Antrean Solar di SPBU Kian Parah, DPRD Lampung Bakal Panggil Pertamina
Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Budi Yuhanda saat diwawancarai, Sabtu (27/6/2026). Foto: Sandika/kupastuntas.co
Kupastuntas.co,
Bandar Lampung – Antrean panjang
kendaraan untuk mendapatkan solar subsidi kembali terjadi di sejumlah Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Lampung. Menyikapi kondisi
tersebut, Komisi IV DPRD Lampung berencana memanggil PT Pertamina guna meminta
penjelasan terkait penyebab terganggunya distribusi BBM bersubsidi tersebut.
Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Budi Yuhanda,
mengatakan antrean solar kini bukan lagi sekadar isu, melainkan persoalan nyata
yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.
"Kita prihatin dengan kondisi saat ini.
Ini sudah bukan lagi rumor, tetapi fakta yang terjadi di hampir semua daerah.
Bahkan kita sendiri terkena imbasnya saat membeli BBM karena harus mengantre
panjang bersama kendaraan-kendaraan besar," kata Budi, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, antrean tidak hanya terjadi di
SPBU yang berada di jalur utama, tetapi juga mulai terlihat di sejumlah rest
area jalan tol. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas masyarakat,
terutama pengemudi angkutan barang dan kendaraan yang bergantung pada solar
subsidi.
Karena itu, Komisi IV DPRD Lampung akan
meminta klarifikasi dari Pertamina terkait penyebab antrean yang terus
berulang.
"Kami berharap bisa memanggil Pertamina
ke Komisi IV agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sejumlah SPBU di
Provinsi Lampung. Dengan begitu, kami bisa mendorong perbaikan, terutama pada
aspek distribusi BBM agar berjalan sesuai jadwal dan peruntukannya,"
ujarnya.
Selain distribusi, Budi juga menilai sistem
informasi mengenai ketersediaan stok BBM di SPBU perlu diperbaiki. Menurutnya,
masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas agar tidak menghabiskan waktu
mengantre ketika stok solar telah habis.
"Harusnya ada sistem informasi yang
jelas. Misalnya diumumkan berapa stok yang tersedia. Jangan sampai masyarakat
mengantre panjang sampai berjam-jam, bahkan sampai keesokan harinya, padahal
stok sudah habis," tegasnya.
Ia menambahkan, Pertamina perlu melakukan
berbagai langkah antisipasi, mulai dari memperbaiki distribusi hingga
menyediakan informasi stok yang mudah diakses masyarakat.
Budi juga mengingatkan bahwa kelangkaan solar
tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan, tetapi berpotensi mengganggu
distribusi logistik dan memicu kenaikan biaya transportasi yang pada akhirnya
berimbas pada harga kebutuhan pokok.
"Ini pasti berdampak ke banyak sektor,
terutama transportasi dan distribusi barang. Jika pasokan terhambat, biaya
logistik meningkat dan pada akhirnya masyarakat di lapisan bawah yang paling
merasakan dampaknya karena harga barang menjadi lebih mahal," jelasnya.
DPRD Lampung, lanjut Budi, akan mendalami
persoalan tersebut bersama pihak terkait untuk mencari solusi agar antrean
solar subsidi tidak terus berulang.
"Kami akan memanggil pihak terkait untuk
mengetahui akar persoalannya dan mencari solusi yang tepat bagi masyarakat
Lampung," tutupnya. (*)
Berita Lainnya
-
Gubernur Lampung bersama 5 Tokoh Adat Sai Batin Bahas Penguatan Kebudayaan
Sabtu, 27 Juni 2026 -
3.600 Karateka dari 87 Kontingen Ramaikan Piala Presiden 2026 di Lampung
Sabtu, 27 Juni 2026 -
Jokowi di Rakorda PSI Bandar Lampung: Target Bukan Sekadar Lolos ke Senayan
Sabtu, 27 Juni 2026 -
Puluhan Massa Tolak Jokowi di Lampung, Soroti Isu HAM hingga Hukum
Sabtu, 27 Juni 2026








