Kabupaten Tanggamus, Jumat (12/6/2026).
Di atas tungku, sebuah
kuali besar berisi adonan jenang terus diaduk perlahan menggunakan pengaduk
kayu panjang. Sejumlah warga bergantian mengerjakan tugas yang membutuhkan
tenaga dan kesabaran itu. Keringat yang membasahi wajah mereka tak mengurangi
semangat. Tawa, candaan, dan obrolan hangat mengiringi proses memasak yang
telah berlangsung selama berjam-jam.
Pemandangan tersebut
merupakan bagian dari tradisi ngejenang, sebuah warisan budaya masyarakat Jawa
yang hingga kini masih bertahan di Pekon Talang Rejo.
Bagi sebagian orang,
ngejenang mungkin hanya dianggap sebagai kegiatan memasak jenang menjelang
hajatan. Namun bagi warga setempat, tradisi itu memiliki makna yang jauh lebih
dalam. Ngejenang menjadi ruang silaturahmi, wadah gotong royong, sekaligus
sarana menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Tradisi tersebut digelar
sebagai bagian dari rangkaian acara hajatan salah satu warga setempat. Sejak pagi, warga berdatangan tanpa undangan resmi. Ada yang
membantu menyiapkan bahan, mengurus kayu bakar, menata peralatan, hingga
bergantian mengaduk jenang.
Tidak ada upah ataupun
imbalan. Semua dilakukan atas dasar kebersamaan dan kesadaran bahwa hajatan
satu keluarga adalah bagian dari kebahagiaan bersama warga kampung.
"Bagi masyarakat
Jawa, tradisi ini sudah ada sejak zaman orang tua dulu. Kalau ada hajatan,
warga berkumpul membantu membuat jenang. Selain untuk kebutuhan acara, ini juga
menjadi ajang mempererat persaudaraan," ujar Kasmin, salah seorang tokoh
masyarakat setempat.
Menurutnya, jenang
memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan doa, keselamatan, dan harapan baik
bagi keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan.
"Jenang itu simbol
kebersamaan. Proses pembuatannya juga dilakukan bersama-sama. Dari situ kita
diajarkan pentingnya guyub rukun dan saling membantu," katanya.
Pembuatan jenang bukan
pekerjaan yang mudah. Adonan yang terdiri dari santan, tepung, dan gula harus
terus diaduk selama berjam-jam agar menghasilkan tekstur yang sempurna dan
tidak gosong. Karena itulah pekerjaan tersebut dilakukan secara bergantian oleh
warga.
Namun di balik proses
yang melelahkan itu, tumbuh nilai-nilai sosial yang menjadi kekuatan utama
tradisi tersebut. Sambil mengaduk jenang, warga saling bertukar cerita tentang
keluarga, pekerjaan, perkembangan kampung, hingga berbagai isu yang sedang
hangat diperbincangkan.
Anak-anak bermain di
sekitar halaman, sementara para orang tua menikmati suasana kebersamaan yang
kini semakin jarang ditemukan di tengah kehidupan modern.
Sanimin, warga lainnya,
menuturkan bahwa tradisi ngejenang dahulu hampir selalu hadir dalam setiap
hajatan masyarakat Jawa. Namun seiring perkembangan zaman dan semakin mudahnya
akses terhadap jasa katering, tradisi tersebut perlahan mulai berkurang.
"Kalau semua
diserahkan ke jasa katering memang lebih praktis. Tapi yang hilang adalah
kebersamaannya. Tradisi seperti ini yang membuat hubungan antarwarga tetap
dekat," ujarnya.
Menurutnya, nilai utama
dari tradisi ngejenang bukan terletak pada hasil masakannya, melainkan proses
kebersamaan yang terbangun selama kegiatan berlangsung.
"Yang dicari bukan
hanya jenangnya. Yang lebih penting adalah rasa kekeluargaan dan gotong
royongnya. Itu yang tidak bisa digantikan oleh apa pun," kata Sanimin.
Di tengah derasnya arus
modernisasi, tradisi ngejenang menjadi bukti bahwa kemajuan zaman tidak selalu
harus menghapus identitas budaya. Sebaliknya, tradisi sederhana ini justru
menjadi cara masyarakat menjaga akar dan jati dirinya.
Bagi warga Talang Rejo,
setiap adukan jenang bukan sekadar mengolah bahan makanan menjadi hidangan
tradisional. Di dalamnya tersimpan nilai kebersamaan, kepedulian, persaudaraan,
dan semangat gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika jenang akhirnya
matang dan siap disajikan, yang tersaji bukan hanya makanan bercita rasa manis.
Ada cerita tentang warga yang saling membantu tanpa pamrih, tentang budaya yang
tetap dijaga, dan tentang harapan agar warisan leluhur itu terus hidup di
tengah perubahan zaman.
Di Talang Rejo, ngejenang bukan sekadar
tradisi menjelang hajatan. Ia adalah cara masyarakat merawat kebersamaan dan
menjaga api gotong royong agar tetap menyala dari satu generasi ke generasi
berikutnya. (*)
Berita Lainnya
-
Wanita Lansia di Tanggamus Tewas Tercebur Sumur Sedalam 16 Meter
Rabu, 10 Juni 2026 -
Diberhentikan Plt Ketua Partai Golkar Tanggamus, 13 Pimpinan Kecamatan Bersurat ke DPP
Rabu, 10 Juni 2026 -
Jemaah Haji Asal Gisting Tanggamus Wafat di Makkah
Rabu, 03 Juni 2026 -
Polisi Tangkap 5 Pemburu Rusa Dilindungi di Tanggamus
Kamis, 28 Mei 2026








