• Selasa, 30 Juni 2026

Proyek Panas Bumi PT Star Energy di Lambar Dikeluhkan, Debu dan Jalan Rusak

Selasa, 30 Juni 2026 - 10.12 WIB
66

Proyek Panas Bumi PT Star Energy di Lambar Dikeluhkan, Debu dan Jalan Rusak. Foto: Istimewa

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Sejumlah warga di Kecamatan Way Tenong dan Air Hitam, Lampung Barat, mengeluhkan dampak aktivitas proyek panas bumi yang dikerjakan PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS), anak perusahaan Barito Renewables (BREN).

Keluhan warga terutama berkaitan dengan pencemaran debu yang dinilai semakin parah serta kerusakan infrastruktur jalan yang diduga dipicu oleh tingginya mobilitas kendaraan berat proyek.

Keluhan tersebut disampaikan warga yang bermukim di sejumlah pekon yang menjadi jalur utama kendaraan proyek, di antaranya Pekon Mutaralam, Fajar Bulan, Semarang Jaya, dan Srimenanti.

Menurut warga, sejak aktivitas pengangkutan material dan alat berat semakin intensif, kondisi lingkungan permukiman berubah drastis.

Debu beterbangan hampir sepanjang hari dan masuk ke dalam rumah warga, sementara kondisi jalan yang dilalui kendaraan berat terus mengalami penurunan kualitas.

Kondisi tersebut menjadi sorotan setelah beredar sejumlah video yang diterima Kupastuntas.co. Dalam video itu, warga memperlihatkan bagian dalam rumah yang dipenuhi lapisan debu halus.

Debu tampak menempel di lantai, perabot rumah tangga, hingga barang dagangan di warung milik warga yang berada tepat di tepi jalan lintasan kendaraan proyek.

Dalam rekaman video tersebut, seorang warga menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi yang dialami masyarakat.

Warga menilai hingga kini belum terlihat adanya penanganan yang memadai dari pihak perusahaan untuk mengurangi dampak debu yang setiap hari mereka rasakan.

"Ini posisi rumah warga, imbas dari debu setiap hari. Debunya di setiap rumah seperti ini buktinya. Tidak ada penanganan sama sekali dari PT Star Energy. Warung-warung di depan kena semua debu. Tidak ada komitmen dari PT Star Energy," ujar seorang warga dalam rekaman video tersebut.

Video lain juga memperlihatkan kendaraan proyek berukuran besar melintas di depan permukiman warga. Saat kendaraan melintas, kepulan debu langsung membumbung tinggi hingga menutupi badan jalan dan area sekitar rumah. Kondisi itu disebut terjadi hampir setiap hari sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.

Dalam video tersebut, warga kembali mempertanyakan langkah perusahaan dalam mengatasi persoalan itu. "Ini kondisi debunya, baru satu unit yang masuk. Bagaimana penanganannya, PT Star Energy?" ucap warga sambil merekam kendaraan yang melintas.

Masyarakat mengaku kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan.

Debu yang beterbangan setiap hari dikhawatirkan dapat memicu gangguan saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Selain persoalan debu, warga juga mengeluhkan kerusakan jalan yang diduga akibat tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintas.

Jalan yang sebelumnya menjadi akses utama masyarakat untuk bekerja, mengangkut hasil pertanian, hingga menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan kini mulai mengalami kerusakan di sejumlah titik.

Selain itu, permukaan jalan terlihat mengalami deformasi yang cukup parah. Bagian kiri dan kanan badan jalan tampak membentuk alur atau rel akibat tekanan kendaraan berat yang terus melintas.

Kondisi tersebut dinilai dapat membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor saat hujan karena jalan menjadi licin dan dipenuhi genangan air.

Warga berharap perusahaan tidak hanya berfokus pada pelaksanaan proyek, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan terhadap masyarakat sekitar. Mereka meminta adanya langkah nyata, seperti penyiraman jalan secara rutin untuk menekan debu, perbaikan jalan yang rusak, serta pengawasan terhadap kendaraan proyek agar tidak melebihi kapasitas muatan.

Sejumlah warga juga berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Menurut mereka, kondisi di lapangan perlu dilihat secara langsung agar penanganan dapat dilakukan secara objektif dan tidak hanya berdasarkan laporan dari salah satu pihak.

Selain itu, masyarakat meminta instansi terkait melakukan evaluasi terhadap dampak aktivitas proyek. Pengawasan dinilai penting untuk memastikan seluruh kegiatan operasional perusahaan tetap memenuhi ketentuan pengelolaan lingkungan serta tidak merugikan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan proyek.

Hingga berita ini disusun, Kupas Tuntas belum memperoleh keterangan resmi dari pihak PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) mengenai keluhan warga terkait pencemaran debu maupun kerusakan jalan. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak perusahaan untuk memperoleh konfirmasi.

Masyarakat berharap keluhan yang mereka sampaikan segera mendapat perhatian serius dari perusahaan maupun pemerintah.

Mereka menilai proyek strategis yang bertujuan mendukung pengembangan energi baru terbarukan tetap harus dijalankan dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan warga, serta menjaga kualitas lingkungan dan infrastruktur di wilayah yang terdampak langsung. (*)