• Selasa, 30 Juni 2026

Hiswana Migas Usul Stok Solar Subsidi Ditambah untuk Akhiri Antrean

Selasa, 30 Juni 2026 - 17.24 WIB
17

Wakil Ketua Hiswana Migas Lampung, Donny Irawan. Foto: Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar subsidi kembali terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Lampung. Bahkan, sejumlah sopir mengaku harus mengantre hingga berjam-jam dan bermalam demi mendapatkan BBM bersubsidi.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Lampung, Donny Irawan, menilai persoalan utama bukan hanya ketersediaan pasokan, tetapi juga kuota distribusi serta perilaku konsumen yang melakukan pembelian berulang.

Menurut Donny, pemerintah perlu memastikan kuota BBM subsidi sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar tidak memicu kepanikan (panic buying).

"Yang penting dari pemerintah itu soal kuota BBM. Kuotanya dibenahi, pasokannya diperbaiki, lalu pembeli yang mondar-mandir juga harus ditertibkan. Kalau masyarakat yakin besok masih ada stok, mereka tidak akan panik membeli," kata Donny, Selasa (30/6/2026) .

Ia menjelaskan, kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan solar subsidi membuat banyak konsumen memilih mengisi BBM setiap kali ada kesempatan. Kondisi tersebut memperparah antrean di SPBU.

Namun, terkait kondisi stok BBM secara keseluruhan, Donny menegaskan hal itu merupakan kewenangan Pertamina sehingga Hiswana Migas tidak dapat memberikan keterangan mengenai jumlah stok yang tersedia.

Menurutnya, distribusi solar ke setiap SPBU juga berbeda-beda sehingga tidak bisa disamaratakan.

"Kalau soal stok dan pembagian ke masing-masing SPBU, itu ranah Pertamina. Setiap SPBU mendapat alokasi yang berbeda, jadi tidak bisa dibandingkan," ujarnya.

Donny menambahkan, keterlambatan pengiriman BBM juga menjadi salah satu penyebab antrean panjang. Keterlambatan itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kapal pengangkut yang belum bersandar hingga antrean mobil tangki di depo.

Di sisi lain, SPBU juga tidak memiliki cadangan (buffer stock) yang cukup ketika pasokan terlambat datang.

"Kalau SPBU punya buffer stock, saat mobil tangki terlambat datang masih ada cadangan. Sekarang itu yang menjadi persoalan, sehingga stok cepat habis dan masyarakat khawatir," jelasnya.

Ia menilai solusi mengatasi antrean solar subsidi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penambahan dan kepastian pasokan, penertiban konsumen yang membeli berulang kali dalam sehari, hingga pengawasan aparat terhadap penyaluran BBM subsidi agar tepat sasaran.

"Selain stok dan perilaku konsumen juga menjadi catatan. Aparat juga perlu ikut merapikan agar pembelian BBM subsidi benar-benar sesuai peruntukannya," terangnya.

Donny menegaskan, SPBU tidak memungkinkan menyimpan stok solar subsidi dalam jumlah besar karena pasokan BBM langsung mengalir melalui sistem distribusi. Menurutnya, persoalan BBM subsidi memang cukup kompleks sehingga diperlukan kebijakan yang tepat dari pemerintah.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penyesuaian kebijakan subsidi dengan memastikan ketersediaan pasokan.

"Kami usul BBM subsidi dinaikkan, tetapi stoknya dicukupkan. Jangan sampai subsidi tidak naik, tapi stoknya tidak ada," tutupnya. (*)