Hiswana Migas Usul Stok Solar Subsidi Ditambah untuk Akhiri Antrean
Wakil Ketua Hiswana Migas Lampung, Donny Irawan. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar
Lampung - Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar subsidi kembali
terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Lampung.
Bahkan, sejumlah sopir mengaku harus mengantre hingga berjam-jam dan bermalam
demi mendapatkan BBM bersubsidi.
Menanggapi kondisi
tersebut, Wakil Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana
Migas) Lampung,
Donny Irawan, menilai persoalan utama bukan hanya ketersediaan pasokan, tetapi
juga kuota distribusi serta perilaku konsumen yang melakukan pembelian
berulang.
Menurut Donny,
pemerintah perlu memastikan kuota BBM subsidi sesuai dengan kebutuhan
masyarakat agar tidak memicu kepanikan (panic buying).
"Yang penting
dari pemerintah itu soal kuota BBM. Kuotanya dibenahi, pasokannya diperbaiki,
lalu pembeli yang mondar-mandir juga harus ditertibkan. Kalau masyarakat yakin
besok masih ada stok, mereka tidak akan panik membeli," kata Donny, Selasa
(30/6/2026) .
Ia menjelaskan,
kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan solar subsidi membuat banyak
konsumen memilih mengisi BBM setiap kali ada kesempatan. Kondisi tersebut
memperparah antrean di SPBU.
Namun, terkait
kondisi stok BBM secara keseluruhan, Donny menegaskan hal itu merupakan
kewenangan Pertamina sehingga Hiswana Migas tidak dapat memberikan keterangan
mengenai jumlah stok yang tersedia.
Menurutnya,
distribusi solar ke setiap SPBU juga berbeda-beda sehingga tidak bisa
disamaratakan.
"Kalau soal stok
dan pembagian ke masing-masing SPBU, itu ranah Pertamina. Setiap SPBU mendapat
alokasi yang berbeda, jadi tidak bisa dibandingkan," ujarnya.
Donny menambahkan,
keterlambatan pengiriman BBM juga menjadi salah satu penyebab antrean panjang.
Keterlambatan itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kapal pengangkut yang
belum bersandar hingga antrean mobil tangki di depo.
Di sisi lain, SPBU
juga tidak memiliki cadangan (buffer stock) yang cukup ketika pasokan terlambat
datang.
"Kalau SPBU
punya buffer stock, saat mobil tangki terlambat datang masih ada cadangan.
Sekarang itu yang menjadi persoalan, sehingga stok cepat habis dan masyarakat
khawatir," jelasnya.
Ia menilai solusi
mengatasi antrean solar subsidi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari
penambahan dan kepastian pasokan, penertiban konsumen yang membeli berulang
kali dalam sehari, hingga pengawasan aparat terhadap penyaluran BBM subsidi
agar tepat sasaran.
"Selain stok dan
perilaku konsumen juga menjadi catatan. Aparat juga perlu ikut merapikan agar
pembelian BBM subsidi benar-benar sesuai peruntukannya," terangnya.
Donny menegaskan,
SPBU tidak memungkinkan menyimpan stok solar subsidi dalam jumlah besar karena
pasokan BBM langsung mengalir melalui sistem distribusi. Menurutnya, persoalan
BBM subsidi memang cukup kompleks sehingga diperlukan kebijakan yang tepat dari
pemerintah.
Ia juga mengusulkan
agar pemerintah mempertimbangkan penyesuaian kebijakan subsidi dengan
memastikan ketersediaan pasokan.
"Kami usul BBM
subsidi dinaikkan, tetapi stoknya dicukupkan. Jangan sampai subsidi tidak naik,
tapi stoknya tidak ada," tutupnya. (*)
Berita Lainnya
-
Jaksa Telusuri Aset Atas Nama Nanda Indira di Sidang Korupsi SPAM Pesawaran
Selasa, 30 Juni 2026 -
Enam Debt Collector Jadi Tersangka Perampasan Mobil, Salah Satunya Pensiunan Polisi
Selasa, 30 Juni 2026 -
Stok Nasional Tembus 5,1 Juta Ton, Mentan Amran Tawarkan Ekspor 10 Ribu Ton Beras ke Singapura,
Selasa, 30 Juni 2026 -
Mentan Amran Kumpulkan Rektor Perguruan Tinggi Lingkup Indonesia Timur, Perkuat Inovasi Pertanian
Selasa, 30 Juni 2026








