Beranda Internasional

Pecah Rekor: 77 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Jepang

54
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
https://www.kupastuntas.co/files/6-57.jpg
Sejumlah warga Tokyo di kawasan Ginza memakai payung untuk meredam efek panas. Sumber: bbc.com

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Gelombang panas di Jepang mencapai rekor pada Senin (23/07/2018), tatkala suhu mencapai 41,1 derajat celsius di Kumagaya, sekitar 86 kilometer dari Tokyo.

Temperatur tersebut memecahkan rekor lima tahun sebelumnya, yaitu 41,0 derajat Celsius pada Agustus 2013 di Shimanto, Prefektur Kochi.

Khusus di Tokyo, suhu 40,8 derajat Celsius juga memecahkan rekor lokal.

Akibat gelombang panas ini, sebanyak 77 orang telah meninggal dunia dan 30.000 orang harus dirawat di rumah sakit, berdasarkan perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Jepang dan kantor berita Kyodo sejak 9 Juli hingga Minggu (22/7).

BACA: Ini Isi Kesepakatan Batas Waktu Hiburan Malam di Tuba dan Tubaba

BACA: Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018: Warga Bisa Lihat Planet Mars

Pada Senin (23/7) saja, sedikitnya sembilan orang meninggal dunia. Beberapa orang di antara mereka adalah warga lanjut usia yang berusia antara 72 hingga 95 tahun.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan, mengimbau masyarakat dan pelajar untuk bersikap waspada dan menghindari kegiatan di luar ruangan.

Imbauan ini dikemukakan setelah seorang pelajar berusia enam tahun di Prefektur Aichi meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan belajar di luar kelas, pada Selasa (17/7).

Kemudian, sejumlah siswa SMA di Shimonoseki, Prefektur Yamaguchi, mengalami gejala kejang akibat terpapar sengatan matahari sehingga harus dibawa ke rumah sakit.

Gelombang panas juga memecahkan rekor lainnya.

Pada Minggu (22/7), Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo telah mengerahkan ambulans sebanyak 3.125 kali—jumlah terbanyak dalam sehari sejak dinas tersebut memulai layanan darurat pada 1936 lampau. Sebagian besar warga yang memerlukan ambulans terdampak gelombang panas.

Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengatakan gelombang panas yang melanda Jepang akhir-akhir ini menyebabkan masyarakat “persis seperti hidup di sauna”.

BACA: Saksikan Gerhana Bulan Total 27-28 Juli 2018 dari Institut Teknologi Sumatera

BACA: Rokok Elektrik ‘Vape’ Dikenai Cukai, Begini Kata YPKP Indonesia

Agar korban tidak semakin banyak berjatuhan, Badan Meteorologi Jepang mengimbau masyarakat untuk minum air lebih sering dan waspada terhadap gelombang panas.

Badan tersebut memperkirakan situasi ini masih akan berlanjut sampai awal Agustus di bagian barat dan timur Jepang.

“Orang-orang di kawasan yang suhunya mencapai 35 derajat atau lebih harus sangat berhati-hati. Walau suhunya rendah, cuaca panas bisa berbaya bagi anak-anak dan orang lanjut usia serta tergantung pada lingkungan dan aktivitas yang Anda lakukan,” sebut Badan Meteorologi sebagaimana dikutip AFP(*)

Sumber: bbc.com

Facebook Comments